180810145030-polis.jpg

Remy Suryadie

Polisi Tangkap Pelaku Persetubuhan dan Penyebaran Video Mesum Anak di Bawah Umur

Halo Polisi

Jumat, 10 Agustus 2018 | 14:50 WIB

Wartawan: Remy Suryadie

DIREKTORAT Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) menangkap FS alias Farid (26) pria pengangguran karena telah melakukan persetubuhan dengan anak di bawah umur yang masih duduk di bangku SMP. tak hanya itu, ia juga dituduh menyebarkan video intimnya.

Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto didampingi Dirkrimum Kombes Pol Umar Surya Fana dan Kabid Humas Kombes Pol Truno Yudho Wisnu Andhiko kepada wartawan, Jumat (10/8/2018) menjelaskan,  kasus tersebut bermula ketika tersangka dan korban GSP (13) yang masih duduk di bangku SMP berkenalan lewat media sosial pada Februari 2018 silam.

Sejak saat itu, mereka berdua kerap berkomunikasi lewat aplikasi whats up. Dalam percakapan Whatsapp pun,  tersangka kerap mengirimkan foto dan video tidak senonoh kepada korban. Hal itu,  bertujuan untuk memancing agar korban mau diajak berhubungan intim.

"Beberapa waktu berselang, korban dan tersangka akhirnya bertemu. Korban kemudian dibawa ke rumah tersangka di kawasan Kecamatan Sukasari Kota Bandung. Di rumah itu, korban dibujuk hingga kemudian bersedia diajak berhubungan intim. Tersangka merekam hubungan intim tersebut dengan ponsel milik tersangka," jelasnya.

Kemudian pada April 2018, lanjut Agung, tersangka kembali mengontak korban. Ketika itu ia kembali mengajak korban berhubungan intim, sekaligus mengancam akan menyebarkan video yang sebelumnya sudah direkam.

Pada Mei 2018, guru di sekolah korban mendengar informasi adanya penyebaran video mesum yang melibatkan salah seorang siswa.

"Guru memanggil orang tua korban, lalu melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, " jelasnya.

Dalam laporan tersebut,  petugas pun menyelidiki hingga akhirnya menemukan keberadaan tersangka dan berhasil menangkapnya tanpa melakukan perlawanan.

"Dari tangan tersangka, petugas menyita dua ponsel milik tersangka serta korban, dokumen kependudukan, sepeda motor, serta pakaian yang dikenakan korban saat kejadian. Untuk kepentingan penyelidikan, koordinasi juga dilakukan dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Jawa Barat, " jelasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman paling singkat lima tahun penjara, serta pasal 27 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman pidana 6 tahun.

"Ancaman yang dikenakan banyak, pasal 81, 82 Undang-Undang Perlindungan Anak. Karena menyebarkan di media sosial, kita juga kenakan Undang-Undang ITE," tegas Agung.

Atas kejadian tersebut,  Agung menghimbau kepada seluruh orang tua untuk meningkatkan pengawasan kepada anak-anak mereka. Begitu pula dengan pihak sekolah yang berperan dalam mendidik siswa.

"Menggunakan media sosial harus bijak, harus selektif, karena dilarang juga susah. Saran kepada sekolah sekali-kali perlu melakukan razia. Jangan sampai ada korban lagi," katanya.

Sementara itu, Farid mengakui, kerap berhubungan intim dengan puluhan perempuan. Namun untuk yang berusia belia, GSP merupakan korban pertama.

"Kalau yang di bawah umur ini yang pertama," katanya.

Ia mengaku kerap menjadi gigolo dan menjajakan jasa seks kepada perempuan. Ia berpromosi dengan membuat akun media sosial. Tidak jarang juga dia menemukan konsumen di pusat-pusat perbelanjaan. Diakuinya, sebagian besar berusia di atas 30 tahun.

"Totalnya sampai sekarang sudah 35 (perempuan yang menjadi konsumen). Biasanya dapat mulai dari Rp100 ribu sampai Rp10 juta," akunya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR