Jemaah Sanabil Haji dan Umrah Napak Tilas Peninggalan Sejarah Rasulullah

Haji

Kamis, 13 Juni 2019 | 10:44 WIB

190613104518-jemaa.jpg

Yeni Siti Apriani

TANAH suci Makkah dan Madinah banyak menyimpan peninggalan sejarah Rasulullah SAW. Para jemaah haji dan umroh biasanya akan diajak untuk berziarah ke tempat-tempat bersejarah tersebut, disela atau selepas menunaikan kewajibannya menjalankan ibadah.

Seperti jemaah umroh PT Sanabil Madinah Barakah yang berangkat pada bulan Mei 2019. Para jemaah pun diajak napak tilas dan berziarah ke sejumlah tempat yang sempat dikunjungi Nabi Muhammad SAW selama berdakwah di dua tanah suci yakni Madinah dan Makkah.

Di Madinah, selain Masjid Nabawi, terdapat sejumlah tempat bersejarah lainnya yang perlu diketahui dan dimaknai oleh umat Islam. Salah satunya yakni, masjid Quba. Berdasarkan penjelasan pembimbing PT Sanabil Madinah Barakah, Ustadz Endang Jaliel Jalili, masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun rasulullah sebelum akhirnya ia membangun masjid nabawi.

"Masjid Quba, adalah masjid pertama yang dibangun berdasarkan ketakwaan rasulullah. Rasul hijrah ke Madinah melewari Jeddah, lewati pesisir gunung dan tibalah di Quba. Sampai di Quba, ia melepaskan unta yang ditunganginya dan unta itu berhenti di lokasi yang kini berdiri masjid Quba," kata Endang.

Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, memberi nama masjid tersebut Quba sesuai dengan nama daerahnya. "Bila kita melaksanakan shalat dua rakaat di masjid Quba, maka pahalanya sama dengan melaksanakan umroh," tandasnya.

Selain masjid Kuba, terdapat pula masjid Jum'ah tempat pertama kalinya Rasulullah melaksanakan salat jum’at di Madinah dan juga masjid Qiblatain. Di samping ziarah ke masjid-masjid, jemaah pun diajak melihat kebun kurma dan juga Jabal Uhud. Bukit Uhud atau "menyendiri" merupakan tempat pertempuran pasukan Muslim melawan kafir Makkah yang kala itu menyerbu Madinah, peristiwa itu pun disebut sebagai perang Uhud.

"Setelah berdakwah di Makkah selama 13 tahun, Rasulullah kemudian berdakwah selama 9 tahun di Madinah untuk meneggakkan kebenaran. Bahkan di Madinah, dakwah yang dilakukan Rasulullah dilakukan secara terang-terangan karena mendapatkan dukungan hampir dari seluruh penduduk Madinah," ujarnya.

Seperti halnya Madinah, di Makkah pun banyak tempat bersejarah yang bisa dimaknai oleh umat Islam. Selain Masjidil Haram, tempat baitullah berada. Di Mekkah ini, terdapat Jabal Tsur, di mana di puncak bukitnya terdapat sebuah gua. Di situlah tempat persembunyian Rasulullah SAW bersama sahabatnya Abu Bakar Ash-Shidiqq ketika dikejar kaum kafir Quraisy dalan perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah.

Kemudian ada pula Padang Arafah tempat jemaah haji berwukuf pada 9 Zulhijah pada musim haji. Padang Arafah itu dipenuhi jutaan umat Islam saat musim haji tiba. Lalu, ada pula Mina yang dipenuhi tenda-tenda, tempat para jemaah haji bermalam. Meski belum masuk musim haji, tenda-tenda itu masih tetap berdiri.

Akhirnya para jemaah pun diajak untuk mendaki di Jabal Rahmah atau bukit kasih sayang. Jabal Rahmah merupakan sebuah bukit tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah sekian lama berpisah setelah diturunkan oleh Allah SWT ke permukaan bumi dari surga.

Selain tempat bersejarah, jemaah pun diajak ke peternakan unta. Namun sayang, saat ke daerah tersebut gerombolan unta tak menampakkan batang hidungnya. Tak lupa pula tempat yang menyimpan cerita dan benda-benda sejarah menjadi tujuan  berikutnya dan penutup dari ziarah di Kota Mekkah.

Dua tempat itu yakni museum kabah yang dikunjungi pada 9 Mei dan Abu Baker Al-Amoundi Museum pada 10 Mei. Museum Kabah atau Haramain ini menyimpan benda-benda dari dua masjid suci yakni Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Itu pun dikuatkan dengan tulisan di depan pintu masuk yang menyambut pengunjung yakni The Exhibition of Two Holy Mosques Architecture (Museum Arsitektur Dua Masjid Suci).

Saat memasuki museum, maket pengembangan masjidil Haram yang didalamnya terdapat kiblatnya umat Islam "kabah" dan masjid Nabawi langsung menyapa pengunjung. Sejumlah foto perkembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dari waktu ke waktu pun terpajang di museum.

Termasuk sumber air zamzam yang awalnya berupa sumur. Berbeda dengan zaman sekarang, air zamzam didapat dengan hanya membuka keran. Zaman dulu, untuk mendapatkan air zamzam tersebut, harus dikerek menggunakan timba layaknya sumur timba di tanah air dahulu kala.

Beragam ember atau timba serta cangkir untuk mengambil air zamzam serta bentuk sumur ini pun tersimpan di museum. Tak hanya itu, kiswah yang membungkus kabah pun tersimpan rapi di museum. Belum lagi sejumlah mushaf quran dan telapak kaki nabi ibrahim.

Sementara itu, di Museum Abu Bakar Al-Amoudi, pengunjung akan disuguhi beragam jenis pedang peninggalan para sahabat dan pejuang Islam. Selain itu, kita juga dikenalkan dengan budaya arab seperti budaya menerima tamu, atau juga pakaian pengantin arab. Di museum ini, pengunjung bisa berfoto baik menggunakan pakaian khas arab, pakaian perang atau pun tampil di depan layar kaca.

Semoga tempat-tempat ziarah yang disinggahi kali ini, dapat memberikan refleksi diri dan wawasan kita soal Islam sekaligus mempertebal keimanan dari suluruh jemaah.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR