180710100909-posti.jpg

dailymail

Jelang Semifinal Piala Dunia

Kroasia Posting Selebrasi Anti-Putin, Warga Rusia Bakal Habis-habisan Dukung Inggris

Fifa World Cup

Selasa, 10 Juli 2018 | 10:06 WIB

Wartawan: Mia Fahrani

Singkirkan tuan rumah Rusia dalam drama adu penalti, Sabtu (6 Juli 2018) lalu di laga perempat final, skuad Kroasia merayakannya dengan berbagai cara. Tapi rupanya apa yang dilakukan asisten pelatih Ognjen Vukojevic (34) dan defender Domagoj Vida (29) dianggap melewati batas. Mereka memosting selebrasi politis anti-Putin yang memicu kemarahan politisi tuan rumah. Jangan heran jika kemudian tuan rumah bakal habis-habisan mendukung The Three Lions.

Dikutip dari DailyMail kemarin, kini Vukojevic tak bisa menyaksikan timnas kebanggaannya berlaga di semifinal melawan Inggris karena namanya resmi dicoret. Bersama Vida, ia mendedikasikan kemenangan Kroasia untuk Ukraina. Seruan “Glory to Ukraine!” dari keduanya kemudian diposting dan menuai reaksi. Selain dikecam politisi Rusia, Komite Disiplin FIFA pun melayangkan teguran.

Ognjen Vukojevic (kanan) saat menenangkan manajer Kroasia Zlatko Dalic.

Domagoj Vida ikut memosting video kontroversial yang sama.

“Glory to Ukraine!” sendiri merupakan slogan revolusi kelompok republik yang dikenal pro-Uni Eropa. Mereka turut menggulingkan presiden Ukraina yang didukung Rusia pada tahun 2014. Revolusi ini dikutuk pihak Moskow sekaligus memicu krisis di antara dua negara tetangga. Hubungan memburuk pasca-aneksasi wilayah Ukraina, semenanjung Krimea oleh Rusia sesuai kebijakan Presiden Vladimir Putin.  

Soal postingan Vida dan Vukojevic, pihak Kroasia merilis pernyataan maaf. Dalam video dimaksud, Vida dan Vukojevic yang sama-sama pernah membela klub Ukraina, Dynamo Kieve memberikan dukungannya pada negara Eropa Timur tersebut. “This victory is for Dynamo and Ukraine,” ujar Vukojevic, yang kemudian diakhiri Vida dengan seruan “Glory to Ukraine!”  

Keberhasilan Kroasia menyingkirkan tuan rumah dibayangi kontroversi politik.

Hingga kini perang di wilayah timur Ukraina telah menelan sedikitnya 10.000 korban jiwa. Kini jelang laga krusial melawan Inggris, tak ingin memperpanjang persoalan, Federasi Sepak Bola menyatakan telah memulangkan Vukojevic. “Kami meminta maaf pada publik Rusia atas apa yang dilakukan delegasi Kroasia.”  

Sementara itu, meski tak menyangkal aksinya, Vukojevic dan Vida mengaku tak bermaksud membawa isu politik ke arena olahraga. Klip keduanya viral setelah stasiun pemerintah menayangkannya. “Aksi-aksi seperti itu sudah sepantasnya mendapat hukuman. Tak ada tempat bagi slogan politik, nasionalisme dan rasis di ajang Piala Dunia,” ujar anggota komite olahraga parlemen Rusia, Dmitry Svishchyov pada kantor berita RIA Novosti.

Hubungan antara Ukraina dan Rusia memanas sejak 2014 menyusul aneksasi atas semenanjung Krimea.

Demonstran pro-Rusia berdiri di balik barikade kawat berduri di Donetsk, Ukraina.                

Menanggapi isu serius ini, striker Kroasia, Mario Mandzukic menyebut kompatriotnya menyesal telah melakukan “selebrasi politik”. “Kami meminta maaf jika ada yang menganggapnya sebagai dukungan untuk Ukraina,” katanya. Di luar itu, kini muncul isu keamanan bagi suporter Kroasia.

Yel-yel anti-Kroasia dilaporkan marak di berbagai sudut Moskow. Warga menyasar para suporter Kroasia yang secara tradisional mendukung Ukraina. Bagi suporter Rusia aroma politik di ajang kompetisi seperti di Piala Dunia bukan yang pertama. Saat perang Serbia dan Yugoslavia pecah tahun ‘90-an, mereka menyatakan dukungan pada Serbia. Jadi jangan heran jika nanti mereka habis-habisan mendukung Inggris.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR