Lolos dari Kekejaman ISIS, Dua Bocah Suriah Bertahan Hidup dengan Menggali Kubur

Dunia

Kamis, 17 Oktober 2019 | 13:27 WIB

191017113840-pengg.jpg

dailymail


Tinggal di titik konflik perang sipil Suriah, Jawad dan Yazan tak punya pilihan selain bertahan hidup dengan menjadi penggali kubur. Bocah berusia delapan dan 15 tahun  asal Idlib itu terpaksa bekerja membantu  ayahnya Ghassan. Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, ketiganya menyelamatkan diri dari Aleppo yang dikuasai ISIS.

Tak ingin membiarkan kedua anaknya melihat kekerasan perang, Ghassan memboyong keluarganya menuju kota tetangga. Jawad dan Yazan mengaku ikut menyaksikan serangan udara dan ceceran darah serta potongan tubuh yang tercabik bom di sekitar kota tinggalnya dulu. Kini meski tak memberi kemudahan mereka bersyukur masih bisa bertahan.

Little Yazan.

Just the two of us..

Selain menggali kubur yang dilakukan dengan alat seadanya, kakak beradik ini juga biasa membersihkan dan mengambil air untuk menyiram makam. Aktivitas   dilakukan mulai pukul 06.00 pagi hingga matahari terbenam. Selain pekerjaan rutin ini Jawad dan Yazan juga mengikuti program Save the Children melalui badan amal Violet. Dari Violet keluarga Ghassan mendapat jatah makanan dan kini tengah diusahakan untuk kembali ke bangku sekolah.

Ditanya mengenai apa yang diingatnya saat hidup di bawah ISIS, Jawad mengungkapkan fakta yang membuat bulu kuduk berdiri. “Aku beberapa kali melihat mereka membunuh dan  memenggal kepala. Mereka juga memutilasi perempuan  dan menggantung potongan tubuhnya di tengah kota, begitu juga anak-anak,” ungkapnya. Kini karena bekerja ia tak punya waktu bermain.

Yazan dan Jawad tak menyerah.

“Dulu aku suka bermain pesawat dan mobil-mobilan. Teman-teman akan datang ke rumah tapi sekarang tak ada yang bisa kuajak main. Banyak temanku yang meninggal karena bom,” ungkapnya.  Yazan mengungkapkan di Aleppo dulu mereka bekerja di ladang sementara ayahnya berjualan batu mulia.

Ia juga menggambarkan hari di mana keluarganya tercerai-berai. Bermula dari pengusiran warga oleh ISIS yang berniat menjadikan permukiman sebagai pabrik roket. Ia melihat bagaimana rumah pamannya rata dengan tanah akibat hantaman bom. Tak itu saja, ia pun  kehilangan sepupu akibat terimpa reruntuhan.

Untuk makam anak, mereka ikut menggali.

“Aku melihat semua dari jarak tiga meter,” katanya. Ia melanjutkan, “Aku mendengar teriakan paman dan saudara-saudaraku. Mereka mencari sepupuku di antara puing, sementara aku dan yang lainnya berlari ke rumah kakek untuk berlindung.” Beruntung bibinya yang tengah berdiri di ambang pintu selamat. Bagi Yazan momen  paling menakutkan dalam hidupnya, yaitu melihat eksekusi rajam terhadap perempuan dan sejumlah warga laki-laki yang dilempar dari atap gedung hingga tewas seketika karena dianggap melanggar hukum.

“Hal paling menakutkan bagiku melihat jasad bergeletakan, wajah-wajah orang yang meninggal. Tapi tak ada yang lebih mengerikan dari melihat mereka memasukkan potongan mayat ke dalam karung,” lanjutnya. Kini dengan pendapatan 1.000 lira atau sekitar Rp 23 ribu, Yazan menyebut hidup tetap tak mudah tapi setidaknya tak ada lagi teror ISIS.

Menunggu peziarah.

“Aku tidak takut bekerja di pemakaman karena mereka sudah meninggal. Tapi aku tidak bisa main. Aku hanya akan duduk bersama ayah menunggu peziarah. Aku membantu menyiram makan tapi jika tak ada  yang datang maka kami tak mendapat apa pun.”  Pekerjaan lainnya mengaduk semen untuk membuat nisan.

Jika yang meninggal bayi atau anak kecil, ia sendiri yang akan menggali  kuburan demi mendapat uang tambahan. Mereka pun menerima layanan gali kubur hingga menjelang tengah malam. Lebih dari apa pun Yazan dan sang adik masih mempunyai mimpi untuk bersekolah.

Ingin sekolah dan mainan.

Jawad berharap suatu hari nanti ia akan mendapat pekerjaan dan mendapatkan cukup uang untuk membeli mainan. “Aku sangat ingin membeli mainan dan bola. Hanya itu yang aku inginkan,” ujarnya. Ia juga diam-diam sangat merindukan kehidupan lamanya dan merasa iri dengan teman-temannya yang masih bisa bersekolah.

“Tapi ayah tak punya uang, sementara untuk bersekolah kami perlu baju baru, buku, pensil dan penghapus. Kuharap kami bisa bertemu teman-teman dulu dan Suriah kembali aman,” ujarnya. Sang ayah Ghassan pun bukannya tak tahu keinginan kedua buah hatinya.

“Untuk saat ini semua masih belum memungkinkan. Tapi aku akan berusaha menyekolahkan mereka lagi. Rasanya menyakitkan melihat anak-anakku bekerja di bawah terik matahari dari pagi sampai malam. Mereka tak pantas menjalani ini. Anak-anakku berhak mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Dan itu perjuanganku,” katanya.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA