Lepas Gamis, Jalan-jalan dengan "Baju Bebas" Perempuan Saudi Bikin Pengunjung Mal Heboh

Dunia

Selasa, 17 September 2019 | 12:00 WIB

190915142022-tolak.jpg

dailymail

Sejumlah perempuan Arab Saudi mulai berani melanggar peraturan ketat mengenai abaya atau terusan panjang yang wajib dikenakan ketika mereka meninggalkan rumah. Abaya atau dikenal juga dengan gamis yang biasanya serbahitam menjadi pakaian umum bagi kaum perempuan di negara Timur Tengah tersebut.

Tapi belakangan media sosial dibuat riuh dengan aksi perempuan yang dengan santai berjalan di kawasan umum tanpa abaya. Tak itu saja, ada juga yang terlihat mengenakan make-up. Apa yang dilakukan para perempuan ini tentu saja membuat kaget. Di antaranya aksi Mashiant dan Manahel al-Otaibi.

Berani atau..?

Bold statement from Mashiant al-Jaloud.

Tahun lalu dalam wawancara dengan CBS Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman mengisyaratkan  aturan berpakaian bagi kaum Hawa akan lebih longgar. Ia bahkan  mengatakan jubah atau abaya  tidak wajib dalam Islam. Menyusul pernyataan tersebut Mashiant al-Jaloud (33) pun mengunjungi mal dengan pakaian kasual.

Spesialis sumber daya manusia itu berjalan-jalan di mal dengan atasan berwarna oranye terang dan celana panjang. Aksinya ini tentu saja membuat pengunjung lainnya kaget. Ia bahkan dikira selebriti atau model karena berani melakukannya. Jaloud juga mengakui tak sedikit pengunjung yang mengancam melaporkannya pada polisi.

Manahel al-Otaibi.

Jaloud ternyata bukan satu-satunya. Mengaku dipengaruhi dorongan untuk lebih berani menyuarakan kebebasan sosial, Manahel al-Otaibi, seorang aktivis berusia 25 tahun, juga melepas abaya.

"Selama empat bulan aku tinggal di Riyadh tanpa abaya," katanya. Otaibi  berjalan di sepanjang Jalan Tahlia, jalan raya yang dipenuhi restoran dengan pakaian kasual. “Aku hanya ingin hidup seperti yang kuinginkan, bebas tanpa batasan. Tidak ada yang  memaksa memakai sesuatu yang tidak aku inginkan,” lanjutnya.

MBS.

Abaya yang telah dikenal selama ribuan tahun mulai  wajib dikenakan dalam beberapa dekade terakhir. Aturan serupa berlaku bagi nonmuslim yang tengah berkunjung di beberapa negara Timur Tengah.

Sementara itu bulan Juli lalu Jaloud memposting video di Twitter yang menunjukkan aparat sekuriti mal di Riyadh melarangnya masuk tanpa abaya. Dia mengatakan aparat tadi tetap tak mengizinkan meski dirinya  meyakinkan jika Pangeran Mohammed dalam wawancara BBC menekankan pakaian yang layak bagi perempuan bukan abaya melainkan pakaian yang pantas.

Masih ketat.

Akun Twitter miliknya pun banjir komentar. Ia di antaranya dituding melakukan pelanggaran moral. Seorang pejabat Saudi juga mengutuknya di Twitter dengan menyebutnya hanya mencari publisitas dan menuntutnya agar dia dihukum karena provokatif.

Sejauh ini Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman melakukan beberapa gerakan liberalisasi, namun  tidak ada tindak lanjut berupa dekrit formal. Peraturan kementerian tenaga kerja Saudi misalnya masih mewajibkan perempuan bekerja dengan pakaian sederhana, tertutup dengan baik dan tidak transparan. Soal sampai kapan Jaloud dan Al-Otaibi bertahan dengan pilihannya, sepertinya untuk saat ini netizen bisa mengetahuinya dari postingan Twitter keduanya.

 

 

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA