Hujani Sarang ISIS dengan 40 Ton Bom, Serangan Udara Koalisi Amerika Luluh Lantakkan Pulau Qanus

Dunia

Kamis, 12 September 2019 | 14:48 WIB

190912144632-dihuj.jpg

dailymail

Koalisi pimpinan Amerika Serikat mengerahkan pesawat tempur ke Pulau Qanus yang diyakini masih menjadi wilayah persembunyian anggota ISIS di sepanjang Sungai Tigris, Irak. Pasukan tempur udara ini menghujani pulau dengan 40 ton bom yang dilengkapi teknologi laser pendeteksi titik pengeboman. Demikian postingan akun Twitter militer AS, kemarin.

Dikutip dari DailyMail, Rabu (11/9/2019) dalam postingan yang sama juru bicara Operation Inherent Resolve (OIR) Kolonel Myles B. Caggins  memberi caption, "Pemandangan ketika jet @15AFCENT F15 dan F35 menjatuhkan 36.000 kg bom di pulau yang dipenuhi anggota ISIS." Video menunjukkan ledakan besar memicu awan jamur dari dataran Qanus yang membara.

Dikonfirmasi via Twitter.

Latest mission.

Carpet bombed.

Pasukan anti-terorisme Irak juga terlihat ikut dalam operasi darat. Pihak koalisi mengonfirmasi pesawat tempur F15 dan F35 ambil bagian untuk pengeboman di Pulau Qanus di provinsi pusat Salaheddine, utara Baghdad. Serangan hari Selasa menjadi  bagian dari operasi yang dilakukan pasukan Irak dan koalisi pimpinan AS melawan ISIS yang diklaim berhasil dipukul mundur dari Irak tahun 2017. 

Meski demikian beberapa titik masih dikuasai sejumlah pasukan ISIS termasuk kawasan Pulau Qanus. “Kami menolak persembunyian  Daesh  di mana pun termasuk Pulau Qanus,” ujar  Mayor Jenderal Eric T. Hill, Komandan Satuan Tugas Gabungan Operasi Khusus - Operation Inherent Resolve. Daesh adalah istilah Arab untuk ISIS. "Kami memastikan  pasukan koalisi untuk menjaga stabilitas," tambahnya.

Dihujani hampir 40 ton bom.

Didukung penuh koalisi AS.

Serangan bom udara dilakukan  guna melumpuhkan kemampuan bersembunyi Daesh di titik vegetasi yang lebat. Pasukan koalisi masih melakukan operasi pembersihan untuk menghancurkan sisa-sisa Daesh yang tersisa di Qanus. Sel-sel ISIS yang “tertidur” sejak pengeboman mematikan di Irak disebut masih bertahan di Tigris. ISIS menguasai sebagian besar wilayah Suriah dan Irak tempat mereka mendeklarasikan kekhalifahan pada 2014.

Pekan lalu, Hill mengatakan serangan terhadap para pejuang ISIS dan jaringan pendukung mereka di seluruh Irak memungkinkan pemerintah Irak melanjutkan upaya stabilitas dan rekonstruksi. "Kami tahu mereka bersembunyi di titik-titik yang tak terawasi pemerintah dan Daesh masih berusaha untuk melakukan regenerasi." 

Misi udara dan darat.

Pasukan kontra-terorisme Irak.

Hill juga menegaskan pasukan koalisi akan tetap berada di Irak dan mendukung ISF (Pasukan Keamanan Irak) sampai keberadaan mereka tidak lagi diperlukan. ISF yang didukung penuh  koalisi menyerang jaringan Daesh dengan misi mengurangi kemampuan maksimal mereka. "Tekanan membuat Daesh terdesentralisasi dan kami melihat jaringan komunikasi mereka terganggu."

Pada bulan Agustus, OIR dan Pasukan Demokrat Suriah mengaku mampu menahan lebih dari 225 pejuang Daesh dalam empat bulan terakhir dan mengamankan 4.000 pon bahan peledak dari medan perang selama dua bulan. Di bulan yang sama, lebih dari 200 bom dijatuhkan dengan sasaran titik-titik terorisme.

Presiden AS Donald Trump.

Koalisi disebut menyasar  101 unit taktis Daesh, menghancurkan 15 bangunan, delapan tempat tidur, tujuh terowongan, tujuh cache senjata, empat kendaraan, satu situs alat peledak hasil improvisasi dan menuntaskan satu misi penghancuran medan tampur. Postingan serangan Qanus ini hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatalkan pembicaraan damai dengan Afghanistan.

Menyusul pembatalan itu, kelompok ekstrem Taliban memperingatkan keputusan Trump tersebut akan menelan lebih banyak korban jiwa dari pihak Amerika. Taliban mengeluarkan pernyataan  setelah Trump secara tak terduga membatalkan pembicaraan rahasia yang direncanakan Minggu lalu di kompleks kepresidenan di Camp David, Maryland.

 

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA