Putin : Tak Ada yang Salah Dalam Pemberian Paspor

Dunia

Kamis, 25 April 2019 | 23:35 WIB

190425220752-putin.jpg

Schengen Visa

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Kamis (25/4/2019) bahwa tak ada yang salah dengan perubahan-perubahan peraturan bagi warga masyarakat di kawasan-kawasan yang memisahkan diri di Ukraina untuk menerima paspor Rusia, satu keputusan yang mendapat kecaman dan seruan bagi pemberlakuan sanksi-sanksi lagi terhadap Moskow.

Putin, yang berbicara kepada wartawan pada akhir pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengatakan Polandia dan Hungaria memberikan kewarganegaraan kepada kerabat etnis di luar tapal batas mereka dan mengatakan ia tak melihat alasan mengapa Rusia tak melakukan hal yang sama.

"Hal itu menimbulkan reaksi negatif. Aneh," kata Putin. "Apakah orang-orang Rusia di Ukraina lebih jelek daripada orang-orang Rumania atau Hungaria? Saya tak melihat ada hal yang janggal di sini."

Putin menandatangani instruksi pada Rabu dengan menyebutkan bahwa warga masyarakat di kawasan Donestk dan Luhansk, Ukraina, berhak mengajukan kewarganegaraan Rusia berdasarkan prosedur yang dipercepat untuk diproses dalam waktu tiga bulan.

Uni Eropa mengecam langkah Rusia pada Kamis, dengan mengatakan hal itu serangan lain oleh Moskow atas kedaulatan Ukraina.

"Waktunya ... menunjukkan niat Rusia untuk membuat Ukraina tak stabil dan meningkatkan konflik," kata juru bicara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini dalam satu pernyataan.

Presiden Ukraina yang baru terpilih Volodymyr Zelenskiy, yang menang dalam pemilihan presiden dengan suara terbanyak pada Ahad, mengatakan langkah Rusia itu menunjukkan Moskow melancarkan perang di Ukraina dan menyerukan sanksi-sanksi tambahan terhadap Rusia.

Pemberontakan pecah menentang kekuasaan pemeriintah Ukraina di kawasan Donetsk dan Luhansk tahun 2014 setelah presiden yang pro-Rusia digulingkan di Kiev dalam revolusi.

Moskow, yang juga mencaplok kawasan Krimea Ukraina tahun itu, memberikan bantuan militer bagi kelompok-kelompok separatis di timur, demikian bukti yang dikumpulkan oleh Reuters walaupun para pejabat Rusia telah membantah menyediakan dukungan material.

Sumber: Reuters

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR