Terjebak Pertempuran, Anak-anak dengan Luka Bakar dan Pecahan Peluru Sesaki Rumah Sakit di Suriah

Dunia

Jumat, 5 April 2019 | 10:56 WIB

190405105605-terje.jpg

dailymail

Eksodus keluarga jihadis dan warga sipil dari teritori terakhir ISIS membuat sejumlah rumah sakit di Suriah timur penuh sesak. Dikutip dari DailyMail kemarin, fasilitas kesehatan Kurdi itu menerima belasan  pasien setiap hari, termasuk anak-anak  yang cacat parah, beberapa akibat tembakan mortir.

Kebanyakan warga yang eksodus merupakan anak-anak dan perempuan dari Al-Hol, kamp yang menampung lebih dari 70.000 orang warga selama berbulan-bulan serangan di kantung-kantung kekuatan terakhir para jihadis.

Bocah Irak menjalani perawatan di  rumah sakit provinsi Hasakeh Suriah, Selasa lalu.

Seorang anak perempuan Rusia yang mengalami luka di wajah dan kepala ditemani sang ibu.

"Situasi di rumah sakit ini sangat tragis," ujar Aydin Sleiman Khalil, pengelola lembaga kesehatan di Hasakeh, 25 mil dari Al-Hol. Untuk mengatasi pasien yang banyak, rumah sakit di wilayah semi-otonom Kurdi itu  mencari dukungan dari komunitas internasional dan lembaga bantuan.

"Kami kekurangan peralatan, obat-obatan, keuangan, dan tenaga medis," lanjutnya. Khalil mendesak kelompok-kelompok kemanusiaan dan PBB turut  membantu. "Kami melakukan apa saja yang kami bisa, tetapi itu tidak cukup. Mereka membutuhkan lebih banyak perawatan,  lebih banyak obat, juga operasi estetika," tambahnya. 

Seorang ibu muda asal Irak, Badreya Kamel (24) mengaku  tiba beberapa hari  lalu dengan tiga anaknya tetapi salah satu dari mereka, Rowayda yang berusia dua tahun meninggal di rumah sakit karena luka bakar parah.

Bocah Irak dengan  luka bakar yang parah di wajah berdiri di sebelah tempat tidur rumah sakit Hasakeh.

Mariam (5) duduk di ranjang rumah sakit setelah perawatan untuk luka bakar di wajah.

Bocah perempuan Rusia di kamp Al-Hol menjerit kesakitan saat menjalani   perawatan di rumah sakit terdekat.

Kamel menghabiskan lima bulan terakhir di Al-Hol, setelah melarikan diri dari desanya yang terperangkap dalam pertempuran antara ISIS dan Pasukan Demokrat Suriah (SDF), yang didukung koalisi pimpinan AS. Suatu ketika dia meninggalkan tenda untuk mencari sarapan.

Selama kepergiannya yang singkat, anak-anaknya menyalakan kompor gas yang kemudian meledak. Dua anaknya Zobeida yang berusia empat tahun dan Hafsa yang berusia 10 tahun selamat.

Lembaga kesehatan di Hasakeh menampung sekitar 25 pasien rawat inap yang melarikan diri dari kekhalifahan ISIS yang runtuh, terutama melalui Al-Hol. Sekitar 50 lebih warga tiba untuk rawat jalan setiap hari dari kamp, termasuk mereka yang perlu mengganti perban luka.

Pada bulan Maret saja, rumah sakit lokal kewalahan dengan 2.000 pasien wanita dan anak-anak dari Al-Hol. Kebanyakan menderita luka atau kekurangan gizi, demikian laporan kelompok bantuan Komite Penyelamatan Internasional (IRC).

Rumah sakit lokal kewalahan.

Anak-anak beristirahat di ranjang rumah sakit yang masih memungkinkan melakukan perawatan.

Dua rumah sakit baru harus dibuka di kamp pada akhir April ini untuk kebutuhan mendesak. "Ada kebutuhan mendesak memperluas layanan kesehatan di kamp," ujar perwakilan  Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan. Para donor sendiri telah mencairkan $ 4,3 juta untuk Al-Hol, termasuk upaya  memerangi kekurangan gizi dan memberikan perawatan kesehatan darurat. 

Pada  23 Maret lalu, SDF menyatakan kemenangan melawan ISIS, setelah mengusir para jihadis dari semua titik kecuali beberapa terowongan di perbatasan  Baghouz,  desa yang juga  benteng terakhir mereka di Suriah. Lebih dari beberapa minggu sebelum itu, aliansi Kurdi-Arab secara berkala menghentikan operasi militer agar  memungkinkan warga sipil  termasuk keluarga jihadis yang menyerah keluar dari teritori.

Seorang dokter mengganti kain kasa bocah Rusia di  rumah sakit Hasakeh.

IRC mengonfirmasi dari 500 pendatang di Al-Hol tiba dengan luka bakar dan luka pecahan peluru.

Dikonfirmasi IRC, di antara 500 warga dari rombongan terbaru Al-Hol mengalami luka bakar dan luka pecahan peluru. Salah satunya Saniya Roustom yang tiba sekitar tiga minggu lalu di rumah sakit dan berbagi kamar dengan dua wanita Rusia lainnya bersama anak-anak mereka.

Roustom mengaku terperangkap di Baghouz dan berlindung di antara tembakan mortir dan serangan udara koalisi di parit yang hanya ditutupi  lembaran terpal. “Banyak anak mengalami luka bakar. Mereka butuh bantuan dan dokter yang baik ... Kami dibawa ke sini,” katanya.

Dari keenam anaknya, hanya satu yang masih hidup. Lima anaknya meninggal selama pengeboman berlangsung. Kini ia hanya bersama Mariam yang berusia lima tahun dan mengalami luka bakar di wajah.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR