#HeadscarfFriday Seminggu Tragedi Christchurch Perempuan Nonmuslim New Zealand Kenakan Jilbab Sehari

Dunia

Jumat, 22 Maret 2019 | 10:57 WIB

190322105737-terin.jpg

dailymail

Ribuan perempuan New Zealand mengesampingkan perbedaan agama dan dengan bangga mengenakan jilbab untuk mengenang 50 korban tewas dalam serangan teroris minggu lalu di Christchurch. Gerakan berjilbab untuk keharmonisan ini muncul kembali di seluruh negeri dalam aksi  solidaritas Jumat.

Dikutip dari DailyMail, Jumat (22/3/2019) dibarengi kampanye media sosial yang ikut menjadi momentum dalam beberapa hari terakhir, warga  nonmuslim New Zealand  ramai-ramai mengenakan jilbab selama satu hari. 

Gerakan bertagar #headscarfforharmony ini menjadi bentuk dukungan kepada komunitas Muslim setelah penembakan massal yang menewaskan puluhan jemaah di dua masjid. Para  pria pun diundang bergabung dengan gerakan ini.

Aksi Wear a Headscarf Friday (Kenakan Jilbab Jumat) ditujukan untuk kaum perempuan Christchurch dan didukung  Asosiasi Muslim New Zealand. “Banyak wanita muslim di Christchurch merasa terlalu takut  mengenakan jilbab mereka. Mari kita tunjukkan solidaritas kita dengan mengenakannya Jumat ini.” Demikian ajakan laman Facebook utuk Wear a Headscarf Friday.

Hasilnya  ratusan warga berjilbab ikut berbaur di antara ribuan pelayat yang berkumpul di Hagley Park di depan Masjid Al Noor, di mana pelaku teror Brenton Tarrant memberondong korban. Panggilan azan  untuk salat Jumat pun disiarkan secara nasional tepat  pukul 13:30, diikuti dua menit keheningan. 

Christchurch bukan satu-satunya komunitas yang ikut menggerakkan Headscarf for Harmony. Tak itu saja, ratusan perempuan Newa Zealand juga memosting foto diri mereka mengenakan jilbab dengan bangga di tempat kerja, juga di rumah di laman  Facebook Wear a Headscarf Friday. Postingan juga  ramai  di platform media sosial lainnya. 

Terinspirasi Perdana Menteri Jacinda Ardern.

"Dipakai di Eastgate dalam solidaritas untuk  siapa pun di mana saja yang seharusnya bisa merasa aman di depan umum, terlepas dari bagaimana mereka berpakaian atau apa agama mereka," tulis seorang netizen.

Gerakan jilbab ini  dimulai setelah Perdana Menteri Jacinda Ardern mengenakannya saat bertemu dan menghibur kerabat korban yang tewas dan terluka sehari setelah tragedi Christchurch.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR