Detak Jantung pun Diawasi, Ini Sel Isolasi Pelaku Pembantaian Jemaah Masjid New Zealand

Dunia

Rabu, 20 Maret 2019 | 12:30 WIB

190320122930-diawa.jpg

dailymail

Sel penjara menunggu pelaku penembakan massal dua masjid di Christchurch, Linwood, New Zealand, Jumat pekan lalu. Brenton Tarrant  akan ditahan di sel isolasi berupa ruang berwarna krem dan cokelat dengan dinding beton.

Dikutip dari DailyMail kemarin, pria Australia berusia 28 tahu itu  dipastikan berada di bawah pengawasan 24 jam di penjara dengan keamanan maksimum Paremoremo di Auckland. Laporan NZ Herald  Tarrant terputus dari semua akses informasi mulai dari surat kabar, televisi hingga radio.

Ujung penembakan massal.

Kompleks dengan keamanan maksimum.

Aksinya memberondong jemaah masjid hingga menewaskan lebih dari 50 orang warga berujung di sepinya ruang isolasi seluas 8,99 m² dengan detektor detak jantung, pintu keamanan yang terbuka dengan pemindai sidik jari dan pagar berlapis lima.

Setiap sel di kompleks tahanan ini memiliki lebar 3,1 m dan panjang 2,9 m. Hanya  ada tempat tidur baja yang ditanam di dinding, jendela, meja, dan toilet serta shower berdinding transparan yang dapat dilihat  semua staf sekuriti melalui kamera. Cermin cembung di langit-langit  juga memungkinkan penjaga mengawasi keseluruhan bagian dalam sel.

Dikatakan direktur penjara Andy Langley, narapidana dengan keamanan maksimum menghabiskan 20 jam sehari di dalam sel. Penjara Paremoremo sendiri  baru-baru ini menjalani renovasi senilai $ 300 juta atau Rp 4 triliun.

Brenton Tarrant.

Sempat tunjukkan tanda white spuremacy di ruang peradilan.

Menampung 681 narapidana setiap sel Paremoremo merupakan rumah bagi penjahat paling berbahaya di Selandia Baru. Area sayapnya dengan keamanan maksimum menampung 260 narapidana. Penjara Paremoremo menjadi  satu-satunya fasilitas penahanan dengan keamanan maksimum di Negeri Kiwi.

Semua sel terletak di lantai dasar dan sayap sel individu yang menjulur keluar dari pusat keamanan maksimum ini dapat ditutup jika kebakaran atau kerusuhan terjadi. Tanpa akses  informasi ke dunia luar, Tarrant tidak akan mengetahui pemberitaan mengenai pembantaian masjid Christchurch yang  dilakukannya Jumat lalu. Ditegaskan Departemen Pemasyarakatan, Tarrant  tidak akan diizinkan menerima pengunjung saat berada di balik jeruji besi.

Direnovasi dengan biaya triliunan.

“Penanganan atas Tartant  dilakukan sesuai UU  Pemasyarakatan 2004 dan kewajiban internasional kita untuk perawatan tahanan. Saat ini dia tidak memiliki akses untuk televisi, radio atau surat kabar dan tidak ada pengunjung yang disetujui membesuk.” Demikian pernyataan pihak pemasyarakatan. 

Pihak berwenang sebelumnya  mencoba merahasiakan  keberadaan Tarrant tapi Departemen Pemasyarakatan menyatakan  mereka  dibantu “agen-agen” lainnya untuk memindahkan Tarrant dari Christchurch ke lokasi barunya.

Tampung ratusan napi kelas kakap.

Tak ada akses infomasi ataupun kunjungan.

Menteri Kehakiman Kelvin Davis menolak berkomentar sehubungan dengan lokasi Tarrant pada hari Selasa. "Saya  tidak akan membahas masalah operasional. Anda harus ingat a keselamatan petugas pemasyarakatan adalah yang terpenting,” katanya. New Zealand secara resmi mengidentifikasi 21 dari 50 korban yang terbunuh dalam serangan di dua masjid  Christchurch.

Komisaris Polisi Selandia Baru Mike Bush, Rabu ini menyebut enam jasad telah teridentifikasi  dan diserahkan pada pihak keluarga sehingga total korban yang sudah diketahui identitasnya menjadi 27.

"Harus dikatakan  identifikasi beberapa dari korban  akan memakan waktu sedikit lebih lama," ujar Bush pada wartawan hari ini.  Sekitar 120 petugas  forensik terlibat dalam proses identifikasi yang dimulai segera setelah serangan.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR