Dianggap Permalukan Presiden, Edit Wajah Trump Saat Pidato Nasional Editor TV Langsung Dipecat

Dunia

Jumat, 11 Januari 2019 | 16:10 WIB

190111161105-orany.jpg

dailymail

Sebuah stasiun TV di Seattle Amerika Serikat langsung memecat salah seorang editornya setelah menayangkan rekaman video pidato nasional presiden dari Oval Office. Dikutip dari DailyMail, Jumat (11/1/2019)seperti diketahui  Presiden Donald Trump memberikan pidato nasional pertama terkait imigrasi dan pembangunan tembok perbatasa.

Persoalannya sang editor benar-benar mengedit tampilan Trump hingga presiden ke-45 itu terlihat “mengerikan”. Berbeda dari tayangan kanal lainnya, khusus di saluran afiliasi FOX Q13 itu, Trump terlihat lebih oranye dengan lidah menjulur usai membuat pernyataan, Selasa malam itu.

Spot the different.

Warna-warna hasil editan video dimaksud lebih jenuh dengan warna tajam dan lidah jelas berubah. Situs Mynorthwest.com yang kemudian memosting video hasil editan berdampingan dengan tayangan lainnya menunjukkan perbedaan dimaksud. Menyadari ini tayangan editan Q13 pun langsung dihapus dari dokumentasi.

Direktur berita Q13 Erica Hill mengatakan penyesalannya atas insiden yang dituding mempermalukan Trump tersebut. "Ini bukan standar editorial kami dan kami menyesal jika hasil editan ini dilihat sebagai upaya menggambarkan presiden secara negatif." Demikian pernyataan resmi pihak Q13.

Direktur berita Q13 Erica Hill.

Kemarin Hill juga memastikan pihaknya melakukan investigasi dan memecat editor yang terlibat.  "Kami telah menyelesaikan penyelidikan dalam insiden ini dan hasilnya  tindakan itu hasil perbuatan  seorang editor individu yang kini  telah diberhentikan." Identitas editor sendiri tidak diungkapkan.

Dalam pidatonya di televisi, Trump mendesak  pendanaan tembok  perbatasan di tengah kondisi shutdown  pemerintahan federal yang telah berlangsung selama hampir tiga minggu.

Trump saat berpidato di Oval Office.

Trump mendesak Partai Demokrat melalui kongres untuk mendanai tembok yang juga menjadi janji kampanyenya. Mencoba meyakinkan publik Trump memaparkan sejumlah isu mulai dari imigrasi ilegal hingga konsesi dan sejumlah ide  baru untuk mengakhiri kebuntuan yang membuat pemerintahan federal lumpuh  selama 18 hari.

Dari Oval Office pula untuk pertama kalinya Trump melontarkan  penyelesaian krisis keamanan dengan pendekatan isu kemanusiaan. Sebelumnya ia mengancam akan memberlakukan status emergensi yang memungkinkannya membangun tembok tanpa persetujuan kongres. Pihak Demokrat sendiri menanggapi pidato Trump sebagai retorika berdasar ketakutan, bukan fakta dan membuat krisis perbatasan sebagai isu untuk keuntungan politik.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR