Mesir Batasi Orang-orang Palestina Masuk dari Jalur Gaza

Dunia

Selasa, 8 Januari 2019 | 22:40 WIB

190108223043-mesir.jpg

jurnas

MESIR membatasi orang-orang Palestina memasuki negara itu dari Gaza pada Selasa (8/1/2019), setelah personel Otoritas Palestina (PA) ditarik dari perlintasan perbatasan Rafah dan para personel Hamas menggantikan mereka.

Perselisihan mengenai perbatasan itu berawal dari petikaian antara PA dukungan Barat dan gerakan Hamas, yang mengendalikan Gaza lebih satu dekade lalu dalam perang saudara yang singkat.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan Rafah telah menjadi pintu keluar satu-satunya dari Gaza bagi sekitar 95 persen penduduknya yang berjumlah 2 juta. Dengan menyebut alasan keamanan, Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat mengenai gerakan orang-orang Palestina di perlintasan-perlintasan perbatasannya.

Para karyawan PA ditugaskan ke perlintasan-perlintasan perbatasan Gaza dengan Israel dan Mesir tahun 2017, suatu langkah yang membuka Rafah bagi lalu lintas dua arah, setelah mediasi Mesir mengarah pada perjanjian rekonsiliasi Palestina, yang sejak itu goyah.

Pada Ahad, PA mengumumkan penarikan personelnya dari Rafah, menuding Hamas mengganggu operasi-operasinya dan menahan beberapa karyawannya. Sejak Mei, perlintasan itu beroperasi tiap hari setelah pembukaan-pembukaan sporadis selama beberapa tahun.

Ketika tiba di Gaza, Hani Abu Sharekh mengatakan kepada Reuters ia berharap Mesir akan segera memulihkan penuh operasi fasilitas itu untuk mengizinkan para penumpang keluar dari kantung pesisir tersebut.

"Tak ada alternatif ke perlintasan Rafah, inilah satu-satunya jendela bagi sebagian besar rakyat kami untuk bepergian dan berobat dan menempuh pendidikan," kata Abu Sharekh, 48 tahun, setelah kembali dari Kairo, tempat istrinya dirawat di rumah sakit.

Hamas mengatakan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang memimpin PA dan telah memeberlakukan serangkaian sanksi ekonomi atas Gaza menekan kelompok itu untuk menyerahkan kekuasaan, menghancurkaan prospek bagi penyatuan.

Seorang pejabat Palestina yang memelihara kontak erat dengan Mesir mengatakan Kairo telah memutuskan untuk membuka perlintasan Rafah hanya bagi warga Palestina yang kembali ke Gaza, setelah personel PA ditarik.

Pembatasan Mesir, kata pejabat itu, menujukkan "kekecewaannya atas goyahnya perjanjian rekonsiliasi tahun 2017". Tetapi seorang pejabat Mesir di Kairo mengatakan dia tidak berharap Rafah ditutup sama sekali.

"Mesir mengakui pentingnya situasi kemanusiaan di Gaza dan perlintasan Rafah merupakan titik akses penting bagi warga Palestina," kata pejabat itu, dengan menambahkan bahwa negaranya akan meninggalkan usaha medianya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR