181207210355-talib.jpg

Arabstoday

Taliban Tembak Mati 14 Pasukan Keamanan Afghanistan

Dunia

Jumat, 7 Desember 2018 | 21:00 WIB

Wartawan: H. Dicky Aditya

PEMERINTAH Afghanistan mengatakan kelompok pemberontak Taliban membunuh 14 pasukan keamanan mereka.

Pada Jumat (7/12/2018), pemerintah Afghanistan menambahkan Taliban juga menculik 21 orang lainnya dalam sebuah serangan yang terjadi di sebelah barat Provinsi Herat.

Anggota Dewan Provinsi Herat Najibullah Mohebi para penyerang mengepung dua pos pasukan terdepan distrik Shindand, Herat, Afghanistan. Pertempuran terjadi selama enam jam.

Akhirnya bala bantuan datang dan mengusir para penyerang tersebut. Tapi para penyerang sudah lebih dulu menahan 21 tentara Afghanistan.

Namun, juru bicara Kementerian Pertahan Afghanistan Ghafor Ahmad Jaweed mengatakan ada 10 pasukan yang tewas dan terluka dalam serangan ini. Beberapa pihak belum dapat mengonfirmasi mana informasi yang benar.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Tapi pemerintah Afghanistan menyalahkan Taliban yang memang aktif melakukan serangan di daerah tersebut.

Setiap hari mereka melakukan serangan ke pasukan keamanan Afghanistan. Saat ini Amerika Serikat (AS) tengah berusaha menggelar pembicaraan damai di Afghanistan.  

Sebelumnya Perdana Menteri Pakistan Fawad Chaudhry mengatakan pemerintah AS ingin Pakistan membantu pembicaraan damai di Afghanistan. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat resmi.

"Presiden Trump mengirim surat, dia meminta Pakistan bekerja sama untuk membawa Taliban untuk melakukan pembicaraan," kata Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry, seperti dilansir dari Aljazirah.

Chaudhry mengatakan kepada Khan, Trump berkata hubungan dengan Pakistan sangat penting bagi pemerintah AS. Begitu juga dengan mencari solusi untuk menyelesaikan konflik di Afghanistan.

Trump ingin mengakhiri perang selama 17 tahun antara pasukan keamanan Afghanistan yang didukung AS dengan Taliban.

Kelompok teror tersebut ingin mengusir pengaruh AS di Afghanistan dan memberlakukan hukum Islam yang kaku di negara tersebut.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR