181108121527-tingg.jpg

dailymail

Amal Hussain, Simbol Perang Yaman yang Tewas di Tengah Kelaparan dan Serangan Udara Saudi

Dunia

Kamis, 8 November 2018 | 12:00 WIB

Wartawan: Mia Fahrani

Namanya Amal Hussain. Mungkin tak banyak yang mengenal nama ini tapi wajahnya menjadi simbol tragedi ekses perang Yaman. Berusia tujuh tahun, tubuhnya hanya tinggal kulit membungkus tulang. Apa yang tak pantas dilaluinya itu menjadi headline sejumlah media yang memberitakan kelaparan warga sipil Yaman.

Dan beberapa hari lalu berita duka datang dari ibunya. Sang buah hati mengembuskan napas terakhir di antara kecamuk perang proksi yang melibatkan Yaman dan Arab Saudi.  Amal  meninggal di kamp pengungsi empat mil dari klinik UNICEF di Aslam di mana selama ini dia tinggal seperti diberitakan New York Times yang pertama kali menampilkan kisahnya.

Amal tak sendiri.

Tujuh juta anak-anak terancam krisis pangan.

Perhatian pada ekses perang ini nyaris tertutupi berita lain yang juga menjadi topik internasional, yaitu pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Arab Saudi dengan otoritas dari Pengaran Mahkota Muhammad bin Salman selama ini memimpin pasukan anti-pemberontak di Yaman.

Kepada reporter ibu Amal, Mariam Ali mengungkapkan perasaannya. “Hatiku berkeping. Amal selalu tersenyum. Sekarang aku khawatir dengan keselamatan anak-anakku  yang lain,” katanya. Di rumah sakit yang dikelola UNICEF, terakhir Amal muntah-muntah dan menderita diare. Dokter memberinya susu setiap dua jam. Amal menderita kekurangan gizi akut dan  tiga tahun sudah setelah keluarganya meninggalkan rumah mereka untuk menghindari serangan udara Saudi.

Ratusan ribu dalam kondisi kelaparan akut.

Serangan udara ikut menerjang warga sipil.

Tak semua ditangani di rumah sakit.

Mariam sendiri dilaporkan menderita demam berdarah yang disebarkan oleh nyamuk di air yang mandek di kamp. Keluarganya  tidak memiliki cukup uang untuk membawa Amal ke rumah sakit Doctors Without Borders yang berjarak 15 mil. Perang  telah sangat menghancurkan anak-anak Yaman. Laporan Badan Anak-anak PBB, Lebih dari tujuh juta di antaranya sekarang menghadapi kerawanan pangan.

Sekitar 1,8 juta anak di bawah usia lima tahun juga menghadapi kekurangan gizi akut dan 400.000 terkena dampak gizi buruk akut.  Koalisi pimpinan-Saudi di Yaman memerangi pasukan pemberontak yang dinilai  sebagai sekutu Iran, saingan utama Riyadh. Sedangkan Washington mendukung koalisi yang berperang bersama pemerintah Yaman melawan pemberontak Houthi.

Nyaris luput.

Luka fisik dan psikis.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan Sekretaris Negara Mike Pompeo pekan lalu menyerukan diakhirinya perang Yaman. Selain menyerukan semua pihak untuk   mengakhiri serangan udara, diakui juga  koalisi pimpinan Saudi terlibat dalam pengeboman warga sipil. Tewasnya Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul bulan lalu –dan keterangan pihak kerajaan yang berulang kali berubah—memicu  seruan bagi pihak Barat untuk mengurangi kembali kesepakatan persenjataannya dengan Riyadh.

Banyak yang menduga  Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman  terlibat dalam pembunuhan Khashoggi tapi Arab Saudi menyangkal mengetahui hal itu. Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan  Berlin tidak akan mengekspor senjata ke Arab Saudi sampai pembunuhan Khashoggi diklarifikasi. Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai langkah  itu tak ubahnya “hasutan murni” dan Inggris mendesak kehati-hatian dalam penyelesaian konflik ini.

Tak semua orangtua sanggup membawa anak-anaknya ke rumah sakit dan bertahan di pengungsian.

Merkel juga mengatakan Arab Saudi harus melakukan segalanya untuk menyelesaikan situasi kemanusiaan yang mendesak di Yaman. "Saat ini ada jutaan orang lapar, kami adalah saksi salah satu bencana kemanusiaan terbesar," katanya.

Agree.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR