181012133722-dari-.jpg

dailymail

Dari 9/11 Hingga Putra Mahkota Kerajaan Saudi, Inikah Alasan Jamal Khashoggi Harus Dilenyapkan?

Dunia

Jumat, 12 Oktober 2018 | 14:00 WIB

Wartawan: Mia Fahrani

Jamal Khashoggi “hilang” setelah memasuki konsulat Arad Saudi di Istanbul, Turki  pada 2 Oktober lalu. Ia datang untuk mengambil dokumen resmi jelang  pernikahannya dengan Hatice Chengiz. Dikutip dari DailyMail kemarin, setelah itu kontributor Washington Post tersebut tak pernah kembali.
 
Disangkal pihak Saudi, kepolisian Turki menyebut Kashoggi yang kritis terhadap beberapa kebijakan Putra Mahkota Mohammad bin Salman tewas di tangan 15 tim pembunuh yang datang dan meninggalkan Turki di hari yang sama. Lalu apa yang membuat Kashoggi yang sejak akhir tahun 2017 memilih mengasingkan diri di Amerika Serikat menjadi sasaran?    

Kepada Washington Post, teman-teman Khashoggi mengatakan beberapa bulan terakhir, para pejabat senior Saudi menawarkan perlindungan padanya, bahkan jabatan   tinggi di  pemerintahan jika kritikus itu kembali ke tanah kelahirannya. Tetapi Khashoggi menanggapi skeptis tawaran tersebut. Soal klaim pembunuhan yang disponsori negara, Arab Saudi menyebutnya laporan tak berdasar.

Meskipun rezim saat ini diketahui menahan sejumlah kritikikus moderat, Khashoggi disebut-sebut sebagai target level tinggi. Sosoknya diakui sebagai cendekiawan politik paling dikenal di dunia Arab dengan lebih dari dua juta pengikut  Twitter. “Khashoggi  politikus Islamis yang tidak  terlalu tertarik dengan  demokrasi pluralistik gaya Barat," ujar John R. Bradley,  wartawan Timur Tengah dalam tulisannya yang dimuat Spectator.

Tahun 1970-an, ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, yang bertujuan untuk membebaskan dunia Islam dari pengaruh Barat. Dalam kolomnya, Bradley mengatakan, Kashoggi mendesak Putra Mahkota Mohammad untuk merangkul kebangkitan  politik Islam daripada demokrasi gaya Barat. Dan  tahun 2003  setelah pemecatannya sebagai editor surat kabar harian Saudi Al Watan, Khashoggi dikenal sebagai liberal progresif.

Dan meskipun Putra Mahkota Mohammad, di sisi lain, menolak Wahabisme - yang pengikutnya menganggap demokrasi sebagai temuan Barat - ia menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman utama terhadap visinya untuk kerajaan. Kebanyakan ulama yang dipenjara di Arab Saudi selama dua tahun terakhir memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin.

Sejak itu, Khashoggi menjadi pemimpin de facto cabang Saudi - dan karenanya menjadi ancaman politik terbesar bagi Putra Mahkota. Selain itu, Khashoggi juga memiliki informasi tentang hubungan keluarga kerajaan Saudi dengan Al-Qaeda sebelum serangan teror 11 September. Khashoggi berteman dengan Osama bin Laden pada tahun 1980-an dan 1990-an.

Dia bahkan “dipekerjakan”  dinas intelijen Saudi guna membujuk Bin Laden untuk berdamai dengan keluarga Kerajaan Saudi. Bradley, mantan kolega Khashoggi percaya  Saudi juga mungkin  khawatir  ia telah menjadi aset Amerika.

Selain itu awal tahun ini Kashoggi  mendirikan partai politik baru,  Demokrasi untuk Dunia Arab (Democracy for the Arab World). Penolakannya baru-baru ini terhadap tawaran untuk kembali ke Arab Saudi sebagai penasihat disebut Bradley mungkin merupakan faktor yang membuat semuanya berakhir bagi Khashoggi.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR