Kamus Kode Menari Bawa Adistyana sebagai Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan

Dinas Pendidikan Jabar

Selasa, 22 Oktober 2019 | 14:27 WIB

191022142821-kamus.jpg

Hj. Eli Siti Wasliah

GURU Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kabupaten Subang, Adistyana Pitaloka dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2019 di bidang pendidikan. Ia sukses memberikan inovasi terbaru dalam pembelajaran kesenian kepada anak berkebutuhan khusus melalui Kamus Kode Menari.

Ide yang tercetus di tahun 2013 ini, merupakan hasil jerih payahnya untuk memudahkan anak-anak penyandang disabilitas dalam mempelajari kesenian tari. Mengingat, anak penyandang disabilitas memerlukan perlakuan khusus saat belajar.

"Terlebih berkaitan dengan seni tari. Misal, anak tunanetra tentu tidak bisa melihat gerakan. Maka dari itu, saya mencoba metode melalui bunyi agar mereka bisa mengikuti gerakan dengan benar," ujarnya saat diwawancarai, Selasa (22/10/2019).

Bagi penyandang tunarungu, lanjut Adistyana, lebih mudah memberikan kode gerakan. Sedangkan untuk penyandang tunagrahita memerlukan usaha yang lebih keras dibandingkan anak disabilitas lainnya, mengingat IQ mereka di bawah batas normal.

Metode inilah yang membawa Adistya meraih juara I pada ajang Pemuda Pelopor Tingkat Nasional hingga sukses mengharumkan nama Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Subang. Seperti yang dicantumkan dalam Surat Keputusan (SK) Penerapan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2019 tepat pada 7 Oktober 2019.

"Saya bersyukur bisa lolos sebagai Pemuda Pelopor di tingkat nasional. Saya juga bangga karena perjuangan saya mengajar dengan berbagai inovasi mendapat apresiasi luar biasa dari pemerintah," ungkap guru kelahiran 26 tahun lalu ini.

Adistyana yang merupakan alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Sekolah Luar Biasa ini akan terus berjuang memberikan kemudahan bagi siswa disabilitas. Terutama dalam mempelajari berbagai kesenian. Ia merasa, setiap anak memiliki hak yang sama dan anak disabilitas harus mempunyai kepercayaan diri lebih melalui bakatnya.

"Saya berharap, anak disabilitas tidak lagi minder mempelajari kesenian tari. Mereka harus percaya diri dengan kemampuannya melalui metode pembelajaran ini," ucapnya.

Ke depan, Adistyana memimpikan memiliki sanggar tari. "Saya ingin anak-anak bisa menikmati kesenian menari. Selain itu, saya juga ingin punya sekolah kesenian bagi siswa SLB di Jabar. Oleh karena itu, sekarang saya tengah menabung untuk merealisasikan keinginan tersebut. Minimal bisa membangun sanggar tari SLB sendiri," harapnya seperti dalam laman disdik.jabarprov.go.id.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA