"PEPPERMINT", Metode Pembelajaran Berbasis Teknologi

Dinas Pendidikan Jabar

Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:39 WIB

190820183316--pepp.jpg

ist

BUKAN tanpa alasan mengapa Rudi Haryadi meraih gelar sosok guru berprestasi. Melalui metode pembelajaran berbasis teknologi, salah satu inovasi yang ia kembangkan dan sukses diterapkan di dalam kelas mengantarkannya meraih predikat tersebut. Metode itu dinamai "PEPPERMINT".

PEPPERMINT merupakan singkatan dari tahap proses pembelajaran yang ia terapkan. Yakni, plan (perencanaan), explore(pengetahuan), practice (pengerjaan), perform (penyajian), enquiry (pencarian), dan reflect (evaluasi). Sedangkan memorize (penghafalan) dan INT (internet) dimanfaatkan sebagai sumber daya pembelajaran.

Rudi mengungkapkan, ada tiga keunggulan yang ia peroleh ketika menerapkan metode tersebut. Yaitu, pembiasaan bagi siswa dalam memahami kultur dunia industri yang disimulasikan dengan dunia industri di pelajaran, penguasaan kompetensi kerja, dan mengintegrasikan dengan gerakan literasi sekolah (GLS).

Dalam metode ini pula, Rudi memberi roleplay atau pengarahan kepada siswa agar memosisikan diri seolah tengah berada di dunia industri dengan penyampaian skenario kerja. Sehingga, pelajaran yang dipelajari saat ini, manfaat dan kegunaannya bisa langsung dirasakan saat itu juga.

“Biasanya kalau kita praktik di sekolah, baru mengetahui manfaatnya satu atau dua tahun kemudian. Namun lewat metode ini, siswa bisa langsung merasakan kegunaan praktik tersebut karena telah diberikan roleplay,” ungkap guru kelahiran Garut, 24 Maret 1981 ini.

Mengenal PMCA

Sementara itu, anggota Komite Princess Maha Cakhri Award (PMCA) Foundation, Piniti Ratananukul mengatakan, penghargaan tersebut diberikan kepada seluruh guru berprestasi di 12 negara ASEAN yang telah memberikan dampak signifikan bagi siswa. "Penghargaan ini kita berikan kepada guru yang beredukasi optimal. Kita pilih Pak Rudi karena beliau memiliki kriteria tersebut," ucapnya.

Piniti menjelaskan, PMCA dilaksanakan setiap dua tahun sekali, dimulai pada 2015. Saat itu, guru asal Kendari, Sulawesi Tenggara, Herwin Harmid berhasil meraih prestasi tersebut. Dua tahun kemudian, giliran guru asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Encon Rahman yang sukses mewakili Indonesia.

Selain meraih penghargaan, Rudi dan 12 guru lainnya di negara ASEAN akan diberi ruang untuk mengembangkan praktik pembelajaran guna meningkatkan kualitas diri guru tersebut, sekaligus membantu guru-guru yang berada di negara asalnya. "Penghargaan ini untuk memberikan praktik pembelajaran terbaik yang menginspirasi serta bisa menjadi contoh bagi para guru di Asia Tenggara," pungkasnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA