180912110323-ini-s.jpg

ist

Ini Sosok Guru yang Jadi Wasit Asian Games 2018

Dinas Pendidikan Jabar

Rabu, 12 September 2018 | 11:03 WIB

Wartawan:

BERADAPTASI dengan lingkungan yang baru tak selalu berjalan mulus. Itulah yang dirasakan Hari Wibisono (58) saat duduk di bangku SMP.

Ayahnya seorang Tentara, ia dan keluarganyaa terpaksa pindah dari Jalan Emong, Karapitan ke Kompleks Tentara di Gegerkalong Kota Bandung pada tahun 1975.
Alih-alih ingin kenyaman, Hari kecil dan kawan-kawannya di komplek baru mendapat intimidasi dari anak-anak komplek lama.

Bogem mentah dan intimidasi acapkali dirasakan Hari dan kawannya. Awalnya mereka tak memilih untuk melawan, namun lambat laun mereka berontak. “Awalnya kami sebagai anak baru tentu takut dan selalu mengalah. Namun lama-lama kami enggak terima kalau ‘ditindas’ terus,” tutur Hari mengenang.

Ia pun mengajak kawannya untuk mempelajari Karate, ilmu beladiri asal Jepang yang saat itu sedang populer. Namun salah satu kaka kelasnya menyarankan mereka untuk latihan berkelahi daripada mengikuti pelatihan karate.

Tanpa meminta persetujuan, kaka kelasnya mengenalkan Hari kepada Djajat Koesoemadinata, Pendiri Perguruan Silat Tadjimalela.

Seminggu kemudian, Hari dan kawannya datang ke salah satu gedung olahraga yang sudah tak terpakai di kompleksnya. Kaka kelasnya berkata mereka akan menemukan pelatih disana.

Saat masuk, Hari tak menyadari ada sesosok laki-laki dengan rambut gondrong, kucel dan mengenakan celana kolor, sedang jongkok di sudut ruangan. Ketika Hari menyeru agar mereka kembali pulang, sosok laki-laki tersebut pun langsung berdiri dan memaki mereka.

“Kami diintimidasi lagi, tapi rasanya beda. Ada kekaguman yang kami rasakan. Setelah hari itu, kami mulai berlatih beladiri bersama beliau. Latihannya enggak bermetode, ortodok, tapi sangat mengena,” kenangnya.

Setelah sebulan berlatih, Hari ingin menunjukan kepiawaiannya dalam beladiri. Meski sudah diwanti oleh Djajat untuk tidak memulai berkelahi, namun Hari tetap mengikuti insting remajanya. Tepat setelah pulang sekolah, Hari dan kawannya dijegat di jalan oleh anak kompleks lama.

Namun sekarang hasilnya berbeda, Hari dan teman-temannya mampu memberi perlawanan dan membuat anak kompleks lama tunggang langgang. Sejak saat itu, mereka melakukan ‘genjatan senjata’ dan tak berani menyerang. Dan sejak saat itu pula, Hari mulai mencintai dan mendalami ilmu beladiri pencak silat.

Sepenggal kisah tersebutlah yang membuat Hari Wibisono menggeluti dunia pencak silat sampai sekarang. Ia adalah guru sekaligus satu dari sepuluh wasit Indonesia yang diberi kepercayaan untuk menjadi wasit dalam cabang olahraga pencak silat di ajang Asian Games 2018 lalu.
 
“Alhamdulillah saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Asian Games, mewakili nama Indonesia sebagai wasit. Karena dalam ajang olahraga, bukan hanya atlet dan pelatih yang menjadi figur, wasit pun berperan vital,” ungkap Hari saat ditemui di SMAN 13 Bandung, Jalan Cibeuruem, Kota Cimahi, Senin (10/9/2018).
 
Di Asian Games 2018 pula cabor pencak silat menjadi lumbung medali emas bagi Indonesia. Sebanyak 14 medali emas dan 1 perunggu sukses dimenangi oleh atlet pencaksilat. Indonesia berhasil menjadi juara umum dalam olahraga beladiri ini.

“Raihan emas ini luar biasa. Program pelatihan yang matang sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu berbuah hasil. Kita mempersiapkan cabor pencak silat dengan sebaik-baiknya. Kita enggak mau dipermalukan sebagai salah satu negara pendiri pencaksilat,” tutur Hari yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 13 Bandung tersebut daam siaran pers Dinas Pendidikan Jawa Barat, Rabu (12/9/2018).

Bukan tanpa alasan mengapa Hari berkata bahwa peran wasit sama vitalnya dengan pelatih. Berbeda dengan wasit sepakbola, bulutangkis atau cabor lainnya, wasit pencak silat tak hanya bertanggung jawab untuk menilai dan mengadili penampilan atlet pencak silat, melainkan juga memiliki tugas untuk membina para atlet.

“Jadi kami dituntut dan wajib mengetahui banyak pengetahuan tentang pencak silat, hampir sama seperti pelatih. Karena meski peran kita di pertandingan sebagai wasit, namun kami juga ikut dalam membina para atlet. Berbeda dengan katakanlah wasit sepakbola, yang tak ada hubungannya dengan atletnya,” jelasnya.  
Ia mengatakan, meski perannya sebagai wasit, ia juga turut membina para atlet dalam proses pelatihan, terlebih tentang pemahaman dengan jurus-jurus dasar berupa gerakan kaki dan tangan, juga membuat para atlet paham betul tentang peraturan pertandingan pencak silat.

“Sebagus-bagusnya atlet pencak silat, kalau dia enggak memahami peraturan dia pasti kalah. Nah disana peran kami untuk membina mereka,” tuturnya.

Perjalanan Menjadi Wasit

Taka ada banyangan sedikitpun dibenak Hari untuk menjadi wasit, karena saat muda, watak Hari memang keras dan selalu ingin menang.

“Salah satu teman menyarankan saya untuk jadi wasit karena jika dalam satu perguruan semuanya menjadi pelatih, maka akan silit dalam proses pembinaannya. Tapi saya enggak bisa terima. Saya juga punya kemampuan untuk menjadi pelatih, saya enggak mau kalah,” ucapnya berapi-berapi seolah menirukan keadaan saat itu.

Namun lambat laun, Guru kelahiran 17 Januari 1960 tersebut paham maksud dari kawannya tersebut. Hari pun mulai memperlajari dan meniti karir sebagai wasit pencak silat. Hari pun mulai mengikuti penataran wasit di pencak silat, dimulai dari tingkat kota, provinsi juga sampai nasional, dan hasilnya selalu memuaskan.

Namun bukan berarti Hari dapat dengan mudah lolos untuk menjadi wasit di ajang Asian Games 2018. Ia bersama puluhan wasit lainnya harus mengikuti seleksi yang dilakukan oleh pengurus pusat. Seleksi wasit sudah mulai dipantau saban pegaleran Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat.
 
“Kita sudah mulai diseleksi sejak PON, wasit-wasit yang berpotensi mulai dipantau. Setelahnya kami yang terpilih diseleksi lagi di tingkat nasional. Dan terpilihlah 10 wasit yang ditugaskan untuk menjadi wasit di Asian Games,” imbuhnya.

Hari menuturkan wasit pencak silat Indonesia memeliki kualitas yang mumpuni. Ia membandingan dengan negara lain yang memilih wasit hanya dengan langsung memilih, tanpa proses seleksi yang ketat sehingga, menurut Hari, menjadi penting jika wasit pun diberikan perhatian sekaligus apresiasi yang setara dengan para pelatih juga para atlet.

“Peran kami juga penting, jadi kami ingin para wasit juga diperhatikan oleh pemerintah, tidak hanya atlet dan pelatih saja yang selalu mendapat apresiasi. Kinerja kami juga untuk negara dan kami juga bagian dari insan olahraga, karena sebagai wasit kadang saya masih merasa termarjinalkan. Semoga kedepannya ini bisa diperbaiki,” katanya menyarankan.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR