180810160015-emosi.jpg

ist

Emosi, Musik, Nyanyi, dan Sarana Terapi

Dinas Pendidikan Jabar

Jumat, 10 Agustus 2018 | 18:00 WIB

Wartawan: Brilliant Awal

“SEKARANG kita akan menampilkan Band asal Kota Bogor, Sejahtera Band !,” ucap salah seorang pembawa acara diringi riuh tepuk tangan di Aula Alamanda, Grand Hotel Bandung, Kamis (19/7/2018) lalu.

Dari kiri panggung, lima laki-laki dengan jas hitam dengan menenteng alat musik di tangan berduyun menaiki panggung dan langsung melakukan cek suara.

Sejurus kemudian, setelah semua sudah siap, Sang Vokalis, Lutfi, pun menyapa penonton. Laki-laki dengan rambut sebahu itu terlihat gerogi, namun ia bisa mengatasi semua itu dengan cara mengenalkan para personelnya sebelum tampil. Tak lama, mereka pun mulai melantukan lagu pertama, Pergi pagi pulang pagi milik Armada.

Lampu aula dipadamkan, diganti oleh kerlap kerlip lampu panggung. Penonton pun terbawa suasana dengan melantunkan lagu yang populer tersebut. Ketika sampai dibagian reff, tanpa diduga secara spontan, laiknya vokalis band kebanyakan, Lutfi melompat dari pangung sambil menyanyikan bait per bait lagu.

Hadadi yang duduk tepat di dekat panggung terlihat terkejut, kemudian tawa pun lepas dari Kepala Dinas Pendidikan tersebut dan menikmati penampilan Lutfi dan kawan-kawannya sampai selesai.

Setelahnya Lutfi dan bandnya melantunkan lagu Ayah karya Broery Marantika dan Jangan Menyerah milik D’Massiv. Dilagu terakhir, nampak emosi seluruh penonton memuncak dan menyanyikan bait per bait lagu dari awal hingga akhir.

“Terima kasih semuanya, semoga nanti kita bertemu lagi, dan jangan lupa ya follow IG saya, Lutfithedrestroyer_98,” katanya menutup penampilan diakhiri ucapan salam.

Sekilas memang tak ada yang berbeda, namun band tersebut adalah band yang personelnya menyandang Tunagrahita.

Penampilan tersebut ditunjukan Sejahtera Band saat menjadi pengisi acara Pembukaan Festival Lomba Seni Siswa (FLS2N) Siswa Bekebutuhan Khusus 2018, Kamis (19/7/2018).

Setelah resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi, rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan seni dari siswa penyandang disabilitas.

Sejahtera Band adalah band yang dibentuk oleh SLB ABCD Sejahtera Kota Bogor, yang personelnya alumni dari SLB tersebut. Selain Lutfi, personel band lainnya adalah Andi Hakim (gitaris), Tena Septian (drummer) dan Tebe Revo (basis). Mereka memiliki pembimbing yang melatih serta mendampingi saat mereka tampil, yakni salah seorang guru dari SLB tersebut, Muhammad Shoyyad.

Shoyyad mengatakan, meski menyandang tunagrahita, mereka semua memiliki ketertarikan dan potensi dalam bidang musik. Dari sana, Shoyyad yang juga menyukai musik didapuk untuk mendampingi mereka oleh pihak sekolah. Mereka pun sudah sering pentas di acara pemerintahan di daerah Jawa Barat.

“Karena kita semua sama-sama suka musik, jadi ejoy saja. Awalanya mereka memilih lagu yang mereka suka, namun karena itu masih rumit, saya coba kenali dan ajak mereka buat menguasai lagu-lagu yang mudah dikuasi,” ujar Shoyyad, Selasa (31/7/2018)

Shoyyad juga berujar bahwa tantangan dan keunikan tersendiri baginya untuk memimbing Lutfi dan kawan-kawan. “ Mereka itu karakternya pelupa jadi setiap tampil seperti kembali ke nol lagi untuk menghapal chordnya,”

Meski demikian, Shoyyad mengimbau kepada para pembimbing siswa berkebutuhan khusus selalu bersabar karena mereka pasti mempunyai kelebihan yang tidak semua orang lain tahu. “Yang terpenting jangan pernah putus asa untuk mengasah potensi mereka,” ujarnya.

Musik Sebagai Media Pembelajaran
Bukan tanpa alasan Sejahtera Band diciptakan. Menurut Kepala Sekolah SLB ABCD Sejahtera Kota Bogor, Leni Kusmiati mengatakan, musik adalah sarana terapi dan pengembangan potensi anak penyandang disabilitas.

“ Musik merupakan sarana terapi dan pengembangan potensi mereka. Bagi penyandang tunanetra merupakan  sarana pengembangan potensi melalui alat musik dan menyanyi. Bagi tunarungu merupakan sarana  pelatihan pendengaran agar mereka paham kalau dunia ini penuh bunyi dan melatih pendengaran mereka. Dan bagi penyandang tunagrahita, musik dapat membentuk dan menekan emosi mereka agar lebih enjoy dengan segala keterbatasannya,” papar Leni, Rabu (1/8/2018).

Terkhusus bagi Tunarungu, Leni menjelaskan di sekolahnya sudah membuat kurikulum khusus, yakni BKPBI (Bina komunikasi persepsi bunyi dan irama), pengenalan berbagai sumber bunyi  yang harus diketahui siswa, termasuk bunyi musik. Siswa Tunanetra usia 7 tahun pun sudah dikenalkan untuk menabuh drum yang dipadukan dengan musik.

Sekolah yang berdiri sejak 1976 tersebut juga mengkolaborasikan musik sebagai media pembelajaran agama. Leni mengatakan, di sekolahnya melakukan pembiasaan dengan mewajibkan shalat dhuha serta membacakan asmaul husna setelahnya. “Selain itu juga, disini kami mewajibkan siswa untuk membaca iqra agar melatih organ bicara tunarungu,” katanya menambahkan.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR