Di Pesantren SABA Garut, Santri Dididik Menjadi Produsen Logam Mulia

Daerah

Senin, 4 November 2019 | 13:19 WIB

191104132047-di-pe.jpg

Robi Taufik Akbar

Pengurus Pesantren SABA Garut memperlihatkan alat produksi logam mulia, Senin (4/11/2019).

LEMBAGA pendidikan dalam bentuk pondok pesantren (Ponpes) adalah sebuah lembaga non formal yang kehadirannya sangat penting dalam mendukung serta berkontribusi besar dalam mencerdaskan anak bangsa, termasuk pembentukan karakter manusia itu sendiri. Bahkan, pesantren ikut langsung dalam merekatkan kesatuan bangsa dan negara.

Kendati demikian, kontribusi besar itu terkadang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian pemangku kepentingan atau kebijakan. Sehingga bermunculan sebutan yang tidak pantas disematkan kepada santri pesantren, seperti halnya, sebutan radikalisme, kurang gaul, dan sebutan lainnya. Padahal, ponpes sampai sekarang telah mencatat tinta emas sebagai lembaga pendidikan yang tidak lekang dengan zaman, dan rusak dengan perkembangan. Terbukti terakhir ini telah disahkannya RUU Pesantren.

Pimpinan Ponpes SABA, Ceng Noer mengatakan, Ponpesnya memiliki visi misi memuliakan anak bangsa dunia dan akhirat. Bahkan, kata Ceng Noer, Ponpesnya bertekad mencetak 1.000 santri yang ahli memproduksi logam mulia.

"Mengapa demikian? Harapannya, pertama terciptanya para santri yang independen dalam berpikir dan bergerak. Kedua, santri mampu ikut serta dalam mensejahterakan umat atau masyarakat dalam menjalani kehidupannya, dan ketiga terciptanya para entrepreneur logam dari kalangan pesantren," kata pria lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir itu, Senin (4/11/2019).

Ceng Noer menambahkan, dengan terciptanya ketiga tujuan tersebut, maka santri akan dapat secara nyata membantu pemerintah dalam membangun atau mewujudkan bangsa Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, baldatun thayibatun warabbun ghafur. Ia juga menegaskan, peranan santri bukan hanya mampu menguasai ilmu Alquran saja melainkan bisa dicetak dalam menghasilkan dan menggali sumber daya alam.
"Salah satunya SABA Foundation kini sedang merancang dalam memproduksi logam mulia. Kami akan mencetak 1000 santri di Kampung Bahasa Arab, Cibunar Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, ahli memproduksi logam mulia," paparnya.

Dalam pemberdayaan dan peningkatan eksistensi serta kualitas pesantren, kata Ceng Noer, pihaknya berupaya mencetak para santri yang handal dengan ilmu pengetahuan serta teknologi sebagai media pengembangan. Lewat misi mulia itu, pihaknya berupaya membangun karakter bangsa yang adiluhung dan intelektual yang tinggi.

"Ini diperlukan sebuah terobosan dan inovasi baru yang cukup signifikan dalam mewujudkan cita-cita mulia pesantren. Tentunya, inovasi ini harus berakarkan kepada sumber daya alam yang melimpah ruah di negeri tercinta, Indonesia," katanya.

Ceng Noer juga mengutarakan hal terkait Sumber Daya Alam yang sering dilupakan oleh mayoritas pemangku lembaga pendidikan, padahal sangat diperhatikan/diperlukan oleh seluruh lapisan negara, yaitu sumber daya mineral. Mengapa mineral menjadi sumber daya yang penting untuk dilirik oleh pesantren, karena menurutnya mineral dari masa ke masa menjadi bidikan utama para negara "menginvansi" ke negara Indonesia, bahkan ke beberapa negara lainnya.

Mineral, lanjutnya, menjadi rebutan negara-negara adidaya, dalam rangka mencengkramkan "kuku" kolonialismenya. Melihat realitas sumber daya mineral menjadi "rebutan" berbagai bangsa, dan mineral dapat dijadikan income sangat "fantastis" bagi membangun sebuah peradaban yang adiluhung di dunia ini, maka sudah saatnya pesantren memperhatikan hal ini.

Dijelaskan Ceng Noer, berbagai alat produksi telah dimiliki dan sudah mulai dipergunakan dalam memproduksi logam mulia di pesantrennya. Kini para santri usai melaksanakan kewajibannya langsung belajar bagaimana caranya untuk memproduksi logam mulia.

"Setelah para santri kami didik, nantinya mereka akan memiliki keterampilan dan menghasilkan inovasi yang berguna. Jadi saat lepas dari santri mereka sudah dibekali ilmu keterampilan," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA