Pedagang Pasmo Limbangan Tuntut BOT Dicabut

Daerah

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:41 WIB

191021183237-pedag.jpg

Robi Taufik Akbar

RATUSAN pedagang Pasar Modern (Pasmo) Limbangan, menghentikan aktivitas berjualan dan memilih untuk aksi unjukrasa ke Gedung DPRD Kabupaten Garut. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Garut untuk tegas dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di pasar Limbangan yang sudah terjadi enam tahun yang lalu.

Aksi unjukrasa seluruh pedagang dimotori oleh tokoh Limbangan, Holil Aksan Umarzen yang juga Ketua Komite Penyelamat (Komat). Aksi tersebut dipicu oleh gagalnya PT. Elva Primandiri sebagai pengembang yang sudah bekerjasama dengan Pemkab Garut.

"Kami mendesak Pemkab Garut, untuk mencabut BOT dengan PT. Elva Primandiri. Yang mana akibatnya sangat merugikan dan memberatkan para pedagang. Sudah enam tahun masyarakat Limbangan di biarkan oleh Pemkab Garut," ujar Holil Aksan Umarzen, saat ditemui di Gedung DPRD Garut, Senin (21/10/2019).

Dalam tuntutannya, Holil mendesak agar DPRD Garut untuk segera membentuk Panitis Khusus (Pansus) Psamo Limbangan. Yang mana berdasarkan hasil temuan dan keluhan para pedagang pihak PT. Elva Primandiri sudah merugikan dan tidak memperhatikan aspek lainnya.

"Banyak intimidasi dan penekanan terhadap para pedagang, sehingga tidak nyaman dalam berjualan," ucapnya.

Sementara salah satu pedagang H. Iyan, mengatakan, aksi unjukrasa yang dilakukan oleh seluruh pedagang Pasmo Limbangan, merupakan puncak kekesalan atas ketidak tegasan Pemkab Garut dan PT. Elva Primandiri. "Kami meminta Bupati Garut, untuk segera mencabut BOT atau kerjasama dengan PT. Elva Primandiri," tegas Iyan.

Iyan juga mengaku, dalam aksi unjukrasa yang dilakukan pada hari ini seluruh pedagang menghentikan aktivitas berjualannya. Yang mana mereka ingin menuntut keadilan yang selama enam tahun sudah tidak diperhatikan oleh Pemkab Garut.

"Kami ingin ada keadilan dari pihak Pemerintah Kabupaten Garut, termasuk memberikan jaminan dalam kenyamanan dalam berjualan," katanya.

Ia mengaku, selama ini banyak intimidasi yang dilakukan oleh PT. Elva Primandiri sebagai pengembang. Salah satunya dengan menerjunkan preman bayaran untuk menakut-nakuti para pedagang.

"Kemarin memang ada preman bayaran, setelah di usir oleh H. Holil Akasan Umarzen mereka sudah tidak ada lagi di tempat. Termasuk pengembang PT. Elva Primandiri," ujarnya.

Aktivitas Perekonomian Lumpuh

Sementara itu adanya aksi unjukrasa yang dilakukan seluruh pedagang Pasmo Limbangan, perekonomian di Kecamatan Limbangan lumpuh yang mana tidak ada tranksaksi jual beli.

Berdasarkan pantauan, seluruh kios dan los terlihat tutup dan sepi dari keramaian para pembeli termasuk PKL yang selalu memadati setiap hari di Pasmo Limbangan.

Petugas keamanan Pasmo Limbangan, Rival Alamsyah, membenarkan tidak berjalannya aktivitas berjualan di Pasmo Limbangan. Mereka sejak pagi menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk berunjukrasa ke Gedung DPRD Garut.

"Aktivitas jualan hanya berlangsung dari pukul 05.00 WIB sampai dengan 08.00 WIB, sekarang sepi tidak ada yang berjualan," ujarnya, Senin (21/10/2019).

Dikatakan Rival, sejak tidak adanya aktivitas berjualan banyak masyarakat yang kesulitan untuk berbelanja dan mereka lebih memilih kembali kerumahnya masing-masing. "Banyak yang pulang lagi. Lantaran tidak ada yang berjualan," cetusnya.

Sementara salah satu pembeli asal Limbangan Timur, Qq Damayanti (28) sangat heran sesampainya dipusat perbelanjaan Pasmo Limbangan tidak terdapt kios/los yang berjualan. Padahal dirinya hendak belanja untuk kebutuhan berjualan di rumah.

"Saya tidak mengetahui kalau kondisi pasar ditinggal pemiliknya dan mengikuti aksi unjukrasa," katanya.

Qq menuturkan, banyak para pembeli yang lebih memilih pulang kembali. Mereka terlihat murung saat mengetahui kalau di Pasmo Limbangan tidak ada aktivitas jualan.

"Saya kan harus jualan, terpaksa belanja ke pasar lain yang dekat dengan Kecamatan Limbangan. Kasihan para pembeli sudah menungggu di rumah," cetusnya.


Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA