Ringankan Beban Orangtua, Dua Siswa SMK Santana Cibatu Jadi Buruh Perajin Dompet

Daerah

Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:25 WIB

191020182758-ringa.jpg

Robi Taufik Akbar

DEDE Rizki dan Aa Diki, siswa SMK Santana Cibatu, Kabupaten Garut, membantu kedua orangtuanya, Mahdi dan Nyinyi dalam memenuhi ekonomi sehari-hari dengan menjadi buruh pembuat kerajinan dompet di Kampung Selaawi, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu.

Setiap hari sepulang sekolah kedua anak ini langsung, membantu orang tuanya dalam membuat kerajinan dompet. Tugas kedua anak ini tiada lain memasangkan asesoris dompet yang hampir rampung di produksi oleh orang tuanya.

Dede Rizki (16) mengatakan, menjadi buruh pembuat kerajinan dompet sudah ditekuni sejak dua tahun lalu, saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yang mana upah hasil pembuatan dompetnya semuanya di bayarkan untuk kebutuhan sekolah. "Saya membantu meringankan beban kedua orang tua dalam membiayai hidup termasuk membiayai sekolah," ujarnya, Minggu (20/10/2019).

Dikatakan Rizki, dirinya bersama adik setiap hari membantu orang tua dalam menyelesaikan proses pembuatan dompet. Yang mana pekerjaan pembuatan dompet tersebut sebenarnya milik orang lain. "Ayah saya hanya menerima pekerjaan saja, jadi bukan modal sendiri dan hanya mendapatkan upah yang hanya cukup untuk membiayai hidup keluarga," cetusnya.

Berbeda dengan Aa Diki, dirinya berharap agar pemerintah memberikan bantuan permodalan, agar ayahnya bisa membuka konveksi pembuatan dompet sendiri tidak menjadi pegawai orang lain.

"Kalau modal sendiri dan dipasarkan sendiri, keuntungannya tentunya untuk keluarga berbeda dengan kondisi sekarang, hanya mengandalkan upah," ucapnya.

Sementara Mahdi, menuturkan, dirinya sangat menginginkan adanya bantuan permodalan dari pihak pemerintah. Yang mana kebutuhan ekonomi termasuk biaya sekolah bisa teratasi. "Memang sekarang cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak, itupun dalam setiap menerima upah langsung di bayarkan baik pada warung dan sekolah," katanya.

Mahdi mengaku, menjadi pengrajin dompet imitasi sudah ditekuninya lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang mana sebagai pegawai yang diberikan kepercayaan oleh seorang bos.

"Saya hanya dikirim bahan oleh bos, lalau aya dengan anak saya melakukan produksi sesuai dengan model tahun sekarang. Kalau upah dihitung dari jumlah dompet yang diselesaikan," cetusnya.

Editor: Endan Suhendra



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA