Bank Sampah Bisa Ubah Pandangan Masyarakat

Daerah

Jumat, 18 Oktober 2019 | 19:27 WIB

191018192359-bank-.jpg

Agus Somantri


VOLUME sampah di Kabupaten Garut yang terus meningkat dan tata pengelolaan sampah yang dilakukan Pemkab Garut terbilang masih konvensional, mengundang kekhawatiran banyak pihak.

Dalam sehari saja, setidaknya 100 ton sampah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing yang jadi satu-satunya tempat pembuangan akhir yang diangkat oleh petugas kebersihan di Garut. Belum, sampah yang tidak terangkat oleh petugas kebersihan di Garut.

"Dalam sehari, sedikitnya ada 100 ton sampah yang dibuang ke TPA, jadi tidak salah kalau dibilang Garut darurat sampah saat ini,” ujar Hendy Munawar, Direktur Bank Sampah Hade Jaya dalam diskusi Ngaji Alam yang digelar oleh komunitas pegiat lingkungan Kadaka dan Lentera, di Kedai Kopituin, Jalan Patriot, Kabupaten Garut, Jumat (18/10/2019).

Hendy yang mulai menggagas bank sampah sejak tahun 2016 mengungkapkan, kehadiran bank sampah di masyarakat, mengubah pandangan masyarakat akan sampah. Jika dahulu sampah jadi musuh, saat ini sampah menjadi teman karena bisa memberi dampak ekonomi pada warga.

“Sekarang sampah tidak lagi dilihat sebagai sampah dalam konotasi “sampah masyarakat”, tidak lagi dibuang, tapi dikumpulkan lalu diberikan ke bank sampah,” ucapnya.

Diakui Hendy, untuk membuka bank sampah di lingkungan warga, memang terasa berat di awal. Karena, harus ada sosialisasi yang kuat kepada masyarakat dan harus merubah kebiasaan masyarakat. Namun, jika dijalani secara serius, masyarakat ternyata mau berubah.

“Apalagi bank sampah ini juga membawa dampak ekonomi. Ibu-ibu bisa punya uang tambahan dari sampah yang mereka buang,” katanya.

Karena itu, Hendy pun mengajak kepada pegiat lingkungan di Garut mau memulai membuat komunitas-komunitas kecil bank sampah di lingkungannya masing-masing dan memulai gerakan ramah pada sampah.

Wa Ratno, pegiat lingkungan dari Gerakan Hejo menyebutkan, ruang-ruang diskusi harus terus digiatkan untuk memberi motivasi dan solusi bagi para pegiat lingkungan. Karena dari ruang-ruang diskusi ini, ada solusi yang bisa diambil pegiat lingkungan dalam menyikapi masalah lingkungan di sekitarnya.

“Masalah sampah ini kan sudah menjadi masalah bagi semua kalangan masyarakat. Harus ada solusi yang komprehensif, mulai dari partisipasi aktif masyarakat hingga teknologi pengolahan sampah yang modern," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Pegiat Lingkungan Kadaka, Herdiana Taufik, menuturkan  kegiatan diskusi yang mengangkat tema-tema permasalahan lingkungan, akan digelar secara berkala dua minggu sekali dalam acara Ngaji Alam. Ia pun berharap, semua pihak bisa ikut sumbangsih pikiran hingga tenaga untuk mencari solusi masalah lingkungan di Garut.

“Sampai empat pertemuan ke depan, kita masih akan membahas soal pengolahan sampah, karena saat ini Garut memang darurat sampah, kita perlu cari solusi untuk itu," ujarnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA