Minimalisasi Kekeringan, Pemkab Garut Tambah Saluran Irigasi

Daerah

Rabu, 9 Oktober 2019 | 19:39 WIB

191009193954-minim.jpg

net

Ilustrasi.

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Garut menambah sejumlah infrastruktur saluran daerah irigasi teknis guna meminimalisasi terjadinya kekeringan pada lahan pertanian maupun perkebunan.

Kepala Bidang SDA Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut, Dedi Heryana, mengatakan selain mengandalkan sumber mata air aliran sungai dalam mengatasi kemarau panjang yang berdampak pada kerkeringan lahan warga, sejumlah cara lainnya pun dilakukan Pemkab Garut.

"Diantaranya dengan memanfaatkan saluran irigasi teknis," ujarnya, Rabu (9/10/2019).

Menurut Dedi, kini Pemkab Garut memiliki sebanyak 40 unit saluran irigasi teknis yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Garut, setelah dua irigasi teknis dibangun di Kampung Cidahu dan Pasir Junti.    
 
Kendati demikian diakui Dedi, tidak seluruhnya irigasi teknis tersebut berjalan normal. Selain ada yang mengalami kerusakan, juga banyak yang mengering akibat tidak adanya suplai air dari aliran anak dan induk Sungai Cimanuk yang saat ini mengalami penurunan debit air.    

Padahal terang Dedi, aliran Sungai Cimanuk ini merupakan sumber air yang sangat potensial karena memiliki debit air yang cukup besar yaitu 1500 meter per detik yang bisa mengairi lahan sawah seluas 5513 hektare.

"Namun akibat kerusakan hutan di hulu Sungai Cimanuk dan maraknya alih fungsi lahan, kini debit air Sungai Cimanuk terus menyusut," ucapnya.  

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Garut mengalami kekeringan. Kemarau panjang menjadi penyebab utama yang berdampak keringnya sumber mata air dan irigasi.

Selama ini sejumlah lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Garut memang banyak yang mengandalkan tadah hujan untuk mengairi tanamannya.
Selain menyebabkan keringnya ribuan lahan pertanian dan perkebunan, kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Garut sejak beberapa bulan lalu juga berdampak kurangnya persediaan air untuk kebutuhan warga.

Pemkab Garut pun menetapkan status darurat kekeringan setelah ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan mengalami kekeringan. Sejumlah langkah disiapkan agar kekeringan tidak semakin meluas.  

Bupati Garut, Rudy Guawan, menyebutkan saat ini sudah lebih dari 2000 hektare lahan prtanian dan perkebunan di wilayah Kabupaten Garut yang dilanda kekeringan. Padahal wilayah yang mengalami kekeringan tersebut merupakan lahan produksi.

"Ini sudah SOS, kekeringannya sudah sangat menyebar. Makanya harus segera ditangani. Saya sudah kumpulkan dinas terkait untuk atasi masalah kekeringan ini," katanya.

Menurut Rudy, dari sebanyak 42 kecamatan yang ada di Kabupaten Garut semuanya sangat rawan terhadap kekeringan. Terlebih kemarau yang terjadi di prediksi masih akan berlangsung sangat panjang.  

"Informasinya sampai akhir Oktober masih kemarau. Makanya harus ada tindakan, apalagi menyangkut masalah air," ujarnya.

Rudy mengungkapkan, tahun depan pihaknya berencana untuk menambah sumber air untuk irigasi. Pemkab Garut akan menganggarkan dana sebesar Rp 20 miliar untuk pipanisasi dari sumber air ke lahan pertanian.  

"Ada 20 sumber air baru. Investasinya sekitar Rp 10 miliar sampai Rp 20 miliar. Dari 20 titik itu, ada lima sumber air yang besar. Ada di Malangbong, Pendeuy, Banjarwangi, dan Pakenjeng," ucapnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA