Produksi Bendera dari Leles Garut Merambah Mulai dari Sabang sampai Merauke

Daerah

Selasa, 13 Agustus 2019 | 20:50 WIB

190813203924-produ.jpg

Agus Somantri

Pengrajin bendera di Kampung Nagkaleah Lebak, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles melakukan proses pembuatan bendera.

BULAN Agustus adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu warga Kecamatan Leles, khususnya warga Desa Cangkuang dan Desa Leles. Pasalnya, sebagian besar warga di dua desa tersebut sudah lama menggantungkan hidupnya dari bisnis pembuatan dan penjualan bendera merah putih serta umbul-umbul untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

H. Adang (35), salah seorang pengusaha bendera merah putih di Kampung Nangkaleah Lebak, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles mengatakan, dirinya sudah lebih dari 27 tahun menggeluti usaha di bidang pembuatan dan penjualan bendera merah putih tersebut.

Adang pun mengakui, mendapatkan berkah yang melimpah dari usahanya itu setiap datang bulan Agustus. Bahkan omzetnya juga sudah mencapai hingga puluhan miliar rupiah. Bendera-bendera hasil produksinya tersebut dipasarkan ke seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.

"Kalau ditanya jumlah pekerja saya bingung, karena terlalu banyak. Jadi bahan baku dari saya lalu dibawa pengrajin untuk dijahit, diobras, disablon ke rumahnya masing-masing. Setelah itu dipasarkan kebeberapa daerah atau pulau di Indonesia, dari Sumatra sampai Papua," ujarnya, Selasa (13/8/2019).

Menurut Adang, dari Januari hingga Desember produksi bendera tidak ada hentinya, dan terus berjalan. Hanya saja, mulai bulan Mei setiap tahunnya produksi ditingkatkan seiring dengan mulai banyaknya pesanan.

Ia menyebutkan, biasanya memasuki awal bulan Agustus omzet penjualan meningkat tajam dan permintaan pun tak hanya dari warga setempat, namun juga dari beberapa bandar, baik dari luar Garut bahkan luar Jawa.

"Kalau untuk produksi tidak ada hentinya setiap hari setiap bulan jalan terus. Tetapi sejak Mei proses produksi ditingkatkan karena biasanya awal Agustus permintaan terus meningkat," ucapnya.

Adang menuturkan, di bulan-bulan biasa di luar Agustus omzet produksinya menghabiskan sedikitnya 200 rol setiap harinya. Bahan baku untuk pembuatan bendera merah putih tersebut dibelinya di Bandung.

"Sehari bisa menghabiskan 200 rol. Setiap rol sama dengan 100 yard atau setara dengan 90 meter. Alhamdulillah, banyak pengusaha dari Garut sampai luar Jawa yang langsung datang kesini untuk membeli," katanya.

Diungkapkan Adang, bendera dan umbul-umbul hasil produksinya itu dijual dengan harga beragam, mulai dari Rp 5 ribu hingga puluhan atau ratusan ribu rupiah tergantung ukuran.

"Untuk ukuran terkecil 60x90 cm atau kurang dari itu biasanya dijual dengan harga harga Rp 5 ribu. Umbul-umbul atau background warna-warni paling mahal sekitar seratus atau seratus lima puluh ribu. Kalau bendera paling harganya puluhan ribu. Bendera ukuran besar yang dipasang di beberapa kantor di Jakarta dan kota-kota besar lainnya banyak juga dari sini," ucapnya.

Adang menambahkan, membuat bendera, umbul-umbul atau sejenisnya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan asal saja ada kemauan.

Selain Desa Cangkuang dan Desa Leles, ada juga di Desa Salamnunggal, dan Sukarame. Sesuai dengan julukannya sebagai kampung bendera, ke empat desa di Kecamatan Leles tersebut selama ini sudah terkenal sebagai sentra pembuatan bendera merah putih, baik partai besar maupun kecil. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA