Pemilik Warung Eceran dapat Pelatihan UMKM dari Alfamart

Daerah

Rabu, 24 Juli 2019 | 14:39 WIB

190724144311-pemil.jpg

Agus Somantri

Sejumlah pemilik usaha warung eceran saat mengikuti pelatihan usaha mikro kecil dan menengah yang diselenggarakan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, di Gedung Serba Guna Kodim 0611 Garut, Jalan Veteran, Kabupaten Garut (23/7/2019).

USAHA warung eceran yang menjual kebutuhan sehari-hari kerap kali menjadi pilihan bagi mereka yang ingin memulai usaha. Selain modal yang relatif kecil, pengelolaan yang dianggap mudah, dan keuntungan yang relatif besar menjadi faktor penyebab orang tertarik memiliki usaha warung eceran.

Namun sayangnya, tidak sedikit usaha mikro kecil dan menengah yang tidak berkembang, bahkan merugi karena pengelolaan yang tidak baik. 
Branch Manager Alfamart, Danny Ferbianto, mengatakan, salah satu contoh penyebab kerugian yakni karena tidak ada pencatatan dan pemisahan antara barang yang menjadi modal usaha dengan yang dikonsumsi sendiri.
"Kondisi ini mendorong Alfamart sebagai salah satu ritel modern untuk menjalankan pelatihan manajemen ritel yang dapat diikuti oleh pemilik usaha warung," ujarnya dalam pelatihan usaha mikro kecil dan menengah yang diselenggarakan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, di Gedung Serba Guna Kodim 0611 Garut, Jalan Veteran, Kabupaten Garut (23/7/2019).
Menurut Danny, dalam pelatihan tersebut para peserta memperoleh materi terkait dengan manajemen penataan barang, pengaturan stok barang, manajemen keuangan (cash flow), tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati, serta pelayanan.
 
Ia menyebut, mayoritas para pedagang telah menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip manajemen ritel modern, namun tidak mengetahui mengapa hal tersebut harus dilakukan. Salah satunya mengenai pentingnya pembukuan. 
“Mayoritas para peserta tidak membuat catatan pembukuan. Jadi jika ditanya berapa besar keuntungan harian yang diperoleh, pada umumnya peserta tidak tahu,” ucapnya.
 
Padahal, terang Danny, jika memiliki catatan keuangan, selain pemilik warung dapat mengetahui berapa keuntungan yang dihasilkan, juga dapat meningkatkan penjualan. 
“Karena berdasarkan catatan ini, nanti dapat dilihat produk apa yang nilai penjualannya paling tinggi, dan mana yang tidak. Lalu nanti dapat dikembangkan bagaimana cara mengoptimalkan barang-barang yang penjualannya rendah,” katanya.
 
Danny menuturkan, dalam pelatihan tersebut peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menata barang agar menarik konsumen. Bukan hanya menjaga kebersihan, pemilik warung harus segera mengisi barang yang cepat habis, agar jangan terjadi lost sales atau kehilangan potensi penjualan.
Alfamart juga, lanjut Danny, mendorong pemilik warung untuk mulai mengoptimalkan penggunaan teknologi melalui aplikasi Alfamikro, yakni aplikasi khusus bagi pemilik warung yang tergabung dalam pedagang binaan Alfamart. 
“Industri ritel saat berbasis ke dunia digital. Jadi para pemilik warung juga harus beradaptasi dengan kondisi ini agar tidak tertinggal,minimal dengan melibatkan penggunaan aplikasi dalam aktivitas bisnis ritelnya,” ucapnya.
Danny mengungkapkan, ada puluhan ribu pemilik warung yang telah menggunakan aplikasi Alfamikro, untuk membeli berbagai produk dengan harga yang kompetitif dan pelayanan yang cepat. 
"Sekarang total pengusaha yang menggunakan aplikasi Alfamikro di seluruh Indonesia mencapai 46 ribu. Hal itu mengalami peningkatan setiap tahunnya," ujarnya.
 
Danny menambahkan, pelatihan manajemen ritel merupakan salah satu corporate social responsibility yang dijalankan Alfamart sebagai bentuk dorongan pada usaha ritel tradisional. 
"Alfamart juga memiliki program yang berorientasi membantu usaha mikro kecil dan menengah dengan membantu pemenuhan pasokan barang melalui program Outlet Binaan Alfamart (OBA)," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA