Sebarkan Berita Hoaks, Seorang Guru di Garut Terancam Bui 20 Tahun

Daerah

Selasa, 21 Mei 2019 | 19:47 WIB

190521195430-sebar.jpg

Agus Somantri

AS (54), seorang guru di Kabupaten Garut terpaksa harus berurusan dengan pihak kepolisian karena diduga telah menyebarkan pesan berisi ancaman teror ke beberapa grup whatsapp (WA).  
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jabar, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, didampingi Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, mengatakan tersangka AS ditangkap pada Sabtu (18/5/2019) lalu di rumahnya, Kampung Jatijajar, Desa Sindangkerta, Kecamatan Cibatu.  
Menurut Trunoyudo, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya laporan masyarakat yang resah dengan beredarnya ajakan aksi bom massal di Jakarta pada 21-22 Mei 2019. Seruan aksi jihad itu beredar di grup WA.
"Berawal dari laporan polisi pada 18 Mei, lalu dilakukan penyelidikan hingga penyidikan. Dari pemeriksaan saksi-saksi, mendapat alat bukti, maka didapatkan satu tindakan pidana dan ditetapkan tersangka," ujarnya di Mapolres Garut, Jalan Sudirman, Kabupaten Garut, Selasa (21/5/2019). 
Menurut Trunoyudo, pesan teror yang disebarkan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di salah satu SMA di wilayah Kecamatan Cibatu tersebut berisi ancaman pengeboman massal di Jakarta pada 21 Mei sampai 22 Mei, sehingga dampaknya ke masyarakat membuat rasa ketakutan. 
Sementara terkait lokasi ancaman pengeboman, terang Trunoyudo, tak dituliskan lokasi jelasnya dimana. Hanya saja ada keterangan daerah Jakarta yang akan menjadi sasaran (pengeboman).
"Pesan itu disebarkan tersangka ke beberapa grup whatsapp. Seperti grup PAI, media Islam, sedulur Banten, SGT, dan Indonesia for Palestin," ucapnya.
Trunojoyo menyebut, penegakan hukum yang dilakukan merupakan tindakan terakhir. Selama ini, pihak kepolisian sudah melakukan tindakan preventif untuk mencegah penyebaran hoax yang dapat meresahkan masyarakat tersebut.
Tersangka, lanjutnya, secara sadar telah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. Selain ke grup whatsapp, AS juga menyebarkan informasi tersebut ke beberapa kontak pribadinya.
"Yang jelas ini semua hoaks. Pelaku asal menyebarkan informasi yang diterimanya, "ucapnya. 
Trunoyudo menambahkan, hingga kini pihaknya masih mendalami pembuat awal pesan tersebut. Darimana pelaku dapat informasi tersebut. "Belum ditangkap (pembuat pesan). Masih ditelusuri untuk pembuatnya," katanya.
Hingga kini, tersangka AS masih menjalani pemeriksaan secara intensif di Mapolres Garut. Atas perbuatannya, AS dijerat dengan dugaan tindak pidana pemberantasan Terorisme sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 7 UU RI No : 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemeeintah Pengganti UU No : 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi UU dan Pasal 6 UU RI No : 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas UU No : 15 Tahun 2003, dan Pasal 45A Ayat ( 2 ) UU RI No : 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU No : 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 15 UU No : 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana.
"Ancaman hukumannya minimal 5 Tahun dan maksimal 20 tahun penjara,” katanya.
Minta Maaf
Sementara itu AS (54), mengakui jika dirinya mendapat pesan ancaman teror itu pada Kamis (16/5/2019) lalu sekitar pukul 17.53 WIB dari sebuah grup relawan Prabowo-Sandi. Selanjutnya pada Kamis malam, ia pun kembali mengirimkan pesan itu ke sejumlah grup WA yang diikutinya. 
"Sebenarnya waktu itu belum betul-betul baca dan tak maksud share. Cuma kayaknya ada sedikit error di HP. Ada masuk pesan itu dan terjadi pengiriman pesan," ujar AS di Mapolres Garut.
AS pun menyebut jika dirinya bukan merupakan simpatisan partai atau pendukung fanatik salah satu calon. Namun ia hanya senang mengirim pesan yang didapatnya.
"Saya cuma senang mengshare sehingga kalau ada pesan suka saya share lagi," ucapnya.
As juga membantah jika dirinya bukan merupakan pembuat pesan tersebut. Ia menyebut, banyak informasi hoaks yang tersebar di grup yang diikutinya.  Pesan yang dikirimkannya pun terkait ancaman bom di Jakarta tak diketahui olehnya.
"Saya bukan yang buat pesannya. Jakartanya (ancaman bom) juga tidak tahu," katanya.
AS pun berulangkali meminta maaf karena sudah membuat gaduh di masyarakat dengan menyebar pesan teror ancaman bom di Jakarta tersebut. "Saya benar-benar minta maaf. Saya menyesal," ujarnya sambil tertunduk. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR