Setelah Menunggu Ratusan Tahun, Palang Pintu Bangbayang Akhirnya Dipasang

Daerah

Senin, 20 Mei 2019 | 20:07 WIB

190520200831-setel.jpg

Agus Somantri

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jabar Ditjen Perkertaapian, Achyar Pasaribu, didampingi Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman dan Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, saat melakukan peletakan batu pertama pemasangan palang pintu rel kereta api di Kampung Bangbayang, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Senin (20/5/2019).

PALANG pintu rel kereta api (KA) di Kampung Bangbayang, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut yang sudah ratusan tahun tidak di pasang akhirnya akan segera di pasang oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pemasangan palang pintu rel kereta api tersebut disambut baik oleh Premerintah Kabupaten (Pemkab) Garut.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, mengatakan bahwa palang pintu di perlintasan rel kereta api Kampung Bangbayang, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora tersebut sudah jauh-jauh hari diajukan kepada pemerintah pusat. Namun karena berbagai hal, akhirnya baru bisa terealisasi saat ini.

"Alhamdulillah sudah di acc sama Bapak Menteri (Perhubungan), untuk pemasangan palang pintu rel kereta," ujarnya, usai peletakan batu pertama pemasang palang pintu rel Bangbayang di Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Senin (20/5/2019).

Menurut Helmi, jalan yang melintasi rel kereta api tanpa palang pintu itu cukup berbahaya bagi pengendara yang baru melintas di daearah tersebut. Selain itu, jalur alternatif Garut-Bandung itu pun selalu ramai dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat yang tidak hanya warga Garut, tetapi juga dari luar kota.

"Apalagi saat musim arus mudik Lebaran, sehingga perlu di pasang palang pintu untuk keselamatan pengendara. Mudah-mudahan dengan adanya palang pintu ini menurunkan kecelakaan dan meningkatkan keselamatan," ucapnya.

Meskipun sudah di pasang palang pintu otomatis, lanjut Helmi, namun para pengendara juga tetap harus hati-hati dan selalu waspada ketika akan melintasi jalur rel kereta api (KA).

"Tetap harus hati-hati, karena ada juga palangnya yang ditabrak, untuk itu harus hati-hati," katanya.

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jabar Ditjen Perkertaapian, Achyar Pasaribu, menyebutkan pemasangan palang pintu rel kereta api di Kampung Bangbayang Kadungora ini ditargetkan selesai pada 27 Mei atau sebelum musim arus mudik Lebaran 2019.

"Pemasangannya selesai sebelum Lebaran, pengoperasiannya nanti menggunakan HT dan akan di bimbing oleh petugas dari stasion sebelah (terdekat) ucapnya.

Achyar menyebut, nantinya petugas yang akan menjaga palang pintu tersebut tidak dari PT KAI seperti palang pintu lainnya, akan tetapi diserahkan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut, termasuk dalam pemberian honornya.

"Petugasnya dari Dishub, nanti kita akan diklat khusus oleh kita dari kementerian," ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Garut, Suherman Mustofa, menuturkan pihaknya akan menyiapkan sebanyak lima orang petugas honorer yang akan bertugas menjaga palang pintu rel kereta api di Kampung Bangbayang Kadungora secara bergantian.

"Nanti petugasnya akan disiapkan dan ikut diklat dulu, jumlahnya ada lima orang," katanya.

Nunik Agustini (52), warga Kecamatan Kadungora mengaku sangat menyambut baik dengan dipasangnya palang pintu di perlintasan rel kereta api Bangbayang tersebut. Karena menurutnya sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun belum pernah dipasang palang pintu di daerah tersebut.

"Karena tidak adanya palang pintu banyak terjadi kecelakaan antara kereta api dengan kendaraan roda dua maupun lebih. Terakhir sekitar tiga bulan lalu ada pengendara motor yang terseret hingga puluhan meter," ucapnya.

Delapan perlintasan tidak miliki palang pintu otomatis
Sementara itu Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, menyebutkan sedikitnya ada delapan perlintasan kereta api di Kabupaten Garut yang tidak memiliki palang pintu otomatis, sehingga membutuhkan petugas 
pengaman khusus untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan di musim mudik dan balik Lebaran ini.

"Semuanya ada sembilan perlintasan tanpa palang pintu, tapi yang satu sekarang sudah dipasang, jadi tinggal delapan lagi," ujarnya.

Menurut Budi, ke delapan perlintasan kereta api tanpa palang pintu itu tersebar di bebarapa titik, seperti di wilayah Kadungora, Leles, dan beberapa titik lainnya sepanjang perlintasan kereta di wilayah Garut.

Budi menyebut, perlintasan kereta yang cukup ramai dilalui kendaraan diantaranya di wilayah Cikembulan Kadungora dan Cangkuang Kecamatan Leles, sehingga perlu adanya pengamanan khusus dari polisi, dibantu TNI dan petugas Dinas Perhubungan saat pengamanan Lebaran nanti.

"Di Garut ini ada jalan-jalan kecil yang tidak pakai palang, itu harus kami jaga, disiapkan anggota agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," katanya.

Diungkapkan Budi, setiap musim arus mudik Lebaran seluruh perlintasan kereta api di wilayah hukum Polres Garut baik yang ada palangnya maupun tidak akan mendapatkan penjagaan ketat dari pihak kepolisian dan aparat berwenang lainnya.

Budi pun berharap, adanya petugas di perlintasan itu bisa mengingatkan masyarakat agar senantiasa tertib dan selalu waspada ketika hendak melintasi perlintasan kereta api.

"Perlintasan kereta tanpa palang ini sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang menakutkan. Untuk itu kita harus menjaganya untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," katanya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR