Polres Garut Masih Selidiki Kasus Penyimpangan Seksual

Daerah

Rabu, 24 April 2019 | 21:19 WIB

190424212511-polre.jpeg

net

UNIT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Garut, saat ini masih melakukan penyelidikan terkait kasus penyimpangan seksual atau seks menyimpang yang dilakukan belasan anak di wilayah Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.
Kasatreskrim Polres Garut, AKP Maradona Amrin Mappaseng, mengatakan penyelidikan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari salah satu orang tua anak yang menjadi korban perilaku seks menyimpang yang dilakukan temannnya sendiri. 
Menurut Maradona, dari hasil penyelidikan sementara, ada 19 anak yang diketahui melakukan aktivitas seks menyimpang di satu kampung yang sama. Ke-19 anak ini selain sebagai pelaku juga sebagai korban. Dengan rentang usia  rata-rata antara 8 hingga 13 tahun.   
"Jadi awal dilakukannya penyelidikan, setelah salah satu orang tua korban melaporkan kejadian ini kepada kita. Dalam laporannya ia menyebutkan jika anaknya mendapatkan aksi pencabulan dari temannya saat bermain bersama di rumahnya," ujarnya di Mapolres Garut, Jalan Sudirman, Kabupaten Garut, Rabu (24/4/2019). 
Kepada penyidik, terang Maradona, orang tua korban mengaku awalnya tidak merasa curiga saat teman anak laki-lakinya itu datang ke rumahnya untuk bermain sehingga dibiarkan begitu saja. Namun beberapa saat kemudian, teman anaknya itu tiba-tiba keluar dengan tergesa-gesa dalam kondisi celana melorot dan alat vitalnya terlihat tegang. 
“Orang tua korban ini lalu melihat anaknya tengah menangis dan celananya pun terlihat melorot sehingga ditanya kenapa. Si anak ini mengaku dicabuli oleh temannya. Lalu si orang tua ini pun kemudian melaporkan ke kita sehingga hal tersebut menjadi dasar penyelidikan kita,” ucapnya.
Maradona menyebut, berdasarkan proses penyelidikan yang dilakukan pihaknya, diketahui ada 19 anak yang diduga melakukan aktivitas seks menyimpang. Pemicunya, setelah anak-anak tersebut menonton film porno dari gadget milik salah satu anak yang berusia 13 tahun.  
“Film porno tersebut dilihat dari website. Kita juga belum mengetahui dari mana ia tahu linknya. Namun yang jelas si anak ini bisa membuka link tersebut kemudian dipraktekan kepada temannya yang menonton dan kemudian oleh yang menjadi korban ini juga dipraktekan lagi. Jadi korban ini pelaku dan pelaku ini juga korban,” katanya.
Maradona menuturkan, dalam melakukan aktivitas seks menyimpang tersebut, anak-anak itu tidak hanya melakukannya di rumah saja. Sebagian anak kepada penyidik mengaku melakukan aksi yang disebut mereka sebagai "dodombaan" itu di lapangan bola hingga di toilet.
Ia mengungkapkan, saat ini perkara tersebut masih dalam penanganan pihaknya dengan mengedepankan kepentingan anak sesuai dengan amanat undang-undang. Pihaknya juga terus memantau perkembangan kondisi anak dan terus menyelidiki pangkal dari aktivitas perilaku seks menyimpang tersebut. 
"Dalam kasus ini belum ada yang dinyatakan sebagai tersangka utama. Berdasarkan pengakuan mereka (anak-anak), aktivitas seks menyimpang tersebut mulai dilakukan sejak akhir 2018 lalu," ucapnya.
Maradona menambahkan, selain melakukan penyelidikan lebih jauh, pihak kepolisian pun, melalui tim Psikologi dari Polda Jabar sudah melakukan psikoterapi dan art terapi kepada anak-anak tersebut dan orang tuanya.
“Selain oleh pihak kita, pendampingan anak juga dilakukan P2TP2A (pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak) Kabupaten Garut,” katanya.
Sementara itu Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Jawa Barat menyebut ada dua faktor kemungkinan yang menyebabkan puluhan anak di Kabupaten Garut mengalami perilaku seks menyimpang gara-gara menonton video porno. 
Kepala Bagian Hubungan Antar Lembaga Komnas PA Jawa Barat, AR Enggang, mengatakan hal pertama yang pihaknya curigai adalah adanya seseorang dewasa yang menjadi dalang di balik penympangan perilaku seksual anak-anak tersebut. 
"Banyak kemungkinan. Bisa jadi ada yang menyuruh. Kalau ada yang nyuruh berarti ada aktor intelektual di balik ini, atau by order, atau ada yang pesan,” ujarnya di kampus STH Garut, Jalan Suherman, Rabu (24/4/2019).
Menurut Enggang, jika hal tersebut terjadi, pihaknya pun sangat mengecam keras. Sebab menurutnya, anak dilarang keras dan sama sekali tidak boleh dijadikan objek eksploitasi. 
“Anak itu tidak boleh sama sekali dijadikan objek eksploitasi," ujarnya.
Selain itu, lanjut Enggang, Komnas PA juga menilai para bocah itu hanya mengimplementasikan apa yang mereka lihat dari tayangan video orang dewasa. 
"Kalau misalnya ini simulasi ya bisa saja. Karena analisa saya juga lebih mengarah ke situ. Ini bisa dilihat dari konteks komunikasi mereka dengan teman-temannya yang sama-sama melakukan itu,” katanya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR