Jasa Raharja Berikan Santunan pada Ahli Waris Korban Kecelakaan di JlnRaya Cijapati

Daerah

Kamis, 14 Maret 2019 | 19:43 WIB

190314195028-jasa-.jpg

Agus Somantri

Icih (56), memperlihatkan potonya bersama Almarhum suaminya, Mansur, yang menjadi korban tabrak lari Jalan Raya Cijapati-Kadungora, beberapa waktu lalu, Kamis (14/3/2019).

Penanggungjawab Kantor Pelayanan Jasa Raharja Tingkat II Kabupaten Garut Imam Cahyono menyambangi Icih (56), ahli waris korban kcelakaan tabrak lari di ruas Jalan Cijapati-Kadungora, beberapa waktu lalu.  “Baru kali ini saya ketemu ahli waris yang tuna wicara,” ujar Imam Cahyono, di Kampung Kiaragoong, Desa Mandalasari Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Kamis (14/3/2019).
Icih merupakan ahli waris dari seorang korban kecelakaan tabrak lari yang terjadi beberapa waktu lalu di ruas Jalan Raya Cijapati-Kadungora, tepatnya di kawasan Tanjakan Kopi, Desa Rancasalak, Kecamatan Kadungora.
Mansur, suami Icih yang saat itu tengah mengendarai sepeda motor, ditabrak dari belakang oleh mobil bak terbuka di jalan menurun curam hingga mengalami luka pendarahan di bagian kepala dan meninggal di RSUD dr Slamet Garut setelah beberapa jam menjalani perawatan.
Pengalaman mendatangi keluarga korban kecelakaan lalulintas, bukan pertama kali bagi Imam. Namun kali ini ada pengalaman berbeda, ahli waris dari korban yaitu istrinya ternyata tuna wicara. Makanya, perlu pendamping saat dirinya melakukan verifikasi. 
“Kan kita tanyai dulu hubungannya sama korban seperti apa, kemudian kita cocokan dengan berkasnya. Memang tadi sempat sulit, tapi ada pihak keluarga yang mendampingi, jadi komunikasi bisa nyambung lah,” ujarnya, Kamis (14/3/2019).
Menurut Iman, dari sekian banyak keluarga korban kecelakaan yang di verifikasinya, kondisinya memang berbeda-beda. Namun, yang paling unik adalah saat dirinya mengunjungi Icih. Icih terlihat begitu antusias saat menerima dirinya yang didampingi anggota Unit Lakalantas Polres Garut, Bripka Rukma. Hanya saja, antusias Icih untuk bercerita terganjal oleh cacat yang dialaminya.
“Saya lihat dia berusaha membantu kita dengan menceritakan apa yang menimpa suaminya, ini hebat, saya sangat menghargai semangatnya,” ucap Imam.
Diungkapkan Iman, untuk menanyakan satu pertanyaan saja selain bicara dirinya juga harus memperagakan apa yang ditanyakan lewat bahasa tubuh. Padahal, banyak hal yang perlu diverifikasi dari Icih. Hal inilah yang membuat dirinya merasa tertantang. Untungnya, ada orangtua dan keluarga Icih yang mendampinginya sehingga membantu memudahkan berkomunikasi. 
“Dari awal memang kita sudah dapat informasi soal ahli waris yang akan kita temui. Makanya saya minta ada pendampingnya,” katanya.
Sekitar setengah jam Imam menanyai Icih, suasana pun begitu cair karena Imam sudah mengetahui sejak awal kondisi Icih. Pertanyaan pun dibuat singkat dan ringan agar tak perlu jawaban panjang. Dengan begitu Icih bisa menjawab dengan mudah meski apa yang disampaikannya harus diperhatikan betul dengan seksama oleh Imam.
“Kita juga lihat bahasa tubuhnya, kalau dengarkan apa yang disampaikan ya sulit, tapi keluarganya juga bantu menjelaskan,” ucapnya.
Iman menyebut, untuk menyalurkan santunan bagi korban kecelakaan, ada proses yang perlu dilalui. Namun, pihak Jasa Raharja sudah berusaha membuat prosedur yang simpel untuk pihak keluarga korban melakukan klaim. 
“Pertama yang paling penting adalah adalah LP (laporan) soal kasus kecelakaannya dari aparat kepolisian, nanti kita akan verifikasi laporannya. Kemudian keluarga korban melengkapi berkas-berkas persyaratannya setelah itu bisa langsung cair,” ujarnya.
Proses verifikasi ini, lanjut Iman, biasanya juga harus dilengkapi dengan kunjungan lapangan, seperti yang terjadi pada kasus ahli waris Icih ini misalnya. Hal ini menurut Imam dilakukan untuk memastikan santunan diberikan pada ahli waris yang tepat, dan korban memang meninggal karena tabrak lari.
“Makanya, kita juga temui saksi-saksi yang melihat kejadian, kemudian kita cek juga tempat kejadian perkaranya, polisi pun sama seperti itu, ada olah TKP sebagai kelengkapan LP untuk ke kita (Jasa Raharja),” ungkapnya.
Iman menuturkan, jika berkas persyaratan diangap lengkap dan hasil verifikasi di lapangan sudah dinyatakan sesuai, maka pihaknya bisa langsung mencairkan santunan sebesar Rp 50 juta untuk korban kecelakaan lalulintas yang meninggal dunia.
Dikatakan Iman, asuransi ini merupakan bentuk tanggungjawab pemerintah kepada para korban kecelakaan lalulintas. Santunan yang diberikan, menurutnya merupakan bukti dari hadirnya pemerintah untuk keluarga korban kecelakaan.
"Jadi ini bukti pemerintah hadir untuk keluarga korban kecelakaan lalulintas ya Bu. Meski tidak seberapa, ini santunan dari pemerintah untuk keluarga,” kata Imam kepada keluarga Icih.
Lina (65), orangtua Icih mengakui, ahli waris korban yaitu Icih memang memiliki kekurangan fisik berupa tuna wicara. Makanya, dirinya bersama anak Icih yang telah dewasa berusaha membantu komunikasi Icih dengan petugas yang datang ke rumahnya.
“Ya memang petugasnya minta didampingi biar gampang ngobrolnya, Alhamdulillah bisa lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Icih sendiri terlihat sumringah menerima kehadiran Imam yang didampingi Bripka Rukma, anggota Unit Lakalantas Satlantas Polres Garut. Meski sedikit malu-malu dan sulit berbicara, Icih selalu berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh Imam sebagai perwakilan Jasa Raharja dan Bripka Rukma dari Satlantas Polres Garut. 
Icih pun dengan bangga memperlihatkan foto dirinya bersama Almarhum suaminya saat pernikahan anak pertamanya. Foto yang tertempel di dinding ruang tengah rumahnya pun, sengaja diturunkan dan dipegangnya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR