Baru 2% Kaum Pria Garut Lakukan KB

Daerah

Selasa, 12 Februari 2019 | 15:15 WIB

190212151712-baru-.jpg

Robi Taufik Akbar

Di Kabupaten Garut, program KB Pria kalah popular dengan KB wanita yang didukung dengan bervariasinya alokon.

KB Pria diharapkan sebagai perwujudan dari kesetaraan gender, bahwa wanita tidak melulu menjadi obyek dari KB. Evaluasi kebijakan publik diperlukan, mengingat apabila KB ditinggalkan seperti setelah era orde baru maka akan terjadi ledakan pendudukan yang berdampak pada masalah sosial lainnya.

"Sulitnya peran serta pria sebagai salah satu objek untuk kegiatan program KB yang seringkali digemborkan oleh pemerintah dan kesehatan tidak dipungkiri," ungkap Kepala Bidang Pengendalian penduduk, Pada Dinas DPPKBPPPA, Drs.Bubu Burhanuddin saat ditemui usai pelaksanaan penilaian program kampung KB. di Kampung Taringgul, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, Selasa (12/02/2019).

Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) sebagai bentuk sosialisasi program keluarga berencana (KB). "Saat ini istilah KIE merupakan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dibagi beberapa kategori metode yakni KIE Individu, Kelompok, massa dan ada KIE komunikasi interpersonal, dengan KIE tersebut diharapkan ada perubahan perilaku baik pengetahuan dan keterampilan bahkan dapat lebih memahami," kata Bubun

Bubu menyebutkan, pihaknya mengaku kesulitan dengan permasalah KB Pria yang kalah popular dengan KB. Pasalnya selain sulitnya keinginan pria yang melakukan KB, juga faktor alat kontrasepsi yang sangat terbatas.

"Bagi bapak-bapak ada tiga metode yang pertama kondom, Suntik hormon, Vasektomi. Untuk melakukan vasektomi, dokter bedah akan melubangi buah zakar Anda untuk menarik saluran vas (saluran penyalur sperma), memotongnya, dan kemudian mengikat kedua ujungnya sebelum menutup kembali buah zakar pria dengan jahitan. Proses ini menyebabkan sperma tidak bisa bercampur lagi dengan air mani," ucapnya.

Namun pada umumnya, aku Bubun, laki-laki pada tidak mau melakukan KB, karena mereka beranggapan hal tersebut merupakan urusan perempuan.

"Sangat sulit, selain keterbatasan alat kontrasepsi, kedua dinegara ini masih bersifat Patriarki jadi laki-laki beranggapan permasalahan KB itu urusan perempuan, makanya paling 2% se-kabupaten Garut dari 270 ribu yang ikut program KB Pria," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR