Pasangan Muda Dominasi Perceraian di Cirebon

Daerah

Selasa, 8 Januari 2019 | 09:29 WIB

190108093258-pasan.jpg

American Psychological Association

Ilustrasi

ANGKA perceraian di Kabupaten Cirebon yang merupakan salah satu daerah dengan angka perceraian tertinggi di Indonesia.
Sepanjang tahun 2017-2018 ternyata didominasi pasangan suami istri (pasutri) berusia muda. Usia perkawinan pun sangat pendek, sebagian besar tidak lebih dari dua tahun. Bahkan tidak sedikit yang baru tiga bulan sudah mengajukan proses perceraian.

Pikiran-rakyat.com menulis, putusan perceraian sepanjang tahun 2018 mencapai 7.750 perkara. Sisa yang belum diputus dan prosesnya berlanjut di tahun 2019 mencapai 1.050 lebih, dari keseluruhan yang didaftarkan sebanyak 8.790 perkara termasuk sisa perkara di tahun 2017.

Angka tersebut tidak bergeser jauh dari angka perceraian di tahun 2017 yang sama-sama di kisaran 7.700 perkara. Hanya yang menjadi kecenderungan baru ialah yang bercerai, bergeser ke pasutri usia muda dengan usia perkawinan yang singkat.

“Ini fenomena baru. Muncul dalam setahun  ini. Angka perceraian didominasi pasutri berusia muda di bawah 25 tahun atau masuk kategori generasi milenial,” tutur Panitera Muda Permohonan Perceraian Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Cirebon, Atikah Komariah.

Dari data yang tercatat di Kantor PA setempat, dominasi pastry dari generasi milenial yang bercerai mencapai 85 persen. Sisanya yang 15 persen, perceraian yang dilakukan pasutri dengan usia matang di atas 40 tahun.

Hal yang mengejutkan, pergeseran pola perceraian pada pasutri usia muda pemohon perceraian ialah usia perkawinan yang relatif singkat. Paling lama dua tahun, dan sebagian besar usia perkawinan di bawah satu tahun.

“Bahkan ada yang baru tiga bulan sudah mengajukan perceraian. Tentu kami tolak karena pasutri yang mau mengajukan cerai itu minimal usia perkawinannya enam bulan. Mereka yang di bawah enam bulan, kami minta untuk membatalkan atau menunda perkaranya,” tutur Atikah.

Usia matang menurun
Kecenderungan lain yang merupakan kejutan ialah justru pada pasutri di usia matang di atas 40 tahun atau 50 tahun. Pasutri usia tersebut, sepanjang tahun 2018, relatif sedikit yang mengajukan perceraian, secara umumnya kisarannya tidak lebih dari 15 persen.

“Sebelum tahun 2018, atau tahun-tahun ke belakang, perceraian selalu didominasi justru oleh pasutri dengan usia matang. Sekarang menurun jauh. Mungkin ada pola perubahan kedewasaan dalam pasutri berusia matang itu,” tutur Atikah.

Dari seluruh perkara yang masuk, rata-rata perceraian masih didominasi oleh faktor ekonomi. Tak kalah mengejutkan, perkara perceraian di kalangan pasutri muda yang masuk justru gugat cerai atau perceraian atas insiatif dari pihak perempuan.

“Faktor ekonomi menjadi penyebab utama. Kemudian kematangan berpikir dan tingkat emosi. Sebagian besar insiatif perceraian dari pihak perempuan. Mereka mengaku menyesal telah menikah karena ternyata suaminya atau pihak laki-laki tidak bisa memberi nafkah secara memadai,” tuturnya.

Perceraian pada usia muda di tahun 2018 lalu juga didominasi masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Sebagian diantaranya pasutri yang hanya berlatar belakang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP). Mata pencaharian atau profesi sang suami juga menempati sektor informal, buruh, petani dan pekerja serabutan.

“Fenomena ini menjadi pelajaran perlunya persiapan matang pada saat memutuskan untuk kawin pada generasi muda. Pikirkan kemampuan ekonomi dan yang tak kalah penting kesiapan jiwa, pikiran dan emosi,” tutur Atikah.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR