Bupati : Kekerasan Kepala Sekolah pada Siswa Tidak Dibenarkan

Daerah

Senin, 7 Januari 2019 | 20:45 WIB

190107204841-bupat.jpg

-Plt. Kadisdik Garut, Totong, S.pd, M.pd

BUPATI Garut, Rudy Gunawan meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut untuk segera menyelesaikan kasus dugaan kekerasan yang dilakukan kepala sekolah terhadap siswa di SMP Baitul Hikmah Tarogong Kaler, karena tidak dapat dibenarkan.

"Dari sisi pendidikan itu tidak dibenarkan. Apalagi dari segi hukum bisa dijerat karena melakukan kekerasan," ujarnya, Senin (7/1/2019).

Menurut Rudy, dirinya sudah mendapatkan informasi tentang tindak kekerasan itu. Ia menilai, seharusnya tindak kekerasan di sekolah itu tidak perlu terjadi apalagi menimpa anak-anak yang selayaknya mendapatkan pendidikan yang baik dan penuh kasih sayang.

Ia pun meminta Disdik menangani masalah tersebut. Apalagi diduga banyak siswa yang menjadi korban kekerasan. Padahal sebagai pendidik, harus memberikan contoh yang baik kepada anak didik.

"Ada cara lain untuk mendidik siswa jika tak menaati aturan. Tidak harus pakai kekerasan, karena bukan solusi tepat," ucapnya.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Garut, Totong, menyebutkan, jika kasus kekerasan yang diduga dilakukan kepala sekolah terhadap siwa di SMP Baitul Hikmah Kecamatan Tarogong Kaler itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua pihak sudah berdamai sehingga tidak berlanjut pada jalur hukum.

"Sudah damai, sudah dilakukan pertemuan. Kepala sekolah sudah temui orang tua siswa. Jadi kasusnya sudah selesai," katanya.

Totong mengatakan, setelah mendapatkan informasi tersebut, dirinya langsung datang ke SMP Baitul Hikmah guna mengetahui persoalan sebenarnya dalam kasus dugaan penganiayaan siswa tersebut.

Ia menyampaikan, berdasarkan hasil keterangan dari kedua belah pihak, peristiwa itu bermula ketika kepala sekolah menegur para siswa yang bercanda saat sedang melakukan kegiatan di sekolah.

"Saat itu tidak ada unsur kesengajaan, kami berharap jangan terulang kembali kejadian tersebut," tuturnya.

Diungkapkan Totong, kedepannnya pihaknya akan melakukan pembinaan kepada sekolah tersebut. Ia pun cukup memaklumi perbuatan yang dilakukan Sultan karena tidak sengaja.

Totong pun mengimbau, masyarakat untuk mempercayakan anak-anaknya di sekolah untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM), dan jangan khawatir akan adanya tindakan kekerasan.

Dinas Pendidikan, lanjutnya, telah memperingatkan kepada seluruh penyelenggara pendidikan di Garut untuk menerapkan pendidikan yang humanis. Kalau pun harus memberikan hukuman tentunya harus sesuai dengan yang direkomendasikan yakni mendidik, efek jera dan memberi contoh.

"Saya mohon kepada masyarakat percayakan kepada sekolah, karena tidak ada niatan guru yang jelek dalam menghukum anak didiknya" ujarnya.

Diakui Totong, pihaknya juga akan menerjunkan pengawas pembina untuk lebih masif mengawal sekolah. Terkait hukuman, ia menyebut hal itu merupakan jalan terakhir. Masih ada cara lain untuk membina siswa.

"Kalau ada guru mengajar dan ada hukuman itu, direkomendasi tiga alasan. Yakni mendidik, efek jera, dan beri contoh. Tapi harus dihindari (hukuman) karena bisa berikan pembinaan yang bijak dan berkarakter," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR