181015195106-negar.jpg

dokumen galamedianews.com

Negara Arab Tak Peduli Soal Penjajahan Israel di Palestina?

Daerah

Senin, 15 Oktober 2018 | 19:48 WIB

Wartawan: H. Dicky Aditya

PALESTINA menganggap negara Arab tidak pernah benar-benar peduli dengan penjajahan Israel yang masih dialami bangsanya.

Menteri Luar Negeri Palestina Riad Al Malki menganggap negara Arab seperti Arab Saudi dan sejumlah negara Timur Tengah lain sangat lemah sehingga tak mampu membantu menyelesaikan konflik antara negaranya dengan Israel.

"Kami melihat negara Arab sangat lemah, terpecah, dan hanya memikirkan masalah internal mereka seperti masalah di Suriah, Iraq, dan Yaman," kata Riad saat mengisi kuliah umum di Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (15/10).

"Mereka (negara Arab) tidak memiliki kekuatan dan kemampuan bahkan hanya untuk melihat apa yang terjadi di wilayah Palestina yang masih diokupasi (Israel)."

Pernyataan itu diutarakan Riad menyusul konflik Palestina dan Israel yang belakangan kembali memanas, terutama setelah Amerika Serikat memutuskan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada Desember 2017 lalu.

Padahal, Yerusalem merupakan salah satu sumber konflik Palestina-Israel selama ini, di mana kedua negara sama-sama mengklaim kota suci tiga agama itu sebagai ibu kota masa depan mereka.

Selain itu, Washington juga selama ini berperan sebagai satu-satunya mediator konflik kedua negara di bawah Perjanjian Oslo yang disepakati pada 13 September 1993.

Dengan keputusan kontroversial Presiden Donald Trump akhir tahun lalu, Riad menyatakan bahwa AS sudah tidak layak sama sekali untuk menjadi penengah dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

"Kami selalu menganggap AS mendukung dan berpihak terhadap Israel baik secara militer, politik, dan ekonomi," kata Riad di sela-sela lawatannya ke Indonesia selama sepekan demi menghadiri pekan solidaritas untuk Palestina.

Riad mengatakan sejak akhir tahun lalu, Palestina meminta negara lain terutama Uni Eropa untuk bergabung dalam proses perdamaian.

Namun, dia menyatakan Uni Eropa tak menyambut permintaan tersebut.

"Kami mencoba meyakinkan Uni Eropa untuk mengambil peran (dalam proses perdamaian). Tapi mereka tidak melakukannya. Uni Eropa hanya menyatakan protes dengan mengeluarkan pernyataan," ujar Riad.

"Kami juga mencoba berbicara dengan Rusia dan China, tapi tidak ada satu negara pun yang mau bicara ke AS untuk bergabung sebagai mediator dalam proses perdamaian. Jadi Palestina terjebak dengan AS sebagai penengah yang kami tahu mereka bias."

Sebagai negara pendukung, Indonesia diharapkan mampu berbuat lebih untuk membantu Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan haknya.

Riad berharap setelah terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2019-2020, Indonesia bisa lebih lantang memperjuangkan suara Palestina di PBB.

Tak hanya pemerintah, Riad juga berharap warga Indonesia mau terus menunjukkan dan memperkuat dukungannya dengan menggaungkan solidaritas terhadap Palestina di media sosial dan berbagai gerakan serta platform lain.

"Palestina sangat berharap terhadap dukungan dan pertolongan Indonesia di DK PBB. Sebagai salah satu anggota, kami yakin Indoensia akan mengangkat isu Palestina dan membawa keadilan bagi kita sehingga secara tegas terwakili di DK PBB."

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR