181010152550-ratus.jpg

Agus Somantri

Ratusan kepala sekolahyang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP se-Kabupaten Garut saat menggelar deklarasi penolakan LGBT di SMP Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (10/10/2018).

Ratusan Kepala Sekolah Garut Deklarasikan Tolak LGBT

Daerah

Rabu, 10 Oktober 2018 | 15:24 WIB

Wartawan: Agus Somantri

RATUSAN kepala sekolah yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) se-Kabupaten Garut menggelar deklarasi penolakan lesbi, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Kabupaten Garut, terutama di lingkungan sekolah.  

Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Totong mengatakan, deklarasi ini sebagai bentuk perlawanan pihaknya tehadap keberadaan LGBT, khususnya kalangan pelajar. Ia pun menyatakan menabuh genderang perang kepada LGBT karena merusak moral generasi muda.     

"Deklarasi ini sebagai bentuk perlawanan kami, perang menolak LGBT khususnya di kalangan pelajar. Apalagi setelah ramainya grup Facebook gay siswa SMP dan SMA," ujar Totong usai deklarasi di SMP Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (10/10/2018).

Totong menyebutkan, meski dalam akun facebook di media sosial (medsos) disebutkan anggota grup gay tersebut pelajar SMP dan SMA, namun pihaknya masih menyangsikan hal itu. Pasalnya hingga saat ini belum ada bukti otentik para pelajar terlibat gay di Kabupaten Garut.

"Mudah-mudahan itu hanya viral di dunia maya saja. Sebetulnya kami juga masih sangsi, pasalnya sampai saat ini belum ada laporan," ucapnya.

Totong pun meminta kepada orang tua agar tidak terlalu khawatir dengan isu gay yang melibatkan pelajar di Garut. Pihaknya juga tetap berkomitmen untuk memberikan pendidikan karakter bagi para siswa.

Ia menuturkan, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Bahkan sejak awal 2018 lalu, pihaknya telah melarang siswa untuk membawa handphone (HP) ke sekolah.

"Razia juga tetap akan kami lakukan sebagai upaya pencegahan. Meski sebenarnya sejak Januari tahun lalu kami sudah larang siswa untuk membawa HP ke sekoah. Keberadaan siswa selama di sekolah juga terus dipantau," ungkapnya.

Totong mengatakan, jika nanti ditemukan ada pelajar yang terlibat, maka telebih dahulu akan dilakukan pembinaan. Namun jika pelanggarannya sudah berat, siswa tersebut bisa dikeluarkan dari sekolah supaya ada efek jera.

"Kalau berdampak luas, apa boleh buat jalan terakhir ada sangsi tegas yakni dikeluarkan dari sekolah. Ya sebagai efek jera juga bagi yang lain," katanya.

Ratusan kepala sekolahyang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP se-Kabupaten Garut saat menggelar deklarasi penolakan LGBT di SMP Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (10/10/2018).

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR