180712172650-prosp.jpg

dokumen galamedianews.com

Ilustrasi.

Prospek Budidaya Ayam Kampung Kini Kian Menjanjikan

Daerah

Kamis, 12 Juli 2018 | 17:26 WIB

Wartawan: Ade Hadeli

BELAKANGAN ini  permintaan ayam kampung yang dijual di berapa pasar tradisional di Kabupaten Sumedang, mengalami peningkatan.
Hal itu tentunya bisa menjadi potensi yang bagus, untuk melakukan usaha budidaya ayam kampung.

Berdasarkan penelusuran galamedianews.com, Kamis (12/7/2018), sejumlah pedagang di Pasar Inpres, Sumedang, adanya peningkatan penjualan ayam kampung, diduga dampak dari harga daging ayam potong cukup tinggi, hingga tembus Rp 42.000 - Rp 45.000/kg.

“Sudah beberapa pekan ini, permintaan ayam kampung  ada peningkatan. Sayangnya, stoknya sangat terbatas," kata Dadang penjual ayam kampung.

Disebutkannya, untuk satu ekor ayam kampung berkuran sedang, atau berusia 3-4 bulan ditawarkan antara Rp 35.000-Rp 40.000/ekor.  Untuk betina  dewasa dijual Rp 45 ribu - 50 ribu dan jantan dewasa, Rp 75 ribu-100 ribu.

“Saya tidak mengambil untung yang besar. Paling tinggi Rp 5.000/ekor," ujarnya.

Namun sayangnya, lanjut Dadang, permintaan pasar yang tinggi, belum bisa diimbangi dengan ketersediaan barang yang cukup. Apalagi, saat ini di wilayah Sumedang, belum ada penangkaran atau budidaya ayam kampung, dalam skala besar.

Menurutnya, ayam kampung yang dijualnya itu, dibeli dari perorangan. Itupun jumlahnya sangat terbatas. Bahkan populasi ayam kampung yang ada di masyarakat ada kecenderungan terus menurun.

“Dulu sekitar 10 tahun lalu, tidak sulit untuk mengumpulkan puluhan ekor ayam kampung. Karena pada waktu itu, khususnya perkampungan, hampir  setiap rumah memelihara ayam kampung. Tetapi sekarang, untuk mendapatkan beberapa ekor saja, sangat sulit,” ujarnya.

Meski begitu, untuk memenuhi permintaan pasar, para pedagang, kini mengandalkan sejumlah pengepul, yang setiap hari keluar masuk perkampungan untuk membeli ayam kampung dari warga. Disamping itu, mereka juga menerima ayam kampung yang langsung dijual warga, yang datang ke lapaknya.

“Meski begitu, saya juga harus hati-hati juga untuk menerima ayam kampung yang dijual langsung ke lapang saya. Apalagi, setelah beberapa tahun silam saya, pernah berurusan dengan pihak berwajib, karena ayam yang saya beli dari orang yang datang kelapak saya itu, hasil curian,” ungkapnya.

Editor: H. Dicky Aditya

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR