Nekat Beroperasi di Masa dan Balik Lebaran, Delman di Garut Terancam Terkena Sanksi

Agus Somantri/galamedianews.com

Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, didampingi Kasatlantas Polres Garut, AKP R. Erik Bangun Prakasa, saat sosialisasi pelarangan operasi delman, Senin (11/6/2018).

Nekat Beroperasi di Masa dan Balik Lebaran, Delman di Garut Terancam Terkena Sanksi

Daerah

Senin, 11 Juni 2018 | 21:39 WIB

Wartawan: Agus Somantri

JAJARAN Polres Garut dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut akan menerapkan aturan yang ketat bagi delman yang masih beroperasi di jalur nasional selama musim mudik dan balik Lebaran berlangsung.

Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, didampingi Kasatalantas Polres Garut, AKP R. Erik Bangun Prakasa, mengatakan sesuai aturan yang dibuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut beberapam waktu lalu, terhitung empat hari sebelum Lebaran hingga tiga hari setelahnya (Lebaran), seluruh delman yang tersebar di enam titik jalur mudik nasional yang melintasi Garut dilarang untuk beroperasi.

"Terhitung mulai besok delman harus berhenti dulu beroperasi melintasi jalur nasional, seperti di jalur Limbangan. Kalau masih membandel, ya terpaksa akan dikandangin," ujarnya, Senin (11/6/2018).  

Menurut Budi, aktivitas penambahan volume kendaraan saat arus mudik Lebaran 2018 di jalur Limbangan sebagai jalur utama nasional terus meningkat. Tercatat sejak H-6 hingga H-5 Lebaran, puluhan ribu kendaraan telah melintas jalur itu.

"Jika di luar rute itu silakan delman beroperasi, misalkan ke desa atau antar kampung," ucapnya.

Budi menuturkan, delman merupakan salah satu kendaraan tradisional yang sering digunakan warga dan setiap harinya hilir mudik di jalur tersebut. Dengan aktivitasnya yang lebih banyak mengandalkan kemampuan hewan kuda itu, dikhawatirkan berpotensi menimbulkan kemacetan, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran berlangsung.

"Jadi bukan merintangi mereka, mohon kerja samanya dari para kusir delman selama mudik dan balik Lebaran ini berlangsung," tuturnya.

Di Kabupaten Garut Terbanyak.

Larangan Delman tidak beroperasi di musim mudik dan balik Lebaran ternyata di Indonesia hanya terjadi di tiga Kabupaten. Selain di Kabupaten Garut, juga di Jogjakarta, dan Boyolali. Namun di Kabupaten Garut merupakan yang terbanyak wilayah larangannya.

"Kalau di Boyolali dan Jogjakarta larangan itu hanya di dua kecamatan. Tetapi kalau di Garut larangan itu di 6 wilayah kecamatan. Makanya di Garut itu terbanyak," ujar Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Garut, Suherman Mustofa.

Menurut Suherman, dengan 6 wilayah tersebut tentunya nilai konpensasinya pun terbesar, karena jumlah delman yang tidak boleh beroperasi tersebut lebih banyak. Ia menuturkan, sebanyak 631 delman mulai tidak beroperasi untuk meminimalisasi kemacetan di jalur mudik selama pengamanan arus mudik dan balik Lebaran 2018.

"Selama ini delman atau andong menjadi perhatian pihak pemkab dan kepolisian. Karena delman ini menjadi problem yang sangat krusial terutama menjelang mudik dan balik Idul fitri. Yang menjadi perhatian bagi kita adalah delman yang ada di jalur jalan Nasional dan jalan Provinsi” ujarnya.

Suherman menyebutkan, aturan larangan beroperasi itu merupakan kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut yang diberlakukan setiap tahun saat berlangsungnya musim mudik dan balik lebaran. Menurutnya, larangan itu sudah hasil kesepakatan bersama pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut, Polres Garut dan para pemilik delman.

"Kesepakatan bagi kusir delman untuk tidak menarik delman pada waktu H-4 dan H+3 serta hari H dan H+1 lebaran dengan total sembilan hari di wilayah Kabupaten Garut. Adapun konpensasi itu sebesar Rp75.000 p er hari," katanya.

Adapun kawasan yang ditetapkan larangan delman beroperasi, terang Suherman, yakni di wilayah Kecamatan Limbangan sebanyak 85 delman, kemudian Kecamatan Malangbong 18 delman, Leles 45 delman, Tarogong Kaler 250 delman, Tarogong Kidul 58 delman, dan Kecamatan Kadungora 175 delman.

"Pemerintah daerah memberikan uang kompensasi bagi seluruh delman tersebut sebesar Rp 525 ribu per delman," katanya.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR