Tak Juga Berhenti Menangis, Bayi Satu Bulan Lebam-lebam Dianiaya Ibu Sendiri

Crime Story

Selasa, 22 Oktober 2019 | 14:00 WIB

191022112814-psiko.jpg

dailymail


Bulan ini publik  Rivne, Ukraina dibuat emosi oleh ulah salah seorang warganya. Adalah aksi remaja 19 tahun terhadap buah hatinya sendiri hingga lebam-lebam yang membuat mereka naik darah. Ibu muda itu diketahui memukuli anak laki-lakinya bernama Mykta yang masih berusia satu bulan. Tak  tega melihat kondisi korban, tetangga korban sampai pingsan.

Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, kasus yang terjadi pada 15 Oktober lalu itu berawal dari tetangga pelaku yang merasa curiga dengan tangisan si bayi yang tak juga berhenti. Saat didatangi saksi mengaku syok melihat fisik korban yang selama ini tinggal di hostel khusus warga kurang mampu bersama ibunya.

Tetangga sampai pingsan melihatnya.

Tadinya saksi bernama Tetiana Prymak mengira Mykta dibawa ibunya pergi untuk sebuah kerperluan karena pelaku terlihat keluar dari hostel. Tapi ternyata seharian tak keluar kamar, berikutnya ia mendengar tangisan Mykyta. Khawatir karena tak juga berhenti, ia memutuskan untuk memastikannya.

Tetiana yang tinggal bersebelahan kaget saat tahu kamar tetangganya tak terkunci. “Saat memasuki kamarnya kulihat Mykyta di tempat tidurnya. Mata kanannya hitam, darah kering menutupi hidungnya hingga kesulitan bernapas,” katanya. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dan ternyata tubuh mungilnya dipenuhi lebam. Saking tak tega warga lainnya yang juga berdatangan sampai pingsan. 

No excuse.

Berikutnya mereka menghubungi ambulans dan polisi yang membawa Mykta ke ruang perawatan intensif. Kondisinya dinyatakan kritis dan dokter berusaha melakukan tindakan pertama guna menyelamatkan nyawanya. Hingga kini bayi malang itu belum membaik. Keterangan tim medis Mykta mengalami retak tulang tengkorak. Namun penyebab pastinya  belum diketahui.

Paparan Mykhailo Kulik, kepala unit perawatan intensif RS Anak Regional Rivne sedikit menggambarkan kengerian kondisi Mykta. “Kondisi bayi sangat serius hingga  mengancam jiwa. Tengkoraknya retak tapi kami tidak bisa melakukan pemeriksaan menyeluruh sekarang.” Ia mengaku belum pernah melihat bayi yang terabaikan dengan kekerasan mengerikan seperti ini.

Pelaku langsung diinterogasi.

TKP.

“Sepertinya ibunya juga tidak pernah mengganti pakaian anaknya atau sekadar memberi popok. Kondisi kulitnya juga mengerikan,” lanjutnya. Sang ibu yang tak disebutkan namanya langsung dibawa ke kepolisian setempat dan  diinterogasi saat pulang keesokan paginya.

Juru bicara kepolisian Anton Kruk mengungkap alasan pelaku tega melakukan kekerasan terhadap anaknya. “Dia mengaku stres karena bayinya tak berhenti  menangis, padahal dia ada janji. Akhirnya dia pergi meninggalkan anaknya sendirian untuk  berkencan.”  Kini pelaku menghadapi tuntutan kriminal atas pemukulan dan kegagalan  memenuhi tugas orangtua.

Dokter masih berjuang menyelamatkan Mykta.

Sementara itu psikolog sosial, Yulia Tkachenko yang ikut terlibat dalam kasus ini dilaporkan media tak kuasa menahan tangis saat melihat Mykyta. Kepada reporter, Yulia yang juga sudah berbicara dengan pelaku mengatakan, “Tak ada keraguan bayi ini dipukuli dengan brutal meski sang ibu mengaku tidak menyentuhnya dan berusaha meyakinkan luka-luka Mykyta itu akibat angin dingin”. Warga pun semakin tak percaya dengan reaksi ayah korban.

Pria berusia 27 itu kabarnya sama sekali tidak peduli.  Igor Novosad, kepala asrama sosial yang mengenal keluarga tidak fungsional ini mengatakan, ”Ibu Mykta memiliki anak laki-laki lainnya. Dia pertama melahirkan di usia 16 tahun  dan sekarang anak sulungnya  tiga tahun. Tapi dia dibawa ke pusat rehabilitasi karena kekerasan domestik yang dialaminya seperti Mykta.”

Usai perawatan nanti, Mykta takkan pulang.

Laporan sejumlah media lokal menyatakan kedua anak pelaku memiliki ayah berbeda. Lembaga layanan sosial saat ini  mengumpulkan dokumen untuk menuntut pelaku. Andriy Mishchenia, kepala Layanan Perlindungan Anak Rivne menegaskan, “Hak-hak orangtua pelaku akan dicabut dan korban selanjutnya dirawat di panti asuhan. Pelaku terancam hukuman lima tahun penjara.”

Just, no words.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA