Polda Jabar Tangguhkan Penahanan Dokter dan Dosen Tersangka Penyebar Hoaks

Crime Story

Selasa, 4 Juni 2019 | 10:43 WIB

190604104409-polda.jpg

DIREKTORAT Reserse Krimnal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jabar menangguhkan penahanan tersangka DS penyebar hoax, saat aksi 22 Mei di Jakarta kemarin.

DS yang kesehariannya berprofesi sebagai dokter di Kota Bandung, diamankan polisi terkait informasi hoax soal poliai menembak anak 14 tahun tewas saat aksi di Jakarta. Ia diamankan di wilayah Kota Bandung.

Penangguhan terhadap DS diakui Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jabar, Kombes Pol Samudi, saat di konfirmasi melalui sambungan telefonnya, Selasa (4/6/2019).

"Bukan bebas yah, penahanan yang ditangguhkan. Proses hukumnya tetap jalan," jelasnya.

Samudi mengatakan, penangguhan diajukan oleh pihak pelaku. Namun begitu, dengan ditangguhkan penahanannya, tidak menghentikan proses hukumnya.

"Ada pengajuan permohonan dari pihak pelaku, dalam KUHAP atau UU pihak pelaku atau keluarga boleh mengajukan penangguhan. Selama tidak ada pengajuan permohonan penangguhan ya tidak kita tangguhkan," terangnya.

Adapun informasi hoax yang disebarkannya DS, yakni melalui media sosial facebooknya dengan nama akun dodisuardi.

Ia menuliskan dalam postingannya sebagai berikut, 'Malam ini Allah memanggil hamba-hamba yang di kasihinya. Seorang remaja tanggung, menggenakan ikat pinggang berlogo osis, diantar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distetcher ambulans, tidak ada respon, nadi oun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tidak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orangtuannya. Korban tembak polisi seorang remaja 14 tahun tewas,'.

Atas perbuatannya itu, polisi menjerat dengan pasal 14 ayat 1 dan ayat 2, serta pasal 15 UU No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan hukum pidana dan 207 KUHPidana dengan ancaman diatas lima tahun penjara.

Tak hanya DS, polisi juga tangguhkan penahanan terhadap Solatun Dulah Sayuti, seorang pria yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan swasta di Kota Bandung.

Solatun diamankan polisi lantaran mengunggah kalimat bernada ujaran kebencian dan provokasi terkait aksi people power di media sosial Facebook.

Pelaku menyebarkan informasi tersebut dari grup aplikasi pesan berbasi internet Whatsapp, melalui grup "PejuangPersatuanIndonesia" yang diikuti pelaku.

Adapun isi konten yang dianggap ujaran kebencian itu, seperti berikut, "Harga Nyawa Rakyat jika people Power tidak dapat dielak : 1 orang rakyat ditembak oleh polisi harus dibayar dengan 10 polisi dibunuh mati menggunakan pisau dapur, golok, linggis, kapak, kunci roda mobil, siraman tiner cat berapi dan keluarga mereka,".

Unggahan itu menuai 68 komentar dan 10 kali dibagikan kemba|i di akun Facebook sehingga berdampak potensi konflik dan bermuatan provokatif. Satu ponsel milik pelaku diamankan sebagai barang bukti.

Pada kasus ini polisi terapkan pasal 14 ayat (1) KUHP dan Pasal 15 UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan penjara minimal 10 tahun.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR