Ketahuan Simpan Video Porno Anak dalam HP di Bandara Australia, Turis Indonesia Terancam Penjara

Crime Story

Selasa, 14 Mei 2019 | 12:33 WIB

190514123243-terta.jpg

dailymail

Seorang turis asal Indonesia ditangkap di bandara Australia setelah petugas Australian Border Force (Pasukan Perbatasan Australia) menemukan dokumentasi  visual pornografi anak di telepon genggam miliknya. Pria berusia 30 tahun itu dihentikan di Bandara Internasional Perth untuk pemeriksaan bagasi dalam perjalanan ke Denpasar, Bali, Minggu (12/5/2019).

Dikutip dari DailyMail, Selasa (14/5/2019) petugas yang memeriksa  telepon genggam turis yang tidak diungkapkan identitasnya itu menemukan tiga video berisi pelecehan seksual terhadap anak-anak. Ada juga dua video lain yang  menunjukkan aktivitas seksual “menjijikkan”. Kini WNI tadi didakwa atas tuduhan percobaan mengekspor materi pelecehan anak dan ekspor barang-barang  tak pantas.

Identitas tidak diungkapkan.

Atas perbuatannya ia menghadapi tuntutan hukum di Pengadilan Magistrasi Perth,  Senin (13/2/2019). Saat ini ia dibebaskan dengan  jaminan bersyarat dan diharuskan kembali menghadiri pengadilan akhir bulan ini. Komandan Regional ABF untuk Australia Barat, Rod O'Donnell mengatakan setiap hari petugas melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Dia mengingatkan para pelancong  kepemilikan material ilegal saat melintasi perbatasan merupakan pelanggaran, baik bagi mereka yang hendak ke Australia atau sebaliknya.

"Menangani eksploitasi anak khususnya merupakan prioritas operasional ABF sebagai bagian dari perannya  melindungi perbatasan dari individu yang dapat menimbulkan ancaman bagi masyarakat," ujarnya.

Tertangkap dalam pemeriksaan rutin.

O'Donnell menambahkan petugas ABF memiliki otoritas  signifikan untuk memeriksa ponsel dan perangkat elektronik para pelancong internasional. Sesuatu  yang dilakukan  di seluruh bandara setiap hari.

"Pengunjung juga perlu menyadari kepemilikan materi eksploitasi anak dipandang sangat serius di bawah hukum Australia," tegasnya. Denda maksimum untuk impor atau ekspor bahan eksploitasi anak yaitu 10 tahun penjara dan/atau denda hingga $ 525.000 atau sekitar Rp 7,5 miliar.

 

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR