Cari Perhatian, Derita Sindrom Munchausen Ibu Nekat Sedot Paksa Satu Liter Darah Anak Balita

Crime Story

Minggu, 10 Februari 2019 | 14:00 WIB

190210133901-derit.jpg

dailymail

Seorang warga Denmark berusia 36 tahun  dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena terbukti menghabiskan lebih dari satu liter darah putranya. Dikutip dari DailyMail kemarin, ibu yang tak disebutkan namanya itu mengambil darah anak laki-lakinya setidaknya satu kali dalam seminggu selama  lima tahun sejak masih balita.

Total sang ibu 110 kali mengambil darah buah hatinya menggunakan kateter saat anaknya berusia satu hingga enam tahun. Kepada dokter rumah sakit ia mengaku terpaksa melakukannya untuk mengatasi darah rendah anaknya akibat penyakit sumsum tulang yang langka.

Namun dokter  curiga dan memperingatkan polisi yang kemudian memasang kamera tersembunyi di flatnya di Skjern, Jutland, Denmark. Hasilnya si ibu tertangkap kamera melakukan aksi ilegalnya  tersebut. 

Selama interogasi di pengadilan di Herning, Jutland, perempuan yang juga bekerja sebagai perawat terlatih ini dicecar pertanyaan mengenai postingan  media sosialnya terkait penyakit sang putra dan upayanya menghubungi pers lokal. 

"Aku benar-benar ingin berbagi kisah," katanya dalam tayangan  TV2 Nyheter. “Aku  pikir, itu akan membantu dan menjadi peringatan. Kadang kita merasa  sendirian. Baik sebagai ibu, juga ibu dengan anak yang sakit.”

Ketika jaksa menunjukkan bahwa dia justru menjadi  penyebab penyakit anaknya, ibu yang harus bersiap berpisah dari anaknya ini membantah. Laporan psikiatris yang dilakukan atas perintahn pengadilan menyebut pelaku kemungkinan menderita sindrom Munchausen.

Pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun penjara.

Sindrom Munchausen sendiri merupakan kondisi di mana orang dewasa dengan sengaja menciptakan “penyakit  medis” untuk anaknya sehingga mereka  memperoleh perhatian atau simpati. Sisi berbahaya dari sindrom ini termasuk menimbulkan gejala pada anak agar kebohongannya semakin tertutupi. 

Jenis Munchausen oleh proksi dianggap sebagai bentuk pelecehan anak yang berbahaya. Saat ini anak korban yang berusia tujuh tahun tinggal bersama ayahnya dan dua saudara kandung lainnya. Meski secara fisik kurang berkembang dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, ia telah pulih sepenuhnya.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR