Saatnya Kembali Kepada Syariat

Citizen Journalism

Rabu, 6 November 2019 | 10:35 WIB

191106103728-saatn.jpg

ilustrasi

SUDAH sekian lamanya amanah bumi diletakkan di pundak manusia. Adalah Adam dan Hawa , manusia pertama yang diberikan titipan luar biasa. Tak mampu dipikul siapapun dari makhluk Allah kecuali mereka sebagai manusia.

Akal yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk yang lainnya. Begitu Istimewa manusia, hingga menjadi pemeran utama dalam panggung kehidupan. Dihiasi dunia dengan berbagai kenikmatan yang sah untuk dicicipi oleh siapapun yang hidup di dalamnya.

Kini bumi yang semakin renta, mengeluh payah, dan bertanya: Ke manakah manusia yang dititipkan amanah mulia?
Bumi yang gersang, haus kekeringan, merasa tak mendapatkan pengelolaan yang semestinya. Manusia banyak merusak. Kekayaan alam dikeruk sedalam-dalamnya. Hijaunya bumi diganti dengan beton-beton raksasa. Sungai keruh seperti mengeluh : mengapa manusia kian angkuh? Hingga air yang seharusnya mengalir , harus terhenti karena sampah duniawi.

Sementara itu, perilaku manusia sudah sulit dibedakan dengan binatang. Anak berzina dengan ibunya, Paman menodai keponakannya. Hingga fenomena jeruk makan jeruk  kita jumpai dimana-mana.

Fenomena kerusakan hampir di semua lini kehidupan membutuhkan perbaikan yang tak boleh ditawar. Kemaksiatan yang mengundang musibah menandakan kita harus segera berbenah.

Mengembalikan semua urusan kepada Sang Pencipta adalah jalan terbaik bagi seorang hamba. Tak terkecuali, dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Allah berfirman dalam QS Al- Maidah ayat 49 yang artinya :

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”

Islam sebagai din yang sempurna meniscayakan semua solusi bagi permasalahan yang kini sedang melilit negeri.
Hal ini sejalan dengan konsep maqashid As-syariah. Tujuan diterapkannya hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia, baik rohani maupun jasmani, individual dan sosial. Kemaslahatan itu tidak hanya untuk kehidupan dunia ini saja tetapi juga untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Abu Ishaq al-Syatibi merumuskan lima tujuan hukum Islam, yakni:

1. Hifdz Ad-Din (Memelihara Agama)
2. Hifdz An-Nafs (Memelihara Jiwa)
3. Hifdz Al’Aql (Memelihara Akal)
4. Hifdz An-Nasb (Memelihara Keturunan)
5. Hifdz Al-Maal (Memelihara Harta)

Kelima tujuan hukum Islam tersebut akan dapat terwujud jika Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan individu, masyarakat dan juga negara.

Untuk itulah diperlukan ketaatan yang tulus kepada Allah agar manusia, bumi dan juga kehidupan bisa kembali kepada keteraturan. Tiadalah Allah menurunkan syariat melainkan untuk kebaikan makhluknya. Masihkah kita abai dengan perniagaan yang sangat menguntungkan ini?

Wallahu alam bishshowab.


Pengirim
Ummu Azka
Pendidik dan Anggota Revowriter
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA