Literasi Media Guru Profesional

Citizen Journalism

Rabu, 6 November 2019 | 09:34 WIB

191106093544-liter.jpg

PERKEMBANGAN informasi dan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Bahkan, kini Indonesia telah memasuki media saturated era, yaitu era dimana media mengalami perkembangan yang sangat pesat, khususnya media berbasis digital. Secara umum, perkembangan media digital dapat dilihat dari sisi medium maupun kontennya.

Khusus medium digital, saat ini terdapat hampir 330 juta situs internet yang dapat diakses dengan mudah (Noor, 2017). Jumlah yang sangat besar tersebut tentu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah informasi pula. Hal tersebut perlu diwaspadai karena tidak semua informasi memberikan ekses yang positif bagi penggunanya.

Penetrasi beberapa jenis media digital telah merambah ke berbagai kalangan tanpa membedakan strata sosial, termasuk pada kalangan guru. Penggunaan media digital telah bergeser menjadi gaya hidup. Dalam artian, media digital telah mengambil peran pada bagian-bagian penting dalam keseharian guru, termasuk ketika menjalankan tugas profesinya.

Sebagai profesional, guru harus memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan. Ia memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Selain itu, guru merupakan profesi yang memiliki persyaratan khusus, antara lain 1) menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam, 2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya, 3) menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai, 4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan, dan 5) memiliki komitmen yang kuat untuk tidak hanya melakukan transformasi ilmu pengetahuan, melainkan sampai kepada upaya pembentukan karakter individu yang dapat menjadi modal terbentuknya karakter bangsa.

Mendasari tugas dan fungsi yang tidak ringan tersebut, media saturated era menuntut kalangan guru untuk tidak sekadar mampu mengoperasikan media. Namun, mereka perlu kritis pula terhadap konten-konten yang ada di dalamnya. Para guru mulai mengakses media digital (internet, media sosial, telepon pintar, dsb) dan mulai meninggalkan media konvensional (televisi, radio, handie talkie, dsb).

Akses terhadap berbagai media digital tidak selalu dibarengi dengan tingkat kesiapan guru dalam menggunakannya. Badan Kepegawaian Negara (BKN) mendapatkan pengaduan resmi bahwa 6,4 juta akun pengguna yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk guru, merupakan penyebar hoaks (Perkasa, 2018). Jumlah tersebut merupakan jumlah akun profesi sebagai penyebar hoaks terbanyak di Indonesia. Sungguh sebuah ironi mengingat salah satu tugas guru ialah sebagai penggerak dan ujung tombak aktivitas literasi di dunia pendidikan.

Pemerintah mengimbau dengan tegas bahwa guru harus melek terhadap literasi media. Saat ini baru 25% guru yang memiliki kecakapan literasi media (Budi, 2017). Dari jumlah yang minim tersebut, diketahui sebagian besar di antaranya baru menguasai ruang lingkup kecakapan sebatas mengenai media pembelajaran saja. Padahal, cakupan literasi media sangat luas, termasuk dalam kontribusi antisipatif terhadap penyebaran berita bohong (hoaks).  
 
Literasi Media Baru
Literasi media merupakan suatu rangkaian gerakan media, yaitu gerakan melek media yang dirancang untuk meningkatkan kontrol individu terhadap media yang mereka gunakan untuk mengirim dan menerima pesan. Hal serupa dipaparkan oleh European Commision (2009), yang menyatakan bahwa literasi media merupakan kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi makna gambar, suara, dan pesan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Literasi media merupakan bagian penting dalam budaya kontemporer, serta untuk berkomunikasi secara baik pada media yang digunakan secara pribadi.

Komponen paling umum dari literasi media ialah adanya kesadaran dari banyak pesan media dan kemampuan kritis dalam menganalisis dan mempertanyakan  hal-hal yang dilihat, dibaca, dan ditonton. Dalam era keterbukaan informasi saat ini pertumbuhan media mengalami perkembangan yang signifikan. Era literasi media baru (new media literacy) telah menguasai dan bahkan telah membudaya. Oleh karena itu, sangat perlu kecakapan literasi media dengan tujuan untuk “berdaya” di tengah terpaan arus informasi yang sedemikian masif, memproteksi dampak negatif media, dan mengubah cara pandang hidup secara integral menjadi lebih adaptif pada perubahan.

Literasi media baru telah membawa pengaruh kepada khalayak dengan beragam cara. Sehingga muncul simpulan bahwa masyarakat, termasuk guru, kini tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital lagi. Gempuran informasi yang sangat beragam kini, perlu diimbangi dengan kecakapan literasi media sebagai budaya tangkal atas dampak negatif yang sangat mungkin muncul. Selain itu, literasi media juga bertujuan untuk melindungi konsumen informasi yang rentan dan lemah terhadap dampak penetrasi media digital.

Tingkat kecakapan literasi media guru profesional perlu diketahui secara pasti. Konsep pengukuran kecakapan literasi media guru hakikatnya mengukur tingkat kemampuan guru dalam menggunakan dan memanfaatkan media. Diantaranya, kemampuan untuk menggunakan, memproduksi, menganalisis, dan mengkomunikasikan pesan melalui media. Pengukuran kecakapan tersebut dapat didasarkan pada kompetensi personal dan kompetensi sosial. Kompetensi personal merupakan kemampuan guru dalam menggunakan media dan menganalisis konten-konten media. Adapun kompetensi sosial merupakan kemampuan guru dalam berkomunikasi dan membangun relasi sosial lewat media serta mampu memproduksi konten media.

Hasil pengukuran tingkat kecakapan literasi media guru profesional dapat dikategorikan dalam 3 tingkatan atau level yaitu rendah, medium, dan tinggi. Ketiganya memiliki indikator pengukuran yang jelas. Tingkatan yang telah ditetapkan dapat difungsikan untuk memastikan kondusivitas pembelajaran yang vital dalam tuntutan keterampilan abad 21, acuan Higher Order Thinking Skill (HOTS) peserta didik, dan evaluasi internal guru. Media literacy is not just important, it’s absolutely critical (Linda Ellerbee).

Pengirim
Santi Pratiwi T. Utami, M.Pd.
Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang
[email protected]


Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA