Memangkas HIV AIDS dari Akarnya

Citizen Journalism

Rabu, 23 Oktober 2019 | 11:32 WIB

191023100526-meman.jpg

HUMAN Immunodeficiency Virus alias HIV masih menjadi momok menakutkan bagi manusia. Apalagi sampai sekarang, belum ada obat untuk menaklukkan virus yang pertama kali dikenali pada tahun 1980 ini.

HIV menyerang sel darah putih yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Acquired Immune Deficiency Syndrome alias AIDS.

Provinsi Jawa Barat pada tahun 2030 menargetkan penduduknya terbebas dari ancaman penyakit HIV/AIDS dengan label Getting to Zero. Pada tahun ini, Pemprov Jawa Barat tengah memulai percepatan cakupan dan sasaran pengendalian HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Berli Hamdani Gelung Sakti menuturkan, untuk mencapai Getting to Zero maka ada beberapa syarat yang harus dilakukan. Pertama, tidak adanya kasus baru. Kedua, tidak adanya diskriminasi kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan ketiga tidak ada angka kematian yang berkaitan dengan HIV/AIDS

Berli mengungkapkan, hingga Juni 2019, data kasus HIV di Jawa Barat mencapai 40.276 kasus. Sedangkan untuk kasus AIDS mencapai 10.370 kasus. (Portaljabar, 22/10/2019)

James W. Bunn dan Thomas Netter. Dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia (UNAIDS) di Geneva, Swiss pertama kali mencetuskan peringatan hari AIDS sedunia pada Agustus tahun 1987.

Sementara pita Merah (Red Ribbon) yang didaulat sebagai lambang internasional untuk kepedulian terhadap HIV/AIDS dicetuskan pada April 1991 oleh suatu kelompok dermawan kecil yang bernama Visual AIDS yang berpusat di New York. Di Inggris, Pita Merah pertama kali dipakai oleh 700.000 penggemar lagu pop saat konser musik memperingati Freddy Mercury yang diselenggarakan di stadion Wembley pada April 1992.

Wabah AIDS sudah jadi musuh bersama seluruh dunia. Sehingga peringatan AIDS tak pernah luput dari incaran media. Berbagai acara digelar mulai dari seminar, pawai, bakti sosial, tayangan televisi, hingga konser musik kemanusiaan. Dengan satu tema yang sama, hentikan AIDS!

Namun dibalik hingar bingar perayaan hari AIDS sedunia, ada sejumlah agenda yang coba disusupkan dalam benak masyarakat dunia. Agenda kapitalis yang berlindung dibalik peringatan AIDS. Seiring bertambahnya  jumlah kasus HIV/AIDS di setiap negara, UNAIDS dengan leluasa menjajakan ide-ide sesatnya dalam penanggulangan AIDS. Mulai dari safe sex pake kondom, pembagian jarum suntik steril bagi ecandu IDU, dan metode substitusi bagi pengkonsumsi narkoba.

Keliatannya mulia, padahal bikin merana. Karena yang diembat bukan akar masalah penyebaran HIV, tapi malah gejalanya yang terus dipelihara. Akibatnya fatal. Bukannya turun, angka kasus HIV/AIDS terus menanjak dari tahun ke tahun.

Upaya penanggulangan penyakit menular seperti HIV bisa ditempuh dengan beberapa hal: akar penyebab dan penyebarannya dipangkas, penyebarannya dihentikan/dibatasi, penderitanya diobati/disembuhkan, masyarakat dibina ketakwaan mereka dan diedukasi secara memadai. Semuanya itu hanya ada dalam penerapan syariah Islam. Bukan yang lain.

Syariah Islam memangkas akar penyebaran HIV/AIDS yaitu seks bebas. Disamping dengan tegas mengharamkan segala bentuk pornografi dan pornoaksi, dan pelakunya dikenai sanksi ta’zir. Produsen dan pengedarnya dikenai sanksi yang berat, sebab tersebarnya pornografi dan pornoaksi akan membahayakan dan merusak masyarakat.

Dengan semua itu maka akar penyebaran HIV/AIDS bisa dipangkas sejak akarnya. Sekaligus itu bisa meminimalkan penyebarannya hingga mendekati nol.

Sementara bagi penderitanya, syariah Islam mewajibkan negara untuk menyediakan pengobatan kualitas nomer wahid bagi mereka juga bagi seluruh rakyat secara gratis dalam lingkungan karantina. Mereka tidak hanya dirawat secara medis, tetapi juga aspek psikologis. Dalam hal ini, ditanamkan kepada mereka sikap ridha (menerima) kepada qadha’, sabar dan tawakal.

Dengan terus-menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka agar lebih terpacu melakukan amal untuk menyongsong kehidupan berikutnya yang lebih baik.

Allah Swt berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

Sebagai upaya pencegahan, umat akan dibina keimanan dan ketakwaannya secara terus menerus. Sehingga umat akan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan terutama di antaranya zina atas dasar kesadaran dan dorongan iman dan ketakwaan. Pintu amar makruf nahi mungkar pun dibuka lebar, bahkan hal itu merupakan kewajiban semua Muslim termasuk untuk mengoreksi penguasa jika lalai melakukan semua itu.

Dengan penerapan syariah Islam oleh negara, umat akan menjalani kehidupan yang sehat dan rakyat akan selamat dunia akhirat. Wallahua'lam.


Pengirim:
Tawati
Pengamat Masalah Anak dan Remaja
[email protected]


Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA