Santri Merawat Perdamaian Dunia

Citizen Journalism

Rabu, 23 Oktober 2019 | 09:58 WIB

191023095859-santr.jpg

ist

Lulu Nugroho

BEBERAPA orang memakai sarung dan baju koko hilir mudik di sepanjang jalan. Hari Santri tanggal 22 Oktober lalu, diperingati dengan meriah di berbagai kota. Masih dengan semangat membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan, para santri didorong menjadi bagian dari perdamaian dunia.

Di awal peringatannya, sejarah Hari Santri Nasional bermula dari resolusi jihad yang dicetuskan oleh pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, pada 22 oktober tahun 1945. Resolusi jihad itu bertujuan untuk mencegah kembalinya tentara belanda yang mengatasnamakan NICA ke Surabaya.

Para santri turut andil dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan iman yang tinggi pada Allah, menggelorakan semangat jihad mereka. Maka kini tak jauh dengan sejarahnya, tema Hari Santri Nasional 2019 adalah 'Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia'.

Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin, islam ramah dan moderat dalam beragama.

Demikian disampaikan oleh Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Kesejehteraan Rakyat Setda Indramayu, Maman Koestaman ketika menjadi Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Indramayu, di Alun-alun Indramayu, Selasa (22/10/2019).

Hanya saja sayangnya, isu moderat masih menjadi fokus perhatian peringatan Hari Santri. Dengan asumsi bahwa moderasi dalam beragama lebih sesuai bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud.

Sementara Islam dengan akidahnya yang lurus, mampu tegak di seluruh ruang dan waktu. Islam cocok di Jazirah Arab di masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Ia juga tepat saat diterapkan di masa sesudahnya hingga akhir zaman. Oleh sebab itu Islam mampu menjadi rahmat bagi semesta alam.

Semangat Islam moderat, hanya akan mengebiri akidah yang sahih. Campur tangan akal manusia yang terbatas dalam pengaturan umat, tidak akan mampu mengatasi seluruh persoalan. Sebab selamanya manusia tidak layak bersanding dengan Penguasa langit dan bumi.

Karena itu merawat perdamaian dunia, tidak akan mampu dilakukan dengan asas Islam moderat.  Maka haruslah mengembalikan Islam sebagai akidah yang tertinggi dengan penerapan Islam kafah, hingga terwujud ummatan waahidatan, umat yang satu. Sebagaimana dahulu pernah berjaya 13 abad lamanya di dua pertiga dunia. Inilah perdamaian dunia yang kita idam-idamkan.


Pengirim:
Lulu Nugroho
Muslimah Penulis dari Cirebon
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA