Universalisme Santri

Citizen Journalism

Selasa, 22 Oktober 2019 | 10:40 WIB

191022104219-unive.jpg

ist

Repy Hapyan, S.Pd., M.Pd.

PADA tahun 2015 Presiden Republik Indonesia menetapkan bahwa pada tanggal 22 oktober merupakan Hari Santri Nasional. Keputusan ini tentunya memiliki dasar latar belakang yang kuat bagaimana historis keeratanya lahirnya Republik ini. Kemunculan gagasan ini perkuat oleh beberapa ormas besar islam yang turut terlibat dalam pertempuran dalam tema mengusir penjajah dari bumi nusantara.

Kemudian munculnya fatwa Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asyari yang disebut resolusi jihad bahwa “membela tanah air bagian dari pada iman” atau hubbulwathon minaliman. Mewajibkan bagi setiap muslim di indonesia yang berada di radius 94 km dari pusat pertempuran wajib berperang melawan NICA (Netherland Indies Civil Administration). Sejak itulah jelas final bahwasanya hubungan negara dengan agama sudah tidak perlu dipertentangkan lagi.

Kemenangan kaum santri dalam membela negara memang telah selayaknya diberikan tempat yang istimewa di negara (nation state) historis tersebut tercatat jelas menjadi dokumen negara, bahwa negara didirikan oleh beberapa kaum religius juga kaum nasionalis. Reposisi santri saat ini tentunya memiliki dasar jelas, pengakuan dengan dilahirkanya dan diperingati setiap tanggal 22 oktober bukti bahwa keberadaan santri bukan hanya manusia ekslusif yang hidup dengan kesederhanaan, tinggal di desa, anti moderasi, dan cenderung tertutup. Akan tetapi santri memiliki nilai universalisme yang luwes.

Seperti yang diungkapkan oleh KH. Mustofa Bisri (2018) “Santri bukan yang mondok saja, tetapi siapapun yang berakhlak seperti santri maka dialah Santri. Ini makna begitu mendalam bahwasanya status santri yang paling penting adalah nilai akhlak. Dan orang yang berahklak baik maka itu adlaah santri. Kira-kira begitu maksud abah Gus Mus.

Tema Hari Santri Nasional 2019 : “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Sangat jelas internasionalisme reposisi santri sebagai kaum sarungan yang di bingkai oleh budaya nusantara ini membuktikan bahwa budaya indonesia merupakan bagian dari pada infrastruktur agama. Santri di angkat lebih universal, santri memiliki posisi strategis dalam menjaga, meneruskan, hingga ber inovasi dalam menjaga dan memajukan negara.

Kemudian lahir pula UU Pesantren ini menjadi memperkuat posisi strategis pendidikan pesantren yang disisi oleh santri ini. Salah satu isi UU  tersebut misalnya bahwa santri setara dengan peserta didik di sekolah umum. Derajat santri sama seperti dengan kaum terpelajar umum. Beberapa event bernuansa santri pun digelar baik oleh pemerintah atupun oleh pesatren dan organisasi lainya, seperti kegiatan Muktamar Santri, Lomba Musabaqoh Kitab Kuning, MTQ, dll.

Politik Panggung Santri
Beberapa santri tercatat terlibat di pra dan pasca kemerdekaan namun ternyata eksistensi santri terus berlangsung sampai saat ini. Sebut saja KH Wahid Hasyim sebagai Tim perumus Pancasila, KH. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden republik Indonesia ke-4, dan yang mewakili santri hari ini yaitu orang nomor II di Indonesia yakni Prof. Dr. KH. Maruf Amin. Penulis sengaja mengambil beberapa tokoh diatas padahal masih banyak beberapa tokoh yang lahir dari santri dan memiliki prestasi gemilang. Dengan ketiga tokoh diatas dapat kita terima bahwa agama, nasionalisme merupakan 2 kutub yang saling melengkapi dan tidak dipisahkan.

Kiprah santri di panggung politik tidak selalu berjalan dengan mulus tetapi adapula yang kesandung (tijalikeuh) karena berurusan dengan hukum. Ini tentu menjadi tamparan keras dan prilaku tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai kepesantrenan. Melalui tulisan penulis berupaya objektif dan mari kita saksikan para santri indonesia ini dalam ikut andil berbuat dalam rangka mengabdikan diri kepada bangsa, negara dan agama.


Pengirim
Repy Hapyan, S.Pd., M.Pd.
Pengurus LTN PC NU Kab. Bandung
Ketua Dewan Pembina KSR PMI Unpas
[email protected]


Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim



Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA