Mengatasi Stunting yang Kian Meningkat

Citizen Journalism

Senin, 21 Oktober 2019 | 08:36 WIB

191021083716-menga.jpg

KASUS stunting atau gagal tumbuh pada balita di Indonesia masih tinggi. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia menyebutkan tren kasus stunting terus meningkat. Berdasarkan Riskesdas 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target WHO, semestinya angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Dikutip Pikiran Rakyat, Menurut Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih di sela Penyuluhan Kesehatan tentang Stunting dan Kesehatan Reproduksi Remaja IDI di Taman Ekspresi Kota Bogor, Minggu, 20 Oktober 2019, ada dua penyebab kasus stunting di Indonesia tinggi. Pertama, pola asuh orang tua yang salah mengenai asupan gizi. Kedua, terkait kondisi perekonomian orang tua yang masuk dalam kategori miskin. Saat ini, kasus stunting sendiri paling banyak dijumpai di wilayah Indonesia bagian timur.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita) akibat berbagai faktor, terutama kekurangan gizi. Tubuh anak pun menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi itu tak hanya saat bayi lahir hingga tumbuh balita, melainkan sejak dalam kandungan.

Penyebab stunting adalah praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, dan pembelajaran dini yang berkualitas. Selain itu, gagal tumbuh bisa terjadi karena kurangnya akses rumah tangga atau keluarga ke makanan bergizi, kurangnya akses ke air bersih, serta sanitasi yang buruk.

Kebiasaan hidup keluarga yang tidak sehat saat ini sesungguhnya adalah buah pahit dari sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Keluarga dipapari berbagai stressor (tekanan), krisis ekonomi dan disfungsi negara. Ujungnya ketangguhan imunitas tubuh melemah, selain berakibat hilangnya fungsi akal. Kelaparan dan gizi buruk terbukti meningkat seiring dengan meningkatnya harga pangan akibat krisis ekonomi.

Deraan kemiskinan memaksa para ibu membanting tulang, padahal diantara mereka ada ribuan ibu hamil dan ibu menyusui. Bagi ibu menyusui kelelahan fisik dan mental akibat beban ganda yang harus dipikulnya dapat menurunkan kualitas dan kuantitas ASI. Ini antara lain semakin banyak bayi tidak diberi ASI, disamping faktor keterbatasan waktu, dan gencarnya iklan susu formula. Padahal ASI ditinjau dari banyak aspek adalah makanan terbaik untuk bayi dan penting untuk membangun imunitas bayi. Lebih dari itu, pemberian ASI disyariatkan Allah Swt (lihat QS. al-Baqarah: 33). Jadi, tidak saja pola makan anak dan ibu yang tidak sehat, tetapi juga bayi.

Kelelahan fisik dan mental yang diderita ibu hamil berpengaruh negatif terhadap hormon yang dibutuhkan untuk melahirkan alami. Hal ini antara lain menjadi penyebab semakin banyak kelahiran caesar. Padahal bayi lahir melalui caesar daya tahan tubuhnya jelas tidak sebaik bayi lahir melalui jalan alami. Hal ini karena jalan lahir alami didesain Allah Swt sebagai latihan awal dan pematangan sejak dini sistem imun bayi.

Kondisi ini diperparah oleh krisis air bersih yaitu akibat industrialisasi dan kapitalisasi sumber daya alam, juga air. Akhirnya, lebih dari separuh masyarakat jauh dari sanitasi yang layak. Berbagai kuman patogen mewabah. Demikian pula vektor penyebar penyakit menyerang tubuh bayi, balita dan anak yang telah kehilangan ketangguhan sistem imunnya.

Di sisi lain, penyakit justru jadi objek kapitalisasi. Akibatnya, biaya berobat tidak saja mahal, tetapi juga layanan kesehatan yang justru memperparah penyakit yang diderita dan bahkan mengancam jiwa, selain tidak memperhitungkan halal dan haram.

Mewujudkan pola hidup sehat keluarga berarti mewujudkan kebiasaan beremosi/berkecenderungan dan berperilaku sesuai syariah Islam. Hal ini mengharuskan pembentukan kepribadian Islam melalui penerapan sistem pendidikan Islam dan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Kepribadian Islam mendorong individu keluarga untuk mewujudkan pola makan yang sehat (lihat QS. al-Maidah: 88), selain jaminan ketersediaan pangan yang halal dan baik, termasuk air bersih hingga tingkat rumah tangga (harga terjangkau dan mudah diakses).

Penerapan syariah yang kaffah berarti negara kembali menjalankan fungsinya sebagai pengurusan masyarakat, seperti menjamin pemenuhan pokok publik, menyediakan lapangan kerja, membebaskan barang milik umum dari kapitalisasi. Hal ini jelas dengan sendirinya membebaskan keluarga dari berbagai stressor; mendorong terwujudnya pola aktivitas keluarga yang sehat; ibu terbebas dari peran ganda yang menyalahi fitrah dan beban mencari nafkah keluarga kembali berada di pundak ayah. Hal ini akan terealisasi dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam.

Bersamaan dengan itu, sistem Islam akan menghentikan program penanggulangan penyakit yang merupakan agenda penjajahan, dan justru membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu dengan membatalkan berbagai kesepakatan dan kerjasama dengan lembaga internasional serta bantuan pembiayaan kesehatan dari pihak asing. Sebab, demikianlah perintah Allah Swt dalam QS. an-Nisa’: 141.

Termasuk bagian penting dari pola hidup sehat keluarga adalah kemudahan untuk mengobati berbagai penyakit yang diderita. Sistem Islam akan mewujudkannya dengan membebaskan layanan kesehatan dari segala unsur kapitalisasi. Tidak hanya gratis dan mudah diakses oleh semua anggota masyarakat, tetapi juga berkualitas yaitu cepat dan tepat dalam pengobatan menurut syariah Islam. Sistem Islam mampu mewujudkan semua itu antara lain dengan cara mengelola Baitul Mal secara efektif. Melalui penerapan sistem Islam-lah, yang hanya dengannya kebiasaan hidup keluarga yang sehat akan terwujud. Wallahua’lam bish-shawab[].

Oleh: Tawati

Penulis adalah Seorang Pengamat Masalah Anak dan Remaja

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA