Menilai Kualitas BPR

Citizen Journalism

Kamis, 3 Oktober 2019 | 12:30 WIB

191003123659-menil.jpg

dok

ilustrasi

”BRI dan BCA turun, ini bunga deposito di bank-bank besar” begitu judul berita di kompas.com, Rabu 2 Oktober 2019. Biasanya penurunan bunga deposito akan diikuti dengan penurunan oleh bank-bank umum lainnya. Maka BPR (Bank Perkreditan Rakyat) kejatuhan rejeki nomplok karena banyak nasabah bank umum yang memindahkan depositonya ke BPR yang suku bunganya lebih tinggi.

Bagi mereka yang ingin memindahkan depositonya, pesan saya hati-hatilah karena sering muncul berita di media massa tentang BPR yang sedang mengalami kesulitan keuangan.

Jangan sampai mengharapkan hujan turun dari langit air di tempayan dicurahkan. Jangan sampai deposito sudah terlanjur dipindah ternyata susah sekali diambil bunga maupun pokoknya.

Jangan tergiur pada BPR yang gedungnya megah karyawatinya cantik dan banyak memberi hadiah. Pilihlah BPR yang sehat luar dalam dengan cara meneliti kinerjanya.

Untuk mengetahui kinerja BPR tentu harus membaca laporan keuangan yang pada umumnya banyak diantara kita kurang memahaminya. Tetapi jangan kuatir ! Situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki laporan keuangan BPR yang lengkap dengan rasio-rasionya sehingga untuk menilai kinerja BPR cukup dengan melihat rasio-rasio tersebut.

Untuk melihat situs OJK dengan mempergunakan laptop, di google pada search the web ketiklah  Laporan Publikasi Perbankan - OJK sehingga muncul tampilan pilihan beberapa judul. Pilihlah (klik) judul Laporan Publikasi Perbankan – OJK sehingga muncul tampilan Laporan Publikasi Bank Umum Konvensional.

Selanjutnya masih dalam tampilan tersebut pilihlah BPR Konvensional sehingga muncul tampilan Laporan Publikasi BPR Konvensional. Pada kolom Periode Laporan isilah dengan tribulan yang terakhir (pilih Maret, Juni, September atau Desember).  

Pada kolom Propinsi, Kota/Kabupaten, Bank isilah yang Anda inginkan. Selanjutnya pada kolom Laporan pilihlah (dengan memberi tanda v) Laporan Informasi Lainnya, kemudian klik Tampilkan sehingga muncul tampilan Laporan Publikasi Triwulanan Laporan Informasi Lainnya dari BPR yang ingin Anda lihat.

Pada butir 4 dari laporan tersebut nampaklah Rasio-Rasio % yang menunjukkan kualitas kinerja BPR tersebut yang akan saya bahas dibawah ini.

a. NPL net. Pada kolom Jumlah nampak angka yang menunjukkan rasio NPL net. Bila kolom Jumlah tidak nampak maka geser tampilan layar ke kiri atau kecilkan ukuran layar menjadi 90% atau 80% sehingga kolom Jumlah menjadi kelihatan. Rasio NPL net adalah ukuran ketidak-mampuan jumlah kredit bermasalah net (netto setelah dikurangi jumlah cadangannya) dalam mengembalikan Jumlah Kredit Yang Diberikan.

Semakin besar rasio NPL net semakin besar ketidak-mampuan dalam mengembalikan Jumlah Kredit Yang Diberikan baik pokok maupun bunga. Umumnya rasio NPL net akan disebut masih cukup sehat bila berada diantara 1 sampai 4, sedangkan rasio 5 keatas berarti tidak sehat.

b. KPMM singkatan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum adalah rasio perimbangan modal sendiri (jumlah ekuitas) terhadap ATMR atau Aktiva Tertimbang Menurut Resiko. KPMM ditetapkan oleh OJK sebesar minimal 12% dari ATMR; artinya setiap BPR mengeluarkan pinjaman 100 maka harus dikeluarkan dari modal sendiri minimal 12 dan dari modal luar maksimal 88.

Bila KPMM kurang dari 12 jangan mengeluarkan pinjaman, harus menunggu dahulu sampai ada nasabah yang membayar pinjaman atau mengambil simpanan. Untuk mengetahui besarnya KPMM maka BPR setiap hari harus membuat neraca harian dan menghitung kecukupan modal.

KPMM kurang dari 12 tidak baik, tetapi terlalu banyak juga berlebihan karena dapat dianggap tidak laku dalam memasarkan pinjaman. Maka KPMM yang cukup longgar atau memadai berada di kisaran 20.

c. LDR atau Loan Deposit Ratio adalah ukuran kemampuan BPR dalam melaksanakan fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana pihak ketiga untuk dilemparkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman bagi yang membutuhkan.

Pada umumnya LDR dibawah 70 dianggap hanya mampu menghimpun simpanan tetapi tidak mampu memasarkan pinjaman.

d. ROA (Return On Asset) adalah ukuran kemampuan BPR dalam melaksanakan fungsi efisiensi yaitu efisien dalam mengeluarkan biaya-biaya dan efektif dalam setiap pengadaan aset untuk mencapai laba setinggi-tingginya.

Semakin tinggi ROA akan semakin baik/sehat. ROA sebesar 1,50 masih dianggap cukup baik. Apabila BPR menderita rugi maka tercermin dalam ROA yang rasionya dibawah 1 persen.

e. KAP (Kualitas Aktiva Produktif) adalah ukuran ketidak-mampuan dari prosentase tertentu jumlah kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan, macet) dalam mengembalikan Jumlah Aset Produktif (Pinjaman Yang Diberikan + Penempatan Di Bank Lain).

Semakin besar rasio KAP semakin besar ketidak-mampuan kredit bermasalah dalam mengembalikan Jumlah Aset Produktif. Umumnya KAP sebesar 7,50 masih dianggap cukup sehat.

f. PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) adalah rasio besarnya cadangan penghapusan terhadap prosentase tertentu dari kredit bermasalah.

Rasio di bawah 100 dianggap belum semua kredit bermasalah dicadangkan penghapusannya dengan maksud untuk menghindari beban/biaya cadangan; bila demikian halnya maka laba yang diperoleh dianggap laba semu karena terdapat biaya yang belum dibukukan.

g. BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) adalah rasio untuk mengukur efisiensi. Semakin tinggi rasio BOPO semakin tidak efisien dalam mengeluarkan biaya. Pada umumnya BOPO 75 masih dianggap cukup baik. Bila BOPO mencapai 100 lebih berarti hasil usaha BPR telah mengalami kerugian.

h. Cash Ratio adalah ukuran kemampuan sisa kas ditambah simpanan di bank lain untuk membayar jumlah kewajiban jangka pendek. Pada umumnya cash ratio dibawah 5 dianggap tidak baik, kisaran 5 sampai 10 ketat, diatas 10 sampai 30 longgar, dan diatas 30 dianggap hanya mampu menghimpun simpanan tetapi tidak mampu memasarkan pinjaman sehingga hasil simpanan dari nasabah hanya menumpuk dalam simpanan di bank lain.

Hal ini dapat dilihat dari besarnya saldo pos Penempatan Pada Bank Lain yang begitu besar sampai melampaui jumlah pinjaman yang diberikan.

Nah kini terserah Pembaca. Apakah cukup puas setelah mengetahui nilai kinerja BPR pilihan Anda sehingga akan menyimpan deposito di BPR tersebut atau akan mencoba mengamati BPR lain yang barangkali kinerjanya lebih baik.


Pengirim:
Sudjoko
Pemerhati BPR
sudjoko47@yahoo.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA