Gestapu 2019: Bandung Lautan Aksi

Citizen Journalism

Rabu, 2 Oktober 2019 | 12:10 WIB

191002121332-gesta.jpg

dok

ilustrasi

ARLOJI di tangan menunjukkan pukul 23.56 WIB ketika motor kupacu melewati Gasibu Bandung. Terlihat pecahan kaca dan batu-batu berserakan. Aroma khas zat-zat kimia yang biasa kuhirup di rumah sakit tiba-tiba menusuk ke hidung.

Saat mataku mulai perih dan berair, baru sampai di pemahamanku bahwa ini karena sisa-sisa gas air mata. Gila, hampir lima jam berlalu sejak ketegangan mereda dan sekarang mataku masih merasakan begini perihnya.

Bagi anda yang belum tahu, tanggal 30 September 2019, aliansi rakyat menggugat wakil rakyat (lagi). Sejak siang, aksi berlangsung kondusif, di depan kantor DPRD Jawa Barat, Bandung. Namun, bentrokan akhirnya pecah ketika matahari hampir terbenam.

Massa aksi lari tunggang langgang disudutkan aparat. Kericuhan pun meluas sampai ke depan Gedung Sate. Aku yang berada di dekat keramaian pun melihat, bagaimana gas air mata menghujani kami.

Kami mundur, mereka mengejar. Kami bersembunyi, mereka mencari. Sampai di Jalan Surapati, kami pun jadi berani lantaran terlanjur sakit hati. Kawan-kawan lantas mulai bernyali melempar batu pada polisi.

Hari sudah gelap dan aksi telah berubah anarki. Malam itu, Bandung masih menyala oleh ledakan dan seruan mereka yang terlibat bentrokan. Ah, kenapa jadi begini? Tak perlu lah Bandung sampai jadi lautan api!

Mataku yang tidak dilindungi pasta gigi sudah semakin perih. Aku yang terlalu kecut memilih cabut dari 'medan perang' itu. Kurang lebih pukul sembilan belas, sebagian massa aksi mulai mundur dan mengamankan diri ke arah Jalan Merak menuju Monumen Perjuangan.

Kerumunan manusia mulai terurai berbaur dengan kendaraan yang lebih ramai. Sepanjang Jalan Merak, Jalan Titiran sampai Japati penuh sesak kendaraan roda dua dan roda empat yang menghindari Jalan Surapati. Mereka yang datang dari berbagai penjuru pun terjebak. Buntu.

Ah, aku sampai terlupa bahwa tujuan ku kemari bukan untuk ikut unjuk rasa. Agaknya aku terlalu larut dalam 'penderitaan' massa aksi. Ku langkahkan kaki menuju Dipatiukur karena di sana aku telah memiliki janji.

***

Ketika selesai tanggung jawabku, baru aku leluasa membuka ponsel. Termenung aku mendapati kabar, lebih dari 200 orang yang terpukul mundur tadi sore harus mendapatkan perawatan. Puluhan harus dilarikan ke rumah sakit karena efek trauma, luka akibat benda tumpul, bahkan ada yang tertembak peluru karet di kepala hampir mengenai mata. Gila!

Padahal berdasarkan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 1 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian dan seperti penjelasan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo merujuk berita Liputan6.com (24/5) berjudul 'Begini Tahapan Penggunaan Peluru Tajam Polisi untuk Atasi Demo Anarkis', bahwa peluru karet harus ditembakkan memantul dengan sudut ideal 15 derajat.

Bukan satu atau dua mahasiswa yang telah gugur akibat tertembak peluru karet dalam berbagai runtutan aksi seminggu ke belakang. Mengutip dari berita Kumparan.com (23/5) berjudul 'Kenapa Peluru Karet Bisa Mematikan?', menurut sebuah penelitian kepada hampir dua ribu orang yang pernah tertembak peluru karet, 3% meninggal dan 15% mengalami cacat permanen. Angka yang signifikan mengingat peluru karet digunakan dengan alasan keamanan (katanya).

Ditegaskan pula oleh satu produsen senjata berpeluru karet asal Slovenia, Arex, untuk selalu membidik tubuh target bagian bawah dan dilarang menargetkan bagian vital seperti leher apalagi kepala.

Bagi saya, ketika ada rekan seperjuangan yang sampai tertembak dengan kondisi demikian, kemungkinannya hanya dua. Pertama, oknum penembak tidak mengerti SOP yang telah saya rujuk di atas, atau kedua oknum tersebut dengan sadar mengabaikannya. Bijak sekali bukan pengayom kita?

Tidak hanya itu, ada pula informasi tentang posko medis yang ikut ditembaki gas air mata. Apa ya kira-kira alasannya? Belum lagi mereka yang mungkin saja sampai sekarang belum kembali, entah berada di (kantor polisi) mana. Jika demikian, lantas kita harus mengadu pada siapa? Apakah kepada polisi?

***

Tak terasa motorku telah memasuki wilayah Ujungberung, tapi entah kenapa mata ini masih sembap dan berair. Awalnya ku kira masih ada pengaruh gas air mata yang tersisa. Namun ternyata, ini karena memuncaknya rasa kecewa ku, pada mereka yang kian semena-mena dengan kuasanya.

Referensi dan hyperlink:

https://www.liputan6.com/news/read/3974421/begini-tahapan-penggunaan-peluru-tajam-polisi-untuk-atasi-demo-anarkis

https://kumparan.com/@kumparannews/kenapa-peluru-karet-bisa-mematikan-1r8PasmtMLu

 

Pengirim:
Y. I. Wicastya
Mahasiswa Fikom Unpad
wicastya@gmail.com

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA