Resensi Buku: Peningkatan Pendidikan Tinggi Islam Pada Knowledge Era

Citizen Journalism

Sabtu, 28 September 2019 | 08:58 WIB

190928090205-resen.jpg

Judul: Manajemen Pendidikan Tinggi Berbasis Nilai-Nilai Spritual
Penulis: Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si.
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Terbitan: Januari 2019
Halaman: 308

Jamak ditemukan, terutama dalam benak orangtua peserta didik khususnya dan masyarakat secara umum, bahwa jalur pendidikan formal adalah tumpuan harapan utama mencerdaskan peserta didik. Akan tetapi, seiring dinamika sosial pada masyarakat modern mutakhir, tumpuan tersebut seolah tak lagi relevan.

Kini, tuntutan berkembang bahwa selain melahirkan kecerdasan, pendidikan formal (terutama di perguruan tinggi), juga jadi harapan masyarakat guna menghasilkan lulusan yang siap dan kompeten dalam menghadapi kehidupan.

Dalam bahasa lain, peserta didik siap dan dapat diterima di dunia kerja, bahkan mampu membangun lapangan kerja sendiri guna pengembangan kehidupan lebih baik. Situasi ini dirasa tidak muluk seiring eksisting zaman Abad ke-21, yang menurut Begawan Ilmu Manajemen, Peter Drucker, telah masuk fase sempurna knowledge era.

Paralel dengan itu, ada dua premis lain yang layak dicatat --sebagai sebuah pijakan awal dari buku karya Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, dua periode ini. Pertama, Trilling dan Hood (1999) menekankan, bahwa fokus utama pendidikan abad ke-21 adalah bagaimana ia mampu mempersiapkan hidup dan lapangan kerja bagi masyarakat.

Kedua, jauh sebelum itu, Makagiansar (1996) juga telah memprediksi --rerata akurat-- tentang perubahan paradigma pendidikan tersebut. Antara lain fokus pembelajaran berubah dari penguasaan pengetahuan menjadi pembelajaran holistik, dan perubahan hubungan guru-murid dari konfrontatif ke mitra, perubahan pengajaran akademik ke keseimbangan nilai pendidikan.

Dua premis ini kemudian dibenturkan pada realita, terutama pada ruh buku ini yakni kondisi perguruan tinggi keagamaan Islam. Di mata penulis buku, ada beberapa situasi yang menggambarkan belum selaras-nya perubahan tuntutan masyarakat tadi dengan mayoritas kenyataan sesungguhnya di lapangan.

Sekalipun jumlahnya terbesar di dunia, kampus Islam dinilainya belum merata secara kualitas. Kompetisi hiper sesamanya sebagai imbas jumlah jumbo tadi, tidak/belum diimbangi kesiapan perguruan tinggi untuk bersaing, terutama pada era kompetisi cenderung kurang sehat. Imbasnya, banyak kampus Islam swasta terancam ditutup sehingga merugikan masyarakat.

Kondisi berikutnya adalah perguruan tinggi tersebut belum menjalankan program penjaminan mutu pendidikan, kualifikasi akreditasi program studi, serta standar perkembangan pendidikan secara memadai. Pangkal masalahnya adalah kekurang modalitas, baik keuangan maupun sumber daya manusia, sehingga lulusannya tidak kompetitif.

Situasi ini diperkeruh, kita sebut saja status klise dari perguruan tinggi Islam yang asyik masyuk pada posisi menara gading --juga lazim ditemukan pada perguruan tinggi umum. Alias keilmuan secara akademik apalagi implementasinya tak berasa di masyarakat karena sikap elitis untuk tidak "turun gunung" menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Alih-alih karasa jeung karampa, tugas tridharma kampus (pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat) tercipta elitis dan ekslusif.



Atas situasi-situasi tersebut, buku ini menjadi menarik ditelaah. Baik dari kontribusi pemikiran teoritik maupun penjabaran dari sisi explicit knowledge dari Sang Rektor yang telah berhasil membawa akreditasi insitusi UIN Bandung pada rangking level utama, A. Pembaca akan disuguhkan penjabaran akademis soal manajemen pendidik yang komprehensif (di tiga bab awal) maupun sisi praktis dengan penuh representatif sekaligus bertenaga dijelaskan.

Contohnya adalah penjelasan komprehensif tentang tujuh upaya manajerial peningkatan penyelenggaraan pengajaran di lembaga pendidikan tinggi keislaman. Dengan latar belakang lainnya sebagai guru besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung, pria asal Bekasi ini menjabarkan secara runtun, detil, serta applicable. Terasa benar bahwa temuannya soal menara gading yang elitis, bisa dipatahkannya secara langsung dalam tulisan.

Tambah lengkap karena Prof Mahmud juga menggenapi tentang langkah perbaikan ini dengan enam tinjauan perspektif Islam tentang manajemen pendidikan tinggi. Tiap perspektif tersebut (Keadilan Kesetaraan, Kejujuran, Kerja Keras, Efektivitas dan Efisiensi, Kepemimpinan dan Musyawarah, serta Merit dan Kompetensi) menyertakan ayat Qur'an yang relevan. Kiranya ini pun sesuai dengan semboyan yang dipimpinnya sekira kurang lebih empat tahun terakhir; Wahyu Memandu Ilmu.

Sedikit masukan resensor sebagai pembaca, kiranya buku ini akan lebih paripurna sekira ayat tersebut disandingkan langsung dengan masukan peningkatan tadi. Artinya, tiap langkah akademik dan praktis perbaikan pendidikan tinggi, selanjutnya dibedah langsung dengan Kalamullah tersebut. Bukan disimpan terpisah pada Bab V dan V buku ini.

Selain itu, sejumlah temuan-temuan konstruktif tentang kekurangan kampus Islam ini juga dalam beberapa kesempatan berulang dibahas dalam tarikan tema sama namun redaksional sedikit berbeda. Beruntungnya, hal ini sangat tertutup dengan cara penulisan yang sangat enak dibaca, mengalir, dan perlu. Selain tentunya yang dibahas di atas tadi, bahwa buku ini memberikan pemikiran teoritik dan praktis akan perbaikan mutu pendidikan. Ya, agar lulusan perguruan tinggi mampu hidup bahkan menyiapkan lapangan kerja bagi masyarakat pada knowledge era ini. Insya Allah.  

Penulis:
Muhammad Sufyan Abd,
Mahasiswa S3 Religion Studies UIN SGD Bandung angkatan 2017
Dosen Digital PR Telkom University
sufyanbandung@gmail.com

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA